Syahriani Siregar, Pontianak
Tepatnya di Jalan Khatulistiwa, Gg. Sambas Jaya, sekitar 30 menit perjalanan dari pusat kota. Tak sulit menemukan alat tenun di rumah-rumah warga. Ibu-ibu dan remaja putri lincah menggunakannya. Kampung ini memiliki 20 penenun yang hidup saling menyokong di dalamnya.
Ernawati (40) sedang asyik memainkan alat tenunnya, menggerakkan sisir kayu ke depan dan ke belakang, sesekali merapikan benang-benang pola di depan, sambil kakinya bergerak menyesuaikan pekerjaan tangannya. Ia sedang menyelesaikan kain songket berwarna merah berhiaskan benang emas. Sudah dua hari ia mengerjakannya, target selesai di hari ketiga.
Ernawati merupakan satu dari puluhan penenun di Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa. Ia merupakan keponakan dari Kurniati, perempuan perintis kampung tenun. Sudah lama Ernawati ikut bibinya menjadi penenun, walau sempat berhenti karena bekerja di Malaysia, tahun ini ia kembali ke pekerjaan lamanya, menenun.
“Saya sudah lama belajar menenun, sejak masih gadis, diajari sama Mak Cik,” ujar Ernawati.
Penghasilan dari menenun ia pergunakan untuk menambah kebutuhan sehari-hari belanja dan sekolah anak. Kampung yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai buruh bangunan dan peternak sapi ini memiliki perempuan-perempuan penenun yang mandiri.
Kurniati yang akrab disapa Mak Cik adalah motor penggerak kampung tenun khatulistiwa. Ia memberdayakan warga sekitar yang merupakan ibu-ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan dan tidak berpendidikan tinggi untuk memiliki keahlian dan penghasilan sehingga mampu membantu perekonomian keluarga.
Kurniati yang merupakan korban kerusuhan Sambas 1999 memiliki ikatan emosional yang tinggi kepada ibu-ibu penenun. Mereka sama-sama merupakan eks pengungsi yang mengadu nasib ke Pontianak. Terekam jelas di ingatan, 24 tahun lalu ia mulai mengajarkan tenun kepada tetangga-tetangganya yang ingin belajar sembari mengobati luka dan trauma akibat konflik yang menimpa.
Dari yang awalnya hanya ada tiga penenun, kampung tersebut kini memiliki 20 penenun. Sebanyak 19 rumah memiliki alat tenun sendiri. Dalam sebulan, produksi bisa mencapai lebih dari 50 helai kain Songket Sambas, kain wastra kebanggaan Kalimantan Barat.
“Jika mereka sudah lihai maka sudah bisa dilepas, jika memiliki modal untuk membeli alat maka perajin bisa mandiri. Mereka produksi dan jual putus kainnya kepada saya untuk dipasarkan namun mereka juga bisa jual langsung sendiri,” ujar Mak Cik.
Penjualan di rumah tenun masih menjadi andalan karena orang bisa berkunjung dan belanja sambil melihat proses produksi. Selain itu, untuk menjangkau pasaran yang lebih jauh Kurniati juga menggunakan platform digital untuk memasarkan produknya. Media sosial dan berbagai e-commerce dirambah, seperti Shopee, Tokopedia, Ladara dan Padi UMKM.
Hibah Alat Tenun Baru untuk Penenun yang Produktif
Tahun lalu BRI memberikan hibah kepada para pelaku UMKM agar mampu bangkit dari terjangan pandemi. Sebagai UMKM unggulan, Kurniati mendapat tiga set alat tenun berukuran besar, lengkap dengan bahan baku perlengkapan tenun, yang ditotal sekitar 50 juta rupiah.
Satu alat tenun digunakan Kurniati untuk pengembangan usaha di rumah tenunnnya. Dua alat tenun lainnya ia berikan kepada dua penenun yang paling produktif. Dengan syarat harus aktif produksi. Jika penenun tidak komitmen maka alat tenun tersebut akan ditarik kembali oleh perempuan kelahiran Sambas, 12 Agustus 1978 itu.
“Kami akan terus memaksimalkan pembinaan terhadap UMKM yang menjadi nasabah BRI agar dapat terus mengembangkan usahanya, terutama pemulihan pascapandemi,” jelas Khalid Khalid Danu Purnomo, Manajer Bisnis Mikro BRI Pontianak.
UMKM binaan menjadi prioritas, berbagai dukungan dilakukan seperti program pelatihan digital marketing, promosi, program hibah hingga kemudahan akses pinjaman KUR.** Editor : Misbahul Munir S