Ramses Tobing, Pontianak
MIMIK wajah Bernadeta Firnanda terlihat fokus. Pandangan matanya tak beralih dari perisai yang dipangkunya. Ia duduk bersila memangku perisai dengan warna dasar hitam. Ada tiga warna lain yang melekat di perisai itu. Putih, kuning dan merah. Tangan kanan memegang kuas kecil. Tangan kirinya memegang bagian bawah perisai. Memastikan tidak bergerak saat diwarnai.
Senin (22/5) adalah hari kedua lomba perisai digelar. Lomba itu digelar di Minggu, 21 Mei 2023. Mulai pukul 08.00-17.00. Para peserta yang hadir memilih tempatnya masing-masing. Ada yang memilih duduk sendiri. Ada yang berkumpul beberapa orang sembari membentuk lingkaran.
"Di hari kedua pun waktu lomba sama, mulai pukul 08.00-17.00," kata Koordinator Lomba Lukis Perisai Pekan Gawai Dayak, Kristianus, di lantai dasar Rumah Radakng, siang kemarin.
Menurut Kristianus, lomba digelar selama dua hari karena membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk melukis perisai. Mulai dari membuat sketsa baru diwarnai sesuai dengan konsep masing-masing peserta. Sehingga dengan waktu yang disediakan, karya peserta benar-benar sudah siap dinilai.
Secara keseluruhan ada 42 peserta. Dua di antaranya perempuan. Sisanya peserta laki-laki. Peserta yang ikut pun tidak hanya dari Kalimantan Barat saja. Selain dari sanggar yang terdaftar di Sekberkesda. Ada juga peserta yang diundang. Misalnya dari Dewan Adat Dayak di kabupaten/kota. Lalu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Kristianus mengatakan tema lukisan perisai tahun ini mengangkat Dayak Keninjal di Kabupaten Melawi. Sedangkan barometer penilaian dilihat dari kebersihan, kesesuaian tema, keindahan. Panitia akan mengambil tiga juara dalam lomba lukisan perisai.
"Tema dan motif lukisan mengacu pada Dayak Keninjal Kabupaten Melawi," ujarnya.
Sementara itu salah satu pesertanya adalah Bernadeta Firnanda. Utusan Dewan Adat Dayak Kabupaten Sekadau. Mahasiswa Universitas Tanjungpura ini memang hobi dengan seni lukis. Hanya melukis perisai baru ditekuninya dua tahun terakhir ini.
Bernadeta Firnanda harus mempersiapkan diri selama kurang lebih dua bulan sebelum lomba dimulai. Ia melatih diri melukis sesuai dengan tema yang ditentukan panitia lomba. Mulai dari mencari referensi karena temanya berkaitan dengan dengan Dayak Keninjal Kabupaten Melawi hingga melatih kreasi yang akan ditampilkan dalam perisai.
Namun diakui melukis di perisai penuh tantangan. Selain harus simetris, perlu tampilan yang detail serta harus benar-benar menguasai filosofi sesuai tema sehingga tidak asal-asalan.
"Awalnya dibuat sketsa, baru dilanjutkan dengan mewarnai dengan konsep yang akan dibuat. Untuk gambar menyesuaikan tema, seperti motif daun, bunga rampai dan itu menjadi ciri khasnya bagi suku Dayak Keninjal," pungkasnya. (*) Editor : Syahriani Siregar