Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Membawa Anak Desa Lihat Dunia Lewat Ribuan Buku

Misbahul Munir S • Sabtu, 31 Desember 2022 | 10:36 WIB
Anak-anak di Dusun Parit Pangeran sedang mengikuti kegiatan yang digelar di Kampung Baca Tanjung Saleh oleh Siti Badariah. RAMSES/PONTIANAK POST
Anak-anak di Dusun Parit Pangeran sedang mengikuti kegiatan yang digelar di Kampung Baca Tanjung Saleh oleh Siti Badariah. RAMSES/PONTIANAK POST
Kisah Penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards Tahun 2021 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Bidang Pendidikan

Walau tinggal di desa, anak-anak juga harus mengetahui isi dunia. Itulah yang terbesit di pikiran Siti Badariah ketika pulang ke kampung halamannya. Dia pun membangun Kampung Baca Tanjung Saleh dengan menyisihkan penghasilannya sebagai penjual ikan. Sebab, baginya buku adalah jendela dunia.

Ramses, Kubu Raya.

SITI Badariah atau akrab disapa Badar tersenyum. Matanya melihat anak-anak yang berkumpul di samping pintu rumah baca. Bangunan sederhana itu disebut Kampung Baca Tanjung Saleh oleh penduduk setempat. Letaknya di Dusun Parit Pangeran, Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya ini juga berdiri kokoh. Tak hanya anak-anak, di sana juga terdapat beberapa ibu yang hendak belajar membaca.

Tak terbayang di benak Badar rumah baca itu bisa sebagus sekarang. Dulu hanya gubuk sederhana. Beratap daun, berdinding papan. Sangat minim pencahayaan. Ketika itu Badar bersama teman-temannya membuka dinding bagian depan, kiri dan kanan. Hanya dinding belakang yang tidak dibuka. Selain untuk menerangi ruangan dengan sinar matahari, juga memancing rasa penasaran orang-orang agar mampir.

Beberapa bulan setelah dibuka, berdirilah bangunan baru. Ukurannya 6x6 meter persegi. Lebih kokoh. Dindingnya dari semen. Atapnya seng. Tidak ada sekat di dalam. Dibuat rak yang menempel di dinding. Masing-masing rak sudah tertera namanya. Sesuai dengan kategori buku yang dipajang. Novel, teknologi, majalah, cerpen, komik hingga sejarah.

Ada meja kecil khusus anak-anak belajar. Lalu papan tulis. Ruangannya sengaja dibuat dua pintu. Depan dan belakang. Lalu ada empat jendela. Dua bagian depan dan dua di samping. Agar saat siang, ruangan jadi lebih terang. Sehingga sirkulasi udara berjalan dengan baik.
“Bangunan ini memang pinjam pakai dari masyarakat. awalnya gubuk sederhana, kemudian berdirilah bangunan yang lebih baik kondisinya, sehingga buku-buku bisa tersimpan rapi dan tidak lembab,” cerita Badar.

Agar terlihat lebih menarik dinding depan digambarkan mural. Gambarnya juga identik dengan kondisi Tanjung Saleh. Dua orang berada di perahu. Seperti diketahui, penghubung utama dari satu kampung ke kampung lain di Tanjung Saleh adalah transportasi air. Begitu juga di ruangan dalam. Dinding dicat berwarna biru. Ada gambar penyu, cumi-cumi, dan hewan laut lainnya. Menjadi gambaran bahwa Tanjung Saleh, adalah daerah pesisir laut. Kondisi rumah baca disini jauh lebih baik dari lokasi lain, masih menumpang di rumah Badar.

Memang tak mudah bagi Badar mendirikan Kampung Baca Tanjung Saleh. Perjalanannya penuh lika-laku. Bahkan, dipandang remeh dan tak mendapat dukungan warga. Padahal, perempuan berusia 26 tahun ini juga lahir di sana. Tepatnya di Dusun Kampung Tengah RT/RW 015/003, Tanjung Saleh.
“Tapi di kemudian hari masyarakat sadar, bahwa pendidikan sangat penting. Karena kegiatan membaca itu merupakan simbol dari pendidikan,” ujar Badar.

