Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ubah Ratusan Kilogram Sampah Organik jadi Pakan Ternak

Syahriani Siregar • Minggu, 30 Oktober 2022 | 22:06 WIB
Maggot yang menjadi pengurai sampah organik (Istimewa)
Maggot yang menjadi pengurai sampah organik (Istimewa)
Volume sampah di Kota Pontianak mencapai 500 ton per hari. Dari jumlah itu, hampir 80 persen adalah sampah organik. Hal ini menarik perhatian Syamhudi. Di tangan Syamhudi bersama teman-temannya, limbah tersebut mendatangkan uang. Yakni, diolah menjadi pupuk dan pakan ternak.

Ramses Tobing, Pontianak

Syamhudi dengan santai memasuki salah satu pasar tradisional di Kota Pontianak. Namun, dia tak mendatangi lapak para penjual, melainkan menuju tempat sampah-sampah atau limbah pasar di kumpulkan. Tak ada roman geli di wajahnya. Perlahan Syamhudi mengambil sampah organik di sana. Kemudian, mengumpulkannya. Lantas, beranjak pergi.

Aktivitas ini dilakoni Syamhudi sejak 2019. Syamhudi adalah Ketua Kreasi Sungai Putat (KSP). Sebuah komunitas di bilangan Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, yang menjadi wadah diskusi warga yang peduli lingkungan. Ada delapan orang yang bergabung dalam komunitas ini.

“Awalnya pada tahun 2019. Melihat sampah banyak, kemudian saya bersama teman-teman komunitas berniat membudidayakan maggot,” jelas Syamhudi.

Langkah awal yang mereka lakukan adalah mengambil sampah dari sumbernya. Mulai dari pemukiman penduduk, tempat usaha, hingga pasar tradisional.

“Yang diambil adalah sampah organik,” ujar Syamhudi.

Setelah kegiatan pengambilan sampah berlangsung, mereka baru menyadari bahwa sampah cukup banyak di Kota Pontianak. Hal ini senada dengan catatan Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak. Instansi tersebut mencatat volume sampah satu hari mencapai 500 ton. Terbanyak adalah sampah organik. Volumenya berkisar 70 persen hingga 80 persen. Dan, daur ulang masih terfokus pada sampah non-organik. Namun, hanya mampu mendaur ulang sekitar 30 persen saja oleh bank-bank sampah.

Photo
Photo
Pekerja sedang menyiapkan sampah-sampah organik yang menjadi pakan maggot. (IST)

“Ternyata baru sadar kalau sampah organiknya cukup tinggi. Sebanyak 70 persennya tidak ada yang menginisiasi penanganan atau pengelolaan sampah organik,” kata Syamhudi.

Dia mencontohkan sampah dari pasar. Biasanya sampah diambil setiap minggu menggunakan tossa. Tak tanggung-tanggung, sekali angkut volume sampah organiknya mencapai 450 kilogram. Belum lagi sampah dari perumahan warga.

“Sampah lainnya dari perumahan warga. Ada 500 rumah yang menjadi langganan bank sampah. Sekali ambil sekitar 70 kilogram hingga 100 kilogram per hari. Sumber lainnya dari warung kopi atau café. Volumenya tak besar. Sekitar 10 kilogram,” jelas Syamhudi.

Dia menyatakan sampah yang diambil dari sumber hanya 0,1 persen dari total volume sampah di Kota Pontianak. Jika ditotal berkisar 5 ton per bulan. Namun demikian, sudah membantu mengatasi menumpuknya sampah organik.

“Caranya dengan skema dekomposer,” ungkapnya.

Dengan skema dekomposer sampah-sampah organik itu benar-benar terurai. Tidak ada yang tersisa. Jika pun ada, sisanya itu dijadikan pupuk kompos untuk tanaman. Pengurainya adalah maggot.

Syamhudi menuturkan alurnya dari Lalat Black Soldier Fly (BSF) atau nama lainnya Tentara Hitam yang bertelur setelah proses perkawinan. Telur kemudian menetas, menjadi maggot. Persatu gram telur bisa menjadi dua kilogram maggot dewasa.

Photo
Photo
Maggot sedang memakan sampah organik. (IST)

Proses pembesarannya di wadah yang disebut biopon. Ukuran idealnya disesuaikan dengan demplot. Satu biopon umumnya berukuran 1x2 meter dengan ketinggian 15 centimeter. Wadah seukuran itu bisa menampung telur Lalat BSF sebanyak 20 kilogram.

