Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tularkan Hobi, Motivasi Kaum Urban Punya Kebun Hidroponik

Misbahul Munir S • Minggu, 30 Oktober 2022 | 09:59 WIB
Hidayat Akbar Kurniawan, salah satu pembudidaya hidroponik di Pontianak saat berada di kebunnya. Dari dulu sampai sekarang konsisten menularkan hobi hidroponiknya. (Syahriani/Pontianak Post)
Hidayat Akbar Kurniawan, salah satu pembudidaya hidroponik di Pontianak saat berada di kebunnya. Dari dulu sampai sekarang konsisten menularkan hobi hidroponiknya. (Syahriani/Pontianak Post)
Hidroponik bukanlah suatu konsep yang baru di bidang agrikultur, namun metode tersebut bisa menjadi pilihan kaum urban bercocok tanam. Sifatnya yang ramah lingkungan cocok diterapkan masyarakat perkotaan menjadi gaya hidup yang berkelanjutan. Hidayat Akbar Kurniawan, salah satu pembudidaya hidroponik di Pontianak, dari dulu sampai sekarang konsisten menularkan hobinya tersebut.

Syahriani Siregar, Pontianak

DI salah satu jalan di tengah kota, tepatnya di Jalan Pengeran Natakusuma bisa kita temukan sebuah kebun hidroponik di dalam Gang Selamat Bersama dengan plang bertuliskan Hidroponik Pontianak atau yang lebih dikenal dengan nama Hidroponti.

Di dalam kebun terlihat sayuran hijau dalam pipa instalasi yang berjajar dengan rapi. Pemandangan segar yang memikat mata ditambah suara air yang mengalir, menciptakan perasaan tenang setiap yang berkunjung. Terlihat seseorang sedang memanen sayur-sayur hijau tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Ada selada, sawi keriting, pakcoy, kailan, chai sim, pagoda, kale, daun mint, sawi manis, seledri hingga kemangi. Sayur-sayur tersebut ditimbang dan dibungkus. Ada yang langsung diambil oleh pembelinya, ada pula yang akan diantar.

Beragam orang hilir mudik masuk ke kebun dengan luas lahan 20x30 meter tersebut, ada yang ingin membeli sayur, membeli media tanam, bibit tanaman hingga nutrisi bahkan sekadar bertanya mengenai hidroponik.

Hidayat Akbar Kurniawan atau yang akrab disapa Yayat, sudah bertahun-tahun mengelola kebun hidroponik tersebut. Ia selalu menyambut ramah setiap pengunjung di kebunnya.

Dengan senang hati, lelaki 35 tahun ini menjelaskan dengan sabar setiap ada pengunjung yang datang ke kebunnya jika butuh sharing tentang hidroponik.

“Mereka belajar bagaimana cara menanam hidroponik, mulai dari teknik penyemaian hingga panen,” ujarnya.

Yayat juga akan mengajak pengunjung berkeliling kebun. Pertama, pengenalan apa itu hidroponik, media-media apa saja yang dibutuhkan. Setelah itu praktik singkat mulai dari praktik meyemai, memberi pupuk dan nutrisi hingga praktik panen.

“Tujuan kami bikin kebun hidroponik ini salah satunya adalah kebun edukasi. Banyak juga mahasiswa jurusan pertanian yang magang di sini,” jelas Yayat.

Hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman, terutama jenis sayuran dan buah dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan media tanam berupa tanah. Media tanam yang digunakan berupa rockwool, sekam bakar, hidroton, atau pasir dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Hidroponik merupakan metode yang ramah lingkungan karena minim menggunakan pestisida dan cairan kimia atau obat hama yang bisa mengkontaminasi tanah. Hidroponik juga hemat lahan dan efisiensi air, hanya butuh 20 persen lahan ketimbang pertanian biasa.

Berawal dari hobi, delapan tahun lalu Yayat memulai tanaman hidroponik pertamanya di pekarangan rumah yang berukuran 2x3 meter. Sebagaimana teras rumah pada umumnya yang berada di dalam gang, ia memanfaatkan area kosong tersebut.

Bermodal percaya diri dan sedikit ilmu bercocok tanam yang didapat dari bangku sekolah, ia memberanikan diri. Segala perlengkapan mulai dari media tanam, pupuk, nutrisi dan lain-lain ia dapatkan dari daerah Jawa dengan pemesanan secara online.

Berjalan satu bulan ternyata ia sudah bisa panen pertama. Sawi hasil panennya pun kemudian disantap bersama keluarga. Tak sesulit seperti yang dibayangkannya, Yayat semakin semangat dan berinisiatif untuk menyebarluaskannya.

