Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jagung hingga Kurma, Mengenal JAS-B Supermarket Hortikultura dari Singkawang

Syahriani Siregar • Kamis, 5 Januari 2023 | 20:23 WIB
Operasi Bibir Sumbing oleh Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie. (IST)
Operasi Bibir Sumbing oleh Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie. (IST)
Menerapkan pertanian modern dan terpadu, Kelompok Tani JAS-B mampu menyuplai kebutuhan sayur-mayur dan buah-buahan untuk Kalimantan Barat. Aneka ragam tanaman ada di sini. Bermula dari jagung, hingga kini menjajal kurma.

Pagi itu, sekira jam sembilan, terik matahari sudah sangat menyengat. Namun tak menghalangi rombongan Bank Indonesia dan sejumlah wartawan berkeliling di kebun Kelompok Tani Jujur Akur Sukses Bersama (JAS-B). Hampir seluruh tanah pertanian dengan luas 90 hektare di Kelurahan Sedau, Kota Singkawang itu mengandung pasir. Jarak kebun itu memang hanya sepelemparan batu dari Pantai Pasir Panjang. Lokasi wisata andalan Kota Amoi.

Walaupun gersang, para petani di sini mampu menyulapnya menjadi sentra pertanian dengan hasil melimpah. Saban hari mobil-mobil pikap mengangkut berton-ton sayur mayur, buah-buahan, umbi-umbian, dan produk lainnya yang dihasilkan dari sini. Ada juga peternakan sapi, kambing, dan ikan.

Hasilnya tidak hanya untuk kebutuhan masyarakat Singkawang, melainkan juga dikirim ke Pontianak dan daerah-daerah lain di Kalimantan Barat. Tak heran poktan dari seluruh Kalbar, lembaga pemerintahan, sekolah, hingga perguruan tinggi datang datang silih berganti untuk belajar di sini.

Photo
Photo
UJI COBA: Anggota JAS-B mencoba hand tractor bantuan dari Bank Indonesia, disaksikan Kepala KPw BI Kalbar Agus Chusaini dan Wakil Wali Kota Singkawang Irwan. (Aristono/Pontianak Post)

Sebagian warga di sekitaran Pasir Panjang ini adalah mantan pengungsi konflik horizontal di Kalbar pada akhir dekade 1990-an. Berkat kerja keras, mereka mampu bangkit dan mampu mengelola lahan tandus menjadi sentra pertanian. Rumah-rumah bagus milik warga berderet menghiasi sepanjang Gang Bersama, akses masuk menuju kebun tersebut.

Sukses ini dibangun penuh perjuangan. Adalah Naweri selaku ketua Poktan JAS-B yang menjadi perintis pusat hortikultura ini. Dulu, kata dia, para petani di sini hanya menanam padi saja dengan hasil seadanya. Lantaran keadaan tanah yang tak mendukung.

Tahun 2001, Naweri mulai mengganti tanamannya dengan jagung manis. Selain tidak memerlukan tanah yang terlalu subur, dia juga melihat potensi besar dari tanaman ini. “Di Pantai Pasir Panjang dan pantai-pantai lain sekitar sini banyak orang yang menginap dan berkemah. Mereka biasa mencari jagung untuk bebakaran. Sementara penduduk yang menjual jagung saat itu masih jarang,” ujar pria 48 tahun ini.

Dengan perlakukan yang baik, kebun jagung Naweri pun berbuah manis. Hasil panennya dijajakannya setiap hari di pinggir jalan, dekat gerbang menuju pantai. Berapapun jumlah panen yang dia bawa selalu ludes. Kini pembelinya tak hanya dari para wisatawan, tetapi juga dari masyarakat sekitar.

Dia lantas memperbesar areal lahannya. Modalnya dia pinjam dari seorang pengepul yang juga mau menampung hasil panennya. Produksinya meningkat pesat hingga dia mampu mandiri. Di tengah keberhasilannya itu, Naweri pun mengajak warga lainnya untuk turut menanam jagung. Satu per satu warga mulai beralih ke jagung. “Ini menjadi awal mula Poktan JAS-B,” sebut orang yang telah mengantongi puluhan penghargaan ini.

Naweri tidak hanya mengajak. Tetapi juga membantu mencarikan bibit, mengajarkan cara menanam, hingga ke pemasarannya. “Saya juga menampung hasil panen mereka. Sistemnya bukan membeli dengan murah seperti tengkulak. Tetapi sistem bagi hasil agar sama-sama untung,” imbuhnya.

Produk jagung manis mereka pun membanjiri pasar-pasar di seluruh Kalbar. Tahun 2011, agar lebih terorganisasi dan terinstitusi, puluhan petani ini mulai membentuk kelompok tani. Naweri menjadi ketuanya. Poktan ini kemudian berkembang pesat dengan varian produk mencapai puluhan jenis, dari bumbu dapur, sayuran hingga buah-buahan.

Hidup dan Menghidupi

Husin, asyik melempar butiran-butiran pelet ke salah satu kolam ikan di area kebun. Ratusan ikan patin berlompatan menyambar umpan tersebut. Ada lima kolam, masing-masing seluas lapangan tenis.