Sampah organik itu dimasukkan dalam biopon yang menjadi sumber pakan untuk pembesaran maggot. Per gram telur membutuhkan pakan 25 kilogram selama 20 hari. Sementara persatu gram telur itu bisa menjadi dua kilogram maggot dewasa. Masa paling rakus saat berumur 10 hari hingga 20 hari. Setelah sampai 30 hari maggot dewasa berubah warna masuk pada fase kepompong. Tahapan ketiga untuk menjadi lalat kembali.

Sampah organik yang dimakan maggot itu menjadi pupuk organik. Warnanya sudah hitam dan tidak beraroma. Sementara maggot menjadi pakan ternak alternatif. Seperti bebek, ayam, dan ikan. Sehingga maggot tidak hanya menjadi pengurai tapi juga pakan alternatif. Sedangkan sisa dari sampah yang diurai menjadi kompos.

“Dengan dekomposer maggot ini punya nilai tambah. Tidak hanya mengatasi masalah sampah dan lingkungan tapi juga kebutuhan pakan ternak dan pupuk di tingkat petani,” jelas Syamhudi.

“Jadi tidak ada yang tersisa. Ada siklus manfaat yang berjalan dari budidaya ini,” sambung Syamhudi.

Kendati demikian, bukan berarti semuanya berjalan lancar. Ada tantangan yang dihadapi Syamhudi. Yakni, tempat untuk pengembangan kawasan adalah salah satu tantangannya. Jika budidaya ini dikelola di kawasan pemukiman, jangan sampai mencemari lingkungan lainnya. Sehingga perlu dukungan pengembangan kapasitas skala besar. Dalam hal ini dari Pemerintah Kota Pontianak.

“Kami mendorong juga pemerintah kota untuk mengembangkan kapasitas skala besar dan dilakukan dengan serius. Minimal bisa mengurangi 50 persen sampah organik dari volume hariannya,” terang Syamhudi.

Syamhudi menyatakan Pemerintah Kota Pontianak sudah merespon dengan baik. Antara lain membuat rumah-rumah maggot di beberapa titik. Pertama, di kawasan Tempat Pembuangan Akhir sampah, Batu Layang. Tempat lainnya Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle, Purnama, Pontianak Selatan dan Jalan Karet. Namun, kapasitas produksinya belum terlalu tinggi.

Syamhudi berharap Pemkot tidak ragu untuk mengembangkannya. Jika dikembangkan secara massif memiliki banyak manfaat. Tidak hanya sebagai cara mengurangi volume sampah organik. Tapi bisa memenuhi kebutuhan pupuk bagi petani. Apalagi ini merupakan pupuk organik. Begitu juga dengan kebutuhan pakan ternak terpenuhi.

“Tidak hanya masalah sampah organik yang teratasi, tapi tentu bisa menjadi tambahan pendapatan daerah bagi pemerintah daerah asal dikelola dengan baik,” kata Syamhudi.

Dia menambahkan keterlibatan masyarakat juga sangat penting. Minimal adanya kelompok masyarakat di tingkat RW yang mengelola sendiri sampahnya.

“Dengan catatan, sudah memiliki demplot masing-masing,” imbuhnya.

Dosen di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura Kustiati, menjelaskan bahwa maggot adalah larva lalat. Makanannya adalah sampah organik. Dari satu gram maggot mampu menghabiskan satu kilogram sampah.

Photo
Photo
Maggot adalah larva lalat yang membantu mengurai sampah organik. Dari satu gram maggot mampu menghabiskan satu kilogram sampah organik. (IST)

Kecepatan maggot dalam merombak sampah juga bergantung pada jenis sampahnya. Namun yang terpenting maggot mampu mengurai sampah organik. Sisa makanannya menjadi pupuk kompos, sehingga tidak ada yang terbuang percuma.

“Seharusnya sampah organik dari rumah tidak perlu keluar ke tempat pembuangan akhir. Sehingga bisa diolah dengan budidaya itu karena dari sisa makanannya atau buangannya akan menjadi pupuk,” kata Kustiati.

Lanjut Kustiati sedangkan maggot menjadi pakan ternak dan ikan karena menjadi sumber protein. Cara mengolahnya maggot dihancurkan dalam bentuk kering. Namun ada yang bisa langsung tanpa diolah lagi. Pada umumnya orang akan memanen maggot pada tahapan pre-pupa atau pupa. Pupa akan muncul menjadi lalat. Lalat akan bertelur. Seekor lalat betina bisa bertelur hingga 900 butir dalam sekali siklus reproduksi. Setiap gram telur akan menetas menjadi sekitar 4 kilogram maggot.