Menurut Badar, ide membangun rumah baca bermula dari kehadirannya pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di kampung halamannya di tahun 2017. Saat itu dia melihat tumpukan buku begitu rapi di perpustakaan kantor desa. Seakan tak tersentuh.

Bagi Badar yang senang dunia literasi dan membaca, hal ini membuat heran.
“Saya pikir, kalau buku-buku tersusun rapi siapa yang membaca. Lain kalau berantakan, artinya buku-buku itu ada yang membaca,” cerita lulusan Magister PGSD Universitas Tanjungpura ini.

Lantas, muncul idenya untuk membangun rumah baca. Bak gayung bersambut, pihak desa setuju dengan idenya. Buku-buku itu dipindahkan dari perpustakaan desa. Tempatnya di selasar rumah Badar. “Untuk sementara waktu sampai ada tempat yang lebih baik. Yang penting, baginya buku lebih dekat dengan masyarakat,” kenang Badar.

Niat Badar ini didukung teman-teman kuliahnya. Mereka ikut menjadi relawan. Namun, tantangan pun menghampiri. Yakni, tidak semua orang terbiasa membaca buku sehingga rumah baca itu sepi dari kunjungan. Dia pun mencari ide agar orang-orang mau datang. Meskipun hanya sekedar berkunjung dan tidak membaca buku.

Badar pun membuat berbagai kegiatan. Ada permainan dan kegiatan seru-seruan lainnya. Belajar menulis kaligrafi, komputer, menggambar, membuat boneka, hingga komik. Lalu dibuat program Ahad Cerdas, yakni hadir seorang figur untuk memberikan motivasi bagi anak-anak.

Sasarannya adalah anak-anak SD. Mereka diajak bermain tapi sambil belajar. Sejak itu mulai ada yang berkunjung. Dari satu dua orang dan terus bertambah. Bahkan, sampai 40 orang per hari.

Masyarakat setempat pun mulai mendukung. Mereka memotivasi anak-anaknya agar ikut di rumah baca. Sebagian orang tua malah memberikan penekanan kepada anak-anaknya agar ikut serta kegiatan di rumah baca.
“Artinya orangtua ikut mendukung meskipun awalnya tidak,” kata wanita kelahiran tahun 1996 ini.

Tantangan lain yang dihadapi adalah Badar dan teman-temannya tak bisa setiap hari ada di taman baca. Rerata yang menjadi relawan adalah mahasiswa. Mereka kuliah di Pontianak. Sementara dari Pontianak ke Tanjung Saleh cukup jauh. Memakan waktu satu hampir satu jam 30 menit. Dan harus dua kali ganti transportasi.

Dari Pontianak naik sepeda motor ke Sungai Kakap. Kawasan hunian nelayan. Perjalanannya hampir satu jam. Baru kemudian menyeberang ke Tanjung Saleh. Berangkat dari dermaga di Sungai Kakap. Memakan waktu 30 hingga 40 menit.

Sedangkan Badar, selain kuliah, ia juga bekerja. Dia berdagang ikan di Pasar Teratai. Sebuah pasar tradisional di kawasan Jeruju (Jalan Kom Yos Soedarso), Pontianak Barat. Namun, saat ini ia sudah bekerja di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan dan Keluarga Berencana Kubu Raya.
“Sehingga bisa ada di sana (Tanjung Saleh.red) hanya Sabtu dan Minggu,” kata Badar.

Badar tak ingin aktivitasnya menghambat keinginan anak-anak pesisir untuk membaca buku. Ia mengatur jadwal agar anak-anak tetap bisa bisa berkunjung ke taman baca, tetapi dia dan relawan lainnya tetap bisa kuliah dan bekerja. Badar pun merekrut relawan setempat.