Pada tahun itu yaitu 2014, masyarakat Pontianak belum familiar dengan hidronik. Pelakunya pun masih segelintir. Yayat berniat memperkenalkan metode hidroponik ini kepada masyarakat. Setiap hari Minggu ia rutin membawa dan men-display sayurannya di area Car Free Day (CFD).

Tak sedikit orang yang sedang joging memperlambat langkah hingga berhenti dan mengunjunginya, bertanya dengan penasaran. Bahkan sejak itu rumahnya menjadi sering kedatangan tamu untuk sharing tentang hidroponik.

Sering mendapat permintaan media tanam, akhirnya Yayat menjadi penyedia di Pontianak, sehingga masyarakat yang berminat tidak kesulitan lagi mencari media tanam yang dibutuhkan untuk mulai menanam. Ia juga meracik sendiri nutrisinya, kemahiran itu diperolehnya dari pelatihan bersertifikasi yang pernah diikuti.

Yayat bekerja sama dengan banyak pihak untuk pengelolaan kebun, bersama komunitas tani yang didirikannya, ia dan teman-temannya mengelola beberapa kebun hidroponik yang ada di Kalbar, memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat yang berminat. Mereka juga menyediakan instalasi kepada konsumen yang membutuhkan. Mulai dari permintaan personal skala rumahan, kelompok masyarakat hingga instansi.

“Konsumen didampingi sampai panen pertama, biasanya satu sampai dua bulan. Minimal dengan panen sekali mereka sudah paham siklusnya,” jelas Yayat.

Photo
Photo
Panen pertama di SDN 31 Pontianak. (Istimewa)

Menurut Yayat, faktor yang perlu diperhatikan untuk menanam dengan metode hidroponik adalah sinar matahari yang cukup, sumber air terpenuhi serta perlakuan atau perawatan tanaman. Yang menjadi tantangan tentunya serangan dari hama, kutu, ulat dan belalang.

Kolaborasi juga dilakukan oleh Yayat dan komunitasnya, salah satunya kolabarasi dengan SMK Punggur, di sekolah tersebut ada mata pelajaran hidroponik, Yayat dan tim diajak menjadi guru tamu sekaligus ikut bantu mengelola kebun. Diakui Yayat kebun tersebut lumayan besar, sayang kalau tidak dimanfaatkan untuk produksi.

“Kami ikut produksi, anak-anak SMK ikut bantu, hasilnya bagi dua. Kami juga bantu untuk memasarkan karena kendala dari klien adalah pemasaran, mereka bingung memasarkan kemana, jadi kami bantu serap hasil produksinya,” ujar Yayat.

Jika dulu Yayat memasarkan hasil panennya ke beberapa supermarket di Pontianak, kini ia lebih fokus pada penjualan online karena permintaan secara online saja sudah cukup banyak sehingga pemenuhan stok untuk ke swalayan sedikit terhambat.

“Di kebun ini selalu ada permintaan sayur setiap harinya,” ujar Yayat.

Pembudidaya tanaman hidroponik memang dapat menciptakan peluang bisnis pangan lokal. Jika pangan dapat dihasilkan dari perkebunan setempat, gas emisi karbon yang dihasilkan dari kendaraan pengiriman dapat dikurangi karena jarak tempuh kendaraan pengiriman lebih dekat. Pertanian hidroponik ternyata juga dapat mengurangi gas emisi karbon.

Pendampingan skala rumahan juga banyak diterima Yayat apalagi di masa pandemi Covid-19. Banyak orang yang ingin bercocok tanam secara hidroponik di pekarangan rumah, baik hanya ingin mengisi kegiatan ataupun ingin memenuhi kebutuhan sayur sehari-hari.

“Hidroponik ini mudah, tidak terikat tanah subur atau tidak. Jadi kenapa tidak dicoba untuk memanfaatkan lahan di rumah, seperti tanaman yang dikonsumsi sehari-hari. Dari pekarangan rumah kita sudah bisa mencukupi kebutuhan sayur mayur. Walaupun tidak untuk menambah penghasilan, minimal mengurangi pengeluaran dapur,” ungkap Yayat.

Dengan konsepnya yang ramah lingkungan, tanaman hidroponik juga menyehatkan udara dan menambah nilai estetika di lingkungan rumah. Tanaman hidroponik dapat meningkatkan kadar oksigen di sekitar rumah, sehingga tercipta udara yang bersih, bebas kontaminasi, sejuk dan terasa segar.** Editor : Misbahul Munir S
#agrikultur #perkotaan #hidroponik #gaya hidup berkelanjutan #sustainability lifestyle #cocok tanam #kaum urban #kebun #Ramah Lingkungan