Telur akan menetas menjadi larva (maggot) yang makan bahan organik hingga besar dan memasuki tahap pupa dan menjadi lalat. Tetapi lalatnya bukan penyebar penyakit. Panennya dilakukan sekitar sebulan setelah peneluran.

Akademisi dari Universitas Tanjungpura Kiki P Utomo mengatakan banyak masyarakat belum menyadari bahwa sampah organik juga berbahaya. Sampah organik sering dilihat sebagai sisa dari proses pengolahan makanan. Padahal menjadi tempat paling baik berkembangbiaknya bakteri. Sampah organik bisa berpotensi penyebaran penyakit misalnya pencernaan atau mikroba yang tumbuh di sisa-sisa bahan organik. Kiki menyebutnya sebagai dampak jangka pendek.

Sedangkan jangka panjangnya dapat menyebabkan perubahan iklim. Jika dibuang di air, sampah ini akan dirombak oleh bakteri. Proses pembusukannya ini menyebabkan kualitas lingkungan, misalnya air. Kadar oksigen di air akan turun karena dipakai oleh bakter untuk energinya merombak sampah.

Kemudian hasil perombakan misalnya nitrogen dalam berbagai bentuk. Selain penurunan kualitas lingkungan. Jika lepas ke atmosfer akan menjadi gas rumah kaca sehingga menyebabkan perubahan iklim dalam jangka panjang.

Kiki mengatakan gas metana yang dilepaskan 1 ton sampah organik bervariasi tergantung pada banyak faktor komposisi sampah, kondisi sampah, kondisi lingkungan, jumlah bakteri pengurai dan lainnya, tapi seringkali ditaksir sekitar 50 kg per 1 ton sampah organik. Gas metana atau CH4 adalah salah satu gas rumah kaca yang menyebabkan efek pemanasan global. Dampaknya menyebabkan perubahan iklim global.

“Ini yang tidak disadari orang. Ketika buang sampah organik, juga membuat bumi dekat dengan perubahan iklim karena efek gas rumah kaca yang dilepaskan sampah organik,” kata Kiki.

Kiki melanjutkan budidaya maggot yang dilakukan bisa membantu menyelesaikan masalah sampah organik yang bisa saja memicu pencemaran lingkungan. Sampah organik adalah jenis yang sampah yang relatif tidak begitu sesulit seperti sampah non-organik. Jika ditangani dengan benar bisa bermanfaat. Seperti menjadi pupuk untuk memperbaiki kualitas tanah. Hanya saja belum banyak dilakukan.

“Maggot membantu kita mendapatkan banyak manfaat. Maggot merombak sampah organik. Kemudian maggot bisa sebagai sumber protein pada pakan hewan,” kata dia.

Ia menghitung jika 1 gram maggot bisa menghabiskan 1 kilogram sampah organik maka perlu 40 ribu hingga 50 ribu gram maggot atau 40 sampai 50 kilogram maggot jika ingin menghabiskan 40 sampai 50 ton sampah. Jika ada yang mau membeli atau mengkonsumsi maggot sebanyak itu maka sampah organik akan berkurang banyak.

Kendati demikian, lanjut Kiki, sudah banyak solusi untuk penanganan sampah. Sehingga budidaya maggot bukan hal yang baru. Hanya saja belum sampai pada trend mengolah sampah organik.

“Yang penting bukan hanya memberitahukan bagaimana mengolah sampah. Tapi mencari cara misalnya dari kelompok penggiat membuat orang punya pemikiran bahwa mengolah sampah tidak hanya pemerintah tapi juga tanggungjawab bersama sehingga itu menjadi berkelanjutan,” terang Kiki.

Kiki menyarankan sampah organik diolah dari sumber. Seperti menjadikannya pupuk kompos atau melalui cara budidaya maggot. Tetapi membutuhkan tempat yang memadai jika dilakukan pada kawasan permukiman. Jika tidak, dikumpulkan menjadi satu tempat. Lalu bersama-sama mengolahnya. Selanjutnya butuh kesiapan pemerintah untuk mengolahnya
dalam volume besar.

“Jadi dari sisi akademisi yang pertama bagaimana cara mengolah. Bagaimana cara bersama untuk memikirkan keberlanjutan ekonominya. Karena tanpa uang pengolahan sampah juga tidak bisa jalan. Teknologi sudah banyak sekali. Tinggal kebijakan dan kemauan. Pendekatan sosial dan politik yang kemudian dilakukan,” pungkas Kiki.** Editor : Syahriani Siregar
#ubah #pakan ternak #sampah organik