Khazanah Kearifan Lokal, Butuh Pembinaan untuk Pengembangan !
PONTIANAK - Kampung Kumpang Ilong mendadak dikenal luas ketika diumumkan sebagai satu, dari tujuh karya budaya Kalbar sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia pada tahun 2020 silam di sidang penetapan WBTb. Tenun Ikat Kumpang Ilong adalah tenunan tradisional Kabupaten Sekadau yang diperkirakan berusia lebih 170 tahun. Meskipun dikenal meluas, tetap saja ganjalan ada menimpa nasib para penenunnya ?
Itu dikatakan oleh Hendri Makaluasc, anggota DPRD Kalbar yang baru dilantik belum lama ini. "Kita patut berbangga sekali bahwa Kumpang Ilong di Balai Sekuak, Belitang Hulu, Kabupaten Sekadau, sebagai salah satu kampung penghasil tenun ikat turun temurun. Meskipun dibina pemerintah Kabupaten Sekadau dan disematkan Penghargaan Budaya Tak Benda Indonesia, oleh pemerintah pusat, tetap saja ada ada hal yang harus dibantu," ucap politisi Gerindra asal Kabupaten Sekadau ini.
Menurutnya tenun ikan binaan bu Desi ini, memang tengah membutuhkan bantuan pemerintah atau bapak angkat untuk lebih dikenal luas keluar. Apalagi modal penenun dan pembina memang terbatas. Sementara perempuan desa di sana sebagian sudah diplot dan dilatih menenun kain kebanggaan warga setempat.
"Di satu sisi menenun merupakan peluang membudayakan tenun asal kabupaten Sekadau. Hanya saja harapan mereka (penenun), butuh bapak angkat atau bapak pembina. Alasannya selain bahan baku terbatas, peralatan penunang belum memadai. Belum lagi berbagai masalah hal lain," katanya.
Peralatan dan bahan baku yangb jadi ganjalan, ternyata pasaran Tenun Ikat Kumpang Ilong juga membutuhkan uluran tangan. Pasarannya sampai keluar daerah, belum terlalu signifikan. Padahal penenun di sana kreatif dan berharap tenunan asli ini menjadi penunjang kehidupan keluarnya.
"Saya sudah dengar bagaimana bu ketuanya terus memberikan arahan dan semangat untuk terus melestarikan sekaligus menjadikan produk dikenal luas. Kami (DPRD Kalbar) sendiri siap memberi suport agar tenun kebanggaan warga Sekadau ini tidak pelan-pelan hilangb dan mati karena keterbatasan tersebut," ucapnya.
Tenun Ikat Kumpang Ilong sendiri merupakan nama kampung yang sekarang sudah menjadi Desa, dimana tempat asal muasal tenun ikat ini dibuat. Tenun Ikat Kumpang Ilong merupakan tenunan tradisional Kabupaten Sekadau dan diperkirakan berusia 170 tahun lebih. Tenun ikat ini hanya terdapat di Dusun Kumpang Ilong Kecamatan Belitang Hulu Kabupaten Sekadau.
Bukan hanya dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, terkadang juga digunakan untuk upacara adat, seperti upacara adat pernikahan, gawai, dan sebagainya.
Motif-motif Tenun Ikat Kumpang Ilong umumnya beragam. Ada motif Pelintang Kiarak. Pelintang sendiri dalam Bahasa Indonesia adalah dahan. Sementara Kiarak adalah jenis pohon kayu ara. Motif lain yang cukup dikenal adalah Daun Wi atau danau rotan.
Sementara motif Engkrebang Puang juga punya ciri khas sendiri. Engkrebang adalah jenis daun. Puang dalam Bahasa Indonesia berarti kosong
Nah, motif lain paling mencolok adalah Lingkok Petara. Lingkok adalah bengkok, yang dalam Bahasa Indonesia diambil dari lengkungan daun pakis. Untuk petara artinya Tuhan.
Ketua Pembina Tenun Ikat Kumpang Ilong, Desi P bercerita kepada Hendri bahwa pada zaman dahulu membuat Tenun Ikat Kumpang Ilong, benang yang dipakai penenun dihasilkan dari buah pisang kurak atau buah nenas. Untuk menghasilkan warna benang, diambil dari daun-daun engkrebang, engkraput, batang buah mengkudu, bunyah atau kapur sirih yang digunakan sebagai pelekat. Sementara sekarang, benang yang digunakan sudah menggunakan benang hasil pabrik termasuk pewarna kimia.
Disebut Tenun Ikat Kumpang Ilong sengaja untuk membedakan setiap motifnya. Tujuannya juga supaya tak tercampur dengan warna dasar kain. Jadi setiap motif kain selalu dibungkus dan diikat terlebih dahulu dengan menggunakan daun lembak. Zaman sekarang mempermudah pekerjaan motif, dikerjakan dengan dibungkus dan diikat menggunakan tali rapia.(den) Editor : Yulfi Asmadi