Syahriani Siregar, Pontianak
Jalan Purnama, Gg. Parit Demang, 3, dengan menggunakan Google Map yang ditautkan di Instagram akun @surprisemee, Pontianak Post mengunjungi rumah Kristin. Letak rumahnya agak masuk ke dalam, jauh dari keramaian. Tidak memiliki toko, Surprise Me Florist mengandalkan Instagram dalam proses pemasarannya. Tujuh tahun menjalani bisnis florist, semua dijalani Kristin dengan penguatan digitalisasi.
Di rumahnya yang penuh bunga, Kristin menceritakan awal mula merintis usahanya di tahun 2016. Merasa kesal karena tidak pernah diberi bunga oleh sang pacar, Kristin akhirnya membuat bunga sendiri. Hal tersebut memotivasinya.
Dengan modal tiga juta, Kristin membuka usaha di bulan Januari 2016. Berbekal gadget, ia membuat akun Instagram sebagai alat promosi. Tak disangka baru sekali unggah konten ia mendapat pelanggan. Ia pun semakin semangat dan menggencarkan promosi di media sosial. Bulan kedua usaha, Kristin sudah bisa membeli kamera untuk meningkatkan kualitas kontennya.
Awal mula merintis usaha, siapa sangka justru Kristin tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya. “Orang tua saya awalnya tidak setuju saya menjalankan bisnis ini. Bagi mereka kerja itu di kantor dan mengenakan seragam. Tapi saya ingin buktikan bahwa menjadi seorang pengusaha juga bisa membanggakan keluarga,” kenang Kristin.
Kini setelah tujuh tahun berjalan, Kristin mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Bisa sukses dan punya penghasilan yang cukup membuat Kristin semakin direstui ibunda. Setelah menikah, ia tetap menjalankan bisnis yang sesuai dengan passion-nya ini. Bahkan sang suami juga turut membantu pemasaran. Ibu satu anak ini sekarang semakin sibuk karena pesanan yang hampir setiap hari datang.
Memiliki dua orang karyawan yang membantu produksi serta satu orang kurir, Kristin menjalankan semakin mantap menjalankan usahanya, apalagi didukung dengan modal dari KUR BRI.
Surprise Me menyediakan berbagai bouquet, seperti bouquet bunga, bahkan yang lagi hits sekarang adalah money bouquet serta hampers di hari raya. Pesanan yang datang pun beragam, ada dari kantor pemerintahan, swasta, acara wisuda hingga personal.
Harga terendah adalah bouquet kecil yang biasa digunakan untuk hadiah wisuda, seharga seratus ribu rupiah, sementara tertinggi tak terbatas, sesuai dengan pesanan, hingga saat ini ia pernah menerima pesanan seharga lima juta rupiah berupa money bouquet.
Sebulan omzet yang dihasilkannya adalah 20-40 juta rupiah. Jika hari raya ia bisa mendapatkan 50 juta ke atas karena pesanan hampers yang membludak.
Menurut Khalid Danu Purnomo, jumlah UMKM digital BRI di Kalimantan Barat mengalami peningkatan dari tahun lalu, baik kuantitas maupun kualitas karena pangsa pasar yang memiliki segmen terutama dari usia.
“UMKM yang memiliki pangsa pasar anak muda atau milenial tentu saja secara digitalisasi lebih tinggi. Segmen tersebut akan memilih platform digital sebagai media pemasaran,” ujar Manajer Bisnis Mikro BRI Pontianak ini.** Editor : Misbahul Munir S