Kini yang berkunjung semakin ramai. Begitu juga koleksi bukunya. Di awal hanya 1.000 eksemplar buku. Sekarang sudah 3.000 eksemplar buku. Bahkan, sudah ada dua taman baca. Satu masih di selasar rumahnya (Dusun Kampung Tengah). Kedua, di Dusun Parit Pangeran.
“Ke depan akan dibuat bangunan sederhana lagi. Untuk menyimpan tambahan koleksi buku dan aktivitas lainnya sehingga bisa satu tempat,” kata Badar.

Badar menjelaskan ia bersama relawan lainya membuat sistem agar anak-anak semakin senang berkunjung ke dua taman baca. Misalnya, di Dusun Kampung Tengah, dijadwalkan setiap Sabtu. Kadang malam atau siang. Badar dan relawan mengemas kegiatan-kegiatan menarik agar anak-anak betah di taman baca. Lalu di Dusun Parit Pangeran, digelar hari Minggu. Namun, untuk aktivitas membaca buku, tetap dibuka setiap hari. Anak-anak, kata Badar, bisa berkunjung kapan saja.

Agar Kampung Baca Tanjung Saleh mampu bertahan, Badar menyisihkan sebagian penghasilannya. Hasil dari ia berjualan ikan, disisihkannya sebagian untuk Rumah Baca Tanjung Saleh. Sebagian lagi untuk kebutuhan kuliahnya. Bersamaan dengan mengembangkan rumah baca, Badar juga sedang menyelesaikan studi magisternya di PGSD Untan.
“Sisanya barulah untuk kebutuhan pribadinya,” tukas Badar.

Bahkan, saat ini, walau telah bekerja sebagai tenaga honorer di di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan dan Keluarga Berencana Kubu Raya, Badar tetap menyisihkan sebagian penghasilannya untuk Kampung Baca Tanjung Saleh. Terhitung hingga sekarang, Kampung Baca Tanjung Saleh sudah berdiri lima tahun.

Semua upaya Badar berbuah manis. Ia terpilih sebagai Penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards tahun 2021 tingkat provinsi Kalimantan Barat Bidang Pendidikan. Penghargaan itu menjadi motivasinya untuk lebih mengembangkan Kampung Baca Tanjung Saleh. Badar tak menyangka mendapatkan penghargaan itu. Lantaran ia tak pernah mengusulkan. Ternyata, usulan itu datang dari wartawan yang mewawancarai dirinya.

Photo
Photo
Siti Badariah, penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards Tahun 2021 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Bidang Pendidikan.

Bagi Badar apa yang dilakukannya tak sekedar materi. Gerakan sosial yang dilakukannya untuk mendorong anak-anak agar gemar membaca. “Sebab membaca adalah jendela dunia,” ungkapnya. Dari gerakan itu ia merasakan kebahagiaan karena bisa bermain bersama anak-anak sambil belajar.
“Kebahagiaan ini merupakan motivasi awal untuk mengembangkan taman baca. Tidak hanya kebahagiaan tapi juga bertanggung jawab,” ujar Badar.

Rela Mengajar Meski Tak Dibayar

Di waktu terpisah, Salsa, pengunjung Kampung Baca Tanjung Saleh (KBT) mengaku sangat senang desanya memiliki rumah baca. Apalagi KBT dibuka selama 24 jam.

Pelajar berusia 12 tahun ini menuturkan sebelum ada KBT aktivitas dirinya hanya sekolah, bermain, dan kadang membantu orangtua. Dengan adanya KBT, dia tidak hanya membaca tapi juga bisa belajar sambil bermain.
“Saya berharap koleksi bukunya semakin bertambah,” ungkap pelajar kelas V Madrasah Ibtidaiyah ini.