"Seminggu yang lalu kami baru panen ikan paku merah. Hasilnya satu ton lebih," ujar pentolan JAS-B ini.

Kebun JAS-B sekilas tampak seperti lahan pertanian lainnya. Namun bila kita berkeliling, maka akan segera tersadar bahwa setiap jengkal lahan di sini terhubung satu dengan lainnya. Ada banyak kolam tadah hujan untuk irigasi.

Photo
Photo
BUDIDAYA: Kepala BI Agus Chusaini memberi makan ikan budidaya di kolam JAS-B. Lahan ini memiliki banyak kolam yang fungsinya untuk budidaya ikan dan pengairan. (Aristono/Pontianak Post)

Air dari kolam ini dipompa melewati pipa-pipa menuju sumur di setiap sudut kebun. Kolam ini bukan hanya untuk pengairan. Melainkan juga berisi ikan-ikan budidaya, seperti nila, patin, paku merah, dan lainnya.

Peternakan sapi milik warga yang tak jauh dari kebun menjadi alasan tanah gersang di sini bisa subur. Kotoran sapi ini menjadi pupuk organik.

Sementara untuk pakan sapi, diambil dari bonggol jagung, talas, singkong, dan daun-daunan dari kebun yang kaya akan nutrisi.

"Kolam ikan, peternakan sapi, dan kebun hortikultura saling menghidupi satu sama lain. Seperti itu siklusnya," sebutnya.

HORTIKULTURA: Para petani perempuan berjalan di antara kebun sayur Poktan JAS-B, Singkawang. Lahan 90 hektare ini memiliki aneka ragam tanaman sayur-mayur dan buah-buahan. (Aristono/Pontianak Post)
HORTIKULTURA: Para petani perempuan berjalan di antara kebun sayur Poktan JAS-B, Singkawang. Lahan 90 hektare ini memiliki aneka ragam tanaman sayur-mayur dan buah-buahan. (Aristono/Pontianak Post)
MAGANG: Dua siswi SMK Negeri 1 Samalantan tengah menyiram tanaman. Banyak pelajar dan mahasiswa menjadikan lahan JAS-B sebagai tempat magang maupun penelitian. (Aristono/Pontianak Post)

Tak heran dengan sistem pertanian modern seperti ini, tenaga yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. "Di JAS-B kami ada 120 orang. Tetapi kami juga sering dibantu oleh anak-anak magang dari berbagai SMK dan perguruan tinggi. Misalnya sekarang ada siswa-siswi dari SMK Negeri 1 Samalantan (Kabupaten Bengkayang) yang sudah beberapa pekan ikut membantu," papar dia.

Atasi Dinamika Harga

Lahan pertanian JAS-B ibarat supermarket sayuran dan buah. Hampir semua sayuran lokal tersedia di sini, seperti kangkung, sawi, bayam, mentimun, tomat, terong, kacang panjang, buncis, aneka cabai, dan lain-lain. Sementara untuk buah-buahan ada nenas, pepaya, pisang, jambu, dan lainnya. Ada juga umbi-umbian dan kacang-kacangan.

Cukup menarik perhatian, yaitu jejeran tanaman jenis palem. Sekilas pohon yang tingginya selutut dengan daun menjuntai itu tampak seperti anakan kelapa sawit. Namun ternyata itu adalah pohon kurma. Total ada 70 pohon kurma di sini yang baru ditanam empat bulan yang lalu.

"Ini pertama kali kali kami menanam kurma. Mungkin kami yang pertama di Kalbar. Di Indonesia saja masih sedikit yang menanam," sebut Naweri.

Photo
Photo
KURMA: Ketua JAS-B Naweri menunjukkan tanaman kurma di lahannya. Ada 70 bibit kurma yang ditanam di sini. (Aristono/Pontianak Post)

Bibit kurma ini didapat dari Dinas Pertanian Provinsi Kalbar. Menurut dia, kurma adalah tanaman yang hidup dalam kondisi ekstrem kering dan panas.

"Di sini cuacanya panas dan tanahnya berpasir. Mudah-mudahan cocok. Untuk berbuah sih sepertinya masih lama, tujuh tahun lagi," imbuhnya.

Poktan JAS-B tak mau bergantung dengan satu tanaman andalan saja. Menurut Naweri, harga produk pertanian sering kali naik turun. Sehingga petani perlu melakukan diversifikasi pertanian.

"Misalnya cabai rawit. Walaupun harganya bulan lalu tembus seratusan ribu rupiah (per kilogram), tapi tidak bisa dijadikan patokan. Karena bulan berikutnya bisa saja anjlok," jelas dia.

Selain itu, pihaknya juga tidak hanya menjual hasil panen. Ada lahan khusus pembibitan. JAS-B juga menjual bibit-bibit unggul untuk dijual ke sesama petani. Misalnya, benih keladi atau talas yang dikirim se-Kalbar.

"Kami ada 2 hektare lahan khusus untuk pembibitan keladi. Begitu juga tanaman lain," ucapnya.

