RAMSES TOBING, Pontianak
PASAK Piang merupakan desa di Kubu Raya. Mengutip dari satu data Kalbar, jumlah penduduk 3.238 jiwa. Sementara jumlah kepala keluarganya 869. Ini berdasarkan data yang ter-update 30 Juni 2020.
Perjalanan menuju ke desa ini melalui jalur darat dan kemudian menyeberangi sungai. Bila ke sana harus menyeberangi sungai yang membelah Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang. Waktu tempuhnya sekitar satu setengah jam, bila perjalanan dimulai dari Pontianak.
Cerita kebun kopi datang dari Randi. Pemuda Dusun Banyuatis yang sedang menyelesaikan studi akhirnya di Fakultas Ilmu Politik, Universitas Tanjungpura.
Pria berusia 24 itu memiliki kebun kopi. Milik orangtuanya. Usia kebun kopi itu diperkirakan 20 tahun. Panjangnya 100 depa. Bukanya 12,5 depa. Kebun itu lama tak diurus. Ditinggalkan begitu saja. Kopi yang dikelilingi semak belukar dan pohon getah tetap tumbuh subur.
Karena tak terawat hasil panen tak banyak. Sebulan hanya 10 kilogram kopi yang didapat. Itu campuran. Buah yang berwarna merah dan hijau. Jika dijual begitu saja harganya sekitar Rp26 ribu per kilogram. Harganya bisa naik jika sudah disangrai. Bisa mencapai Rp40 ribu per kilogram.
“Hasil panennya campuran dan dijual ke tetangga di dekat kebun,” kata Randi saat menemani saya melihat kebun kopinya, Sabtu (19/3) pagi.
Randi tertarik meremajakan kembali kebun kopi karena melihat potensi bisnis dari komoditas ini. Menurutnya, jumlah kedai kopi yang terus bertambah maka secara tidak langsung kebutuhan kopi juga bertambah.
Apalagi ia memiliki kebun kopi sendiri. Sehingga tidak harus mulai dari awal untuk menanam. Hanya tinggal melakukan peremajaan. Ketertarikannya itu semakin menguat setelah mengikuti pelatihan UMKM. “Potensinya lumayan karena kedai kopi saja bertambah,” kata Randi.
Randi yakin jika dirawat maka hasilnya bisa lebih banyak. Sebab, ketika kopi masih menjadi primadona di Desa Pasak Piang, hasil panen pernah sampai 500 kilogram per bulan.
Karena itu, ia rencananya akan mengelolanya sendiri. Mulai dari membersihkan areal kebun dari semak-semak. Kemudian memilah buah yang bisa dipanen. Nanti akan dibuat di-brand dan memasarkan di seputaran Pontianak dan Kubu Raya.
Randi bercerita dulunya kopi adalah tanaman unggulan masyarakat. Sebagian besar masyarakat menanam komoditas ini dan berdampingan dengan karet. Saat itu sekitar tahun 2007-2009. Harga kopi berkisar belasan ribu per kilo. Dari sisi harga kopi relatif lebih stabil. Harganya tidak tiba-tiba melonjak naik dan turun.
Beberapa tahun kemudian harga sahang melonjak naik. Sempat tembus Rp170.000 per kilogram. Jauh lebih tinggi dari harga kopi. Harga jual ini yang kemudian membuat masyarakat tertarik berganti komoditas tanam. Selain karena harga, proses produksi yang juga menjadi alasan. Menurutnya untuk menghasilkan kopi yang siap jadi butuh waktu lebih dari dua pekan. Beda halnya dengan sahang. Prosesnya tidak banyak. Hanya dipanen, rendam dan kemudian dijemur baru siap dijual.
Dua hal itulah masyarakat kemudian mengubah kebun kopi menjadi sahang. Pohon-pohon kopi yang sudah ditanam ditebang. Kemudian ditanami sahang. Namun ada juga yang tetap. Dibiarkan begitu saja. Sementara lahan yang masih kosong ditanami sahang.
Komoditas sahang tak begitu lama. Harga yang tinggi kemudian turun. Saat ini harga Sahang Rp40 ribu per kilogram. Daya tahan tanaman juga menjadi persoalan. Sahang tidak tahan terhadap banjir. Tanaman ini mati. Sementara kopi tetap tumbuh seperti biasa. “Jadi kebun kopi yang masih ada sampai sekarang sisa-sisa lama,” cerita Randi.
Randi melanjutkan dulunya masyarakat biasa memproduksi kopi sendiri. Kopi biasanya dicampur beras dan untuk minuman sehari-hari. Perbandingannya satu canting kopi dan setengah canting beras.
“Sekarang karena tidak lagi mengolah sendiri, masyarakat sudah mulai beli bubuk kopi,” kata dia.
Masyarakat lainnya, Surat. Pria berusia 61 tahun ini mengatakan yang ditanam masyarakat merupakan kopi lokal. Jenisnya robusta. Hanya saja tidak terlalu diurus lantaran masyarakat memilih komoditas lainnya.
Ia mengatakan tekstur tanah di Pasak Piang cocok untuk menanam kopi. Beda halnya dengan lahan gambut. Tidak cocok untuk menanam kopi. “Dulu orang budidaya kopi dan dijual bisa beli kebun,” kata Surat. (*) Editor : Syahriani Siregar