Lain tempat, Tohir, warga Tanjung Saleh ini juga menyatakan dukungannya terhadap keberadaan KBT. Sebab KBT tidak hanya memberikan kesempatan belajar pada anak-anak tapi juga kelompok lansia yang buta aksara.
“Respon ibu-ibu lansia sangat baik. Para ibu-ibu antusias belajar membaca dan menghitung,” kata pria berusia 45 tahun ini.

Menurut Tohir, anak-anak memiliki kegiatan belajar yang padat meskipun dihari minggu. Bahkan di malam hari KBT masih tetap buka. Dan anak-anak justru bersemangat. KBT pun kerap ramai dikunjungi anak-anak.
“Karena lebih sering membaca anak-anak pun lebih cepat tanggap,” imbuh Tohir.

Sebagai masyarakat, Tohir berharap, pengelola bisa lebih mengembangkan lagi KBT. Seperti koleksi buku yang lebih tambah. Lalu dikemas banyak kegiatan sehingga pengunjung, yang anak-anak lebih betah saat berada di KBT.

Lain tempat, Dewi Safitri, Guru Matematika dan PPKN di SMP Fajar Harapan Tanjung Saleh ikut aktif di KBT. Ia sebagai relawan yang mengajar di KBT. Dewi ikut aktif karena senang melihat antusias masyarakat terhadap keberadaan KBT.

Dewi menjelaskan program mengajar kelompok buta aksara baru dimulai tahun ini. Ia mau ikut mengajar di KBT meskipun tidak dibayar. Walaupun di tengah kesibukan bekerja di siang hari, para ibu masih menyempatkan diri belajar saat malam hari di KBT.
“Meskipun bekerja sebagai petani, ibu-ibu ini semangat belajarnya. Saya pun menjadi semangat juga untuk mengajar,” kata wanita berusia 34 tahun ini.

Semangat itu juga yang dirasakan Dewi saat mengajar anak-anak di KBT. Menurut Dewi, sebagai guru memiliki semangat untuk mengajar maka mengalir semangat yang kuat pada anak-anak. “Harapan saya anak-anak KBT bisa sukses. Semuanya bisa belajar, rajin dan betah membaca,” harap Dewi.

Ubah Kebiasan, Dari Ngerumpi Menjadi Membaca dan Belajar

Kepala Desa Tanjung Saleh Muksin mengatakan banyak dampak positif yang dirasakan pasca kehadiran KBT. Rumah baca yang dibangun itu tidak hanya mendorong tumbuhnya minat baca anak-anak, tapi juga kalangan dewasa.

Hal ini terbukti dari ikut sertanya para orang tua yang belajar di KBT. Terutamanya kaum ibu. Mereka ikut di sela-sela aktivitasnya seharian. Sehari-hari pekerjaan masyarakat di Dusun Parit Pangeran bertani. Dan yang ikut itu, kata Muksin masuk kelompok buta aksara.
“Kelompok ibu-ibu ikut belajar di sela-sela kesibukan mereka,” kata Muksin.

Muksin menjelaskan kondisi KBT saat ini sudah jauh berkembang dibandingkan saat awal merintis. Saat itu hanya di selasar rumah, kini sudah ada yang memiliki tempat yang lebih baik. Masyarakat yang antusias hingga menghibahkan tempatnya untuk dijadikan KBT.

Menurut Muksin, gerakan literasi tidak hanya mendorong minat baca masyarakat. Tapi mengubah kebiasaan masyarakat sehingga mau menambahkan wawasan. Sebab, belajar tidak mengenal usia.
“Mengubah pola kebiasaan, daripada ngerumpi, lebih baik membaca dan menambah pengetahuan,” kata Muksin.

Muksin menjelaskan buku yang dikelola KBT awalnya milik desa. Buku dan perlengkapannya berupa lemari merupakan bantuan dari pemerintah provinsi. Pihak desa menghibahkan ke Badar untuk dikelola menjadi KBT.