Bahkan mereka mulai membuat produk olahan. Misalnya membuat aneka kue dan camilan dari ubi serta keladi. Bahkan memproduksi susu jagung.

Dipercaya Perbankan

Kekompakan Gapoktan JAS-B mendapat apresiasi berbagai pihak. Keberhasilan mereka mengelola lahan pertanian yang awalnya gersang menjadi subur dan produktif membuat warga di sini dipercaya oleh perbankan.

Naweri pun mengakui para anggotanya mampu mengembangkan lahan dan memodernisasi pertanian lantaran dibantu permodalan lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).  "Alhamdulillah kami mendapat kepercayaan dan bantuan modal dari BRI. Sehingga kami mampu mengembangkan lahan pertanian menjadi lebih luas," sebutnya.

Asisten Manajer Pemasaran Mikro BRI Cabang Singkawang, Khalid Danu Purnomo menjelaskan bahwa KUR merupakan pembiayaan kepada individu dan kelompok usaha produktif dan layak (bankable). Sektor usaha yang dibiayai diantaranya pertanian, perikanan, industri pengolahan, konstruksi, pertambangan garam rakyat, pariwisata, jasa, dan perdagangan. JAS-B sendiri dengan kekompakan anggota dan manajemen andal dinilai pantas mendapatkan pembiayaan yang disubsidi pemerintah tersebut.

Dia menginformasikan, BRI menjadi kontributor utama dalam penyaluran KUR dengan porsi 70% dari alokasi KUR Nasional tahun 2022. Lebih lanjut, Khalid menjelaskan jenis KUR yang ada di BRI yaitu KUR Supermikro sampai dengan 10 juta, KUR Mikro sampai dengan 100 juta, KUR Kecil sampai dengan 500 juta masing-masing dengan suku bunga 6% efektif per tahun.

Tak hanya soal KUR, Bank BRI Cabang Singkawang juga dipercaya oleh pemerintah untuk menyalurkan Kartu Tani. Dalam program ini, kartu ATM tabungan Simpedes dari bank BRI yang dapat digunakan untuk menampung alokasi subsidi pupuk dari pemerintah kepada petani. Penebusan pupuk bersubsidi dengan kartu tani hanya bisa dilakukan di agen-agen Brilink yang telah ditunjuk dan memenuhi kualifikasi sebagai Kios Pupuk Lengkap (KPL).

Tumbuh di Tengah Pandemi

Agus Chusaini berdiri membungkuk sembari memilih produk-produk pertanian yang di-display Poktan JAS-B. "Ini tolong dibungkus semua," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar itu kepada kepada seorang petani perempuan. Agus memborong sejumlah produk olahan seperti keripik dan stik keladi.

Sementara anggota rombongan yang lain ada yang memborong cabai rawit dan sayur-mayur.

"Lumayan, di sini cabai rawit Rp75.000 satu kilogram. Kalau di Pontianak masih Rp100 ribu," kata Icha, seorang jurnalis dalam rombongan itu.

Photo
Photo
BELANJA: Agus Chusaini tengah berbelanja produk pertanian milik petani JAS-B. (Aristono/Pontianak Post)

Kedatangan BI ini untuk menyalurkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) sejumlah alat pertanian, seperti pompa, hand tractor, pemotong rumput, dan lainnya.

“Bantuan pompa pemotong rumput, harapannya nanti bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas. Perluasan lahan perlu ditambah, agar bisa memenuhi kebutuhan,” jelas Agus.

Dia menjelaskan, bantuan ini untuk mendorong produktivitas tanaman pangan di Singkawang. Kota ini adalah salah satu pusat pertanian hortikultura yang cukup menentukan harga di daerah lain.

"Ini sebagai upaya untuk menekan angka inflasi di wilayah Kalimantan Barat. Produk pertaniannya seperti sayur-mayur tidak hanya untuk konsumsi penduduk kota, melainkan didistribusikan ke kabupaten/kota lain di Kalbar," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Singkawang, Irwan yang hadir dalam cara itu menyebut, sebagai kota yang mengandalkan pariwisata, pandemi Covid-19 telah memukul ekonomi masyarakat. Namun ada sejumlah sektor yang tetap tumbuh, dan mampu menopang perekonomian, yaitu pertanian. Hal ini didukung oleh berbagai pihak, salah satunya perbankan lewat restrukturisasi kredit.

Kendati demikian, Singkawang hanya memiliki lahan pertanian sekira tiga ribu hektare. Namun hasilnya masih perlu digenjot.

"Dengan lahan yang relatif kecil ini, para petani tentu perlu menggunakan teknologi, bibit unggul, dan sistem pertanian modern untuk menggenjot produktivitas. Selain tentu saja perluasan lahan pertanian," ungkap dia.

Selain itu, kolaborasi adalah kata kunci untuk menggenjot pertanian. "Semua instansi, petani, masyarakat dan semua pihak harus berkolaborasi dalam hal ini," pungkasnya. (Aristono Edi K) Editor : Syahriani Siregar
#hortikultura #bank indonesia #KUR #kurma #jagung #bri #singkawang #JAS-B Supermarket #Kartu Tani