Muksin menambahkan pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu dan Minggu, Badar bersama relawan membuat kegiatan di KBT. Isinya tentang pengetahuan keagamaan untuk anak-anak. Lalu diagendakan juga berkunjung ke dusun lain di Desa Tanjung Saleh. Seperti diketahui selain Dusun Kampung Tengah, dan Parit Pangeran, dusun lainnya yakni Tembak atau Teluk Besak.

Muksin menyatakan pihak desa terus mendorong berkembangnya KBT. Sebagai bentuk dukungan pihaknya merencanakan membangun tempat di Dusun Kampung Tengah. Tempat itu akan berdiri di tanah milik desa. Bentuknya seperti gazebo. Pengunjung tidak hanya bisa memanfaatkan fasilitas itu untuk ruang baca tapi juga kegiatan lainnya guna mendukung KBT.
“Nanti akan dibebankan di APBDes,” ucap Muksin.

KBT Menjadi Motivasi Anak Muda di Pesisir Tanjung Saleh

Penggiat Literasi Kalimantan Barat Ahmad Sofian melihat kehadiran Kampung Baca Tanjung Saleh menjadi motivasi bagi anak-anak muda di sana tentang pentingnya literasi. Termasuk pada anak-anak sekolah dasar. Sebab memberikan sentuhan baru untuk meningkatkan minat baca bagi kalangan anak-anak. Para anak suka dengan aktivitas di KBT. Tidak hanya membaca buku tapi juga ada kegiatan lainnya.
“Keterlibatan masyarakat terhadap komunitas kampung baca juga sangat dibutuhkan,” kata Sofian.

Sofian mengatakan kegiatan literasi serupa muncul karena berangkat dari kegalauan anak-anak muda. Mereka melihat minimnya keterlibatan dan dukungan dari pemerintah, baik secara kebijakan maupun keuangan pada kawasan-kawasan tertentu dalam hal literasi.
“Meskipun kebijakan makro, pemerintah punya instrumen, untuk mendorong dan mengajak kegiatan sosial literasi," kata dia.

Lanjut Sofian, sehingga kegiatan serupa muncul selain yang dilakukan Siti Badariah. Penggiat literasi yang bergerak membuat tempat bagi anak-anak untuk beraktivitas baik untuk kegiatan literasi maupun masyarakat berkegiatan. Namun Tanjung Saleh memiliki karakteristik berciri khas. Kawasan ini menjadi pembeda dibandingkan tempat-tempat lain yakni berada di wilayah pesisir.

Sebagai bentuk dukungan, Sofian menyarankan agar pemerintah membiarkan kegiatan komunitas literasi dengan sentuhan penggiat. “Jangan sampai semangat yang sudah dicurahkan, kegiatan yang sudah dilakukan, ketika ada dukungan pemerintah, kemudian itu menjadi beban,” ujar Sofian.

“Saya berpesan dalam berbagai kesempatan. Menjadi penggiat literasi mesti kuat. Ingatlah niat awal melakukan itu apa. Jangan sampai luntur. Itu pesan saya bagi anak-anak muda dalam kegiatan serupa,” pesan Sofian.

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mengajak relawan Kampung Baca Tanjung Saleh (Tansal) terus menggencarkan literasi bagi anak-anak di Tanjung Saleh yang mampu meningkatkan minat baca dan keterampilan anak. Sebagaimana yang disampaikan Muda Mahendrawan dalam situs resmi Pemerintah Kubu Raya.

Muda menambahkan, keberadaan Kampung Baca Tansal bisa berperan dalam banyak sektor, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga, pariwisata, UMKM, dan sebagai salah satu wadah pencegah menyebarnya informasi hoaks di tengah masyarakat yang muda terpapar di era digitalisasi ini. (*) Editor : Misbahul Munir S
#Lewat Ribuan Buku #Apresiasi Satu Indonesia Awards #Siti Badriah #Membawa Anak Desa #Lihat Dunia