Oleh : Siti Sulbiyah
SAHAM menjadi bagian hidup dari Lo Kheng Hong. Berkat saham, bisa berkenalan dengan orang-orang berpendidikan tinggi. “Cukup tamatan SD saja, bisa jadi investor saham yang hebat. Saya kenal dengan anak muda tamatan SMA dan punya uang puluhan miliar dari saham,” ujarnya, di hadapan peserta seminar Investor Forum Terdahsyat 2023 di Pontianak dengan tema Menjadi Kaya di Bursa Saham Indonesia, Jumat (26/5) malam di Hotel Aston Pontianak.
Lo Kheng Hong menceritakan sebelum malang melintang sebagai investor pasar modal di Indonesia, ia merupakan pegawai di sebuah bank selama belasan tahun. Saat belajar saham, dirinya menyadari bahwa saham merupakan pilihan investasi terbaik, mudah dilakukan, dan memiliki keuntungan yang besar.
Dalam berinvestasi, Lo Kheng Hong menerapkan konsep Reading, Thinking dan Investing (RTI). Membaca untuk mendapatkan pengetahuan dan berpikir untuk menganalisis dampak yang akan terjadi, serta berinvestasi dalam situasi yang tepat. Ini sebagai kunci sukses dalam berinvestasi saham.
Dia menilai membaca adalah sumber inspirasi. Termasuk membaca bagaimana laporan keuangan perusahaan yang akan menjadi pilihan berinvestasi. Berbekal laporan keuangan, maka akan lebih mudah menganalisis kinerja perusahaan yang dituju dan memutuskan apakah akan berinvestasi atau tidak.
“Kamu harus membaca laporan keuangan yang banyak. Tidak ada cara lain kalau mau jadi investor yang sukses,” tegasnya.
Menurutnya, harta karun terbesar ada di pasar modal. Bila ingin menjadi investor yang untung, maka perlu memilih saham perusahaan yang bervaluasi murah. “Di bursa saham itu sebenarnya banyak saham mercy yang dijual seharga bajaj,” terangnya.
Artinya, lanjutnya, banyak saham nilainya tinggi tapi dijual dengan harga yang murah. Saham-saham seperti inilah yang seharusnya menjadi pilihan. Untuk menghindari rugi besar, maka perlu mencari saham perusahaan yang murah dan berpotensi untung besar. Jangan sampai sebaliknya, membeli saham yang mahal, namun bervaluasi rendah.
“Dan memang di pasar saham lebih banyak lagi bajaj yang dijual dengan harga mercy,” tuturnya.
Berinvestasi di pasar saham sebaiknya juga dilakukan pada perusahaan yang labanya besar. Untuk mengetahui hal ini, lagi-lagi harus mau membaca laporan keuangan perusahaan, menghitung besaran profit margin dan return on equity atau ROE perusahaan.
Lo Kheng Hong menyarankan untuk berinvestasi pada saat situasi buruk. Sebab biasanya, harga saham akan cenderung lebih murah saat situasi dan kondisi perekonomian maupun politik sedang memburuk. Hal ini bisa menjadi keuntungan bagi para investor untuk membeli dan menyimpan saham tersebut dan menjualnya kemudian hari ketika situasi mulai membaik
“Karena situasi lagi buruk maka semua murah, serba diskon. Maka saatnya kita beli dan kita simpan sampai harganya naik,” jelasnya.
Ketika sudah membeli saham perusahaan yang besar, maka langkah terbaik selanjutnya adalah ‘tidur’. Tidur yang dimaksud adalah menyimpan saham tersebut sebaik-baiknya tanpa mengutak-atik hingga jangka waktu tertentu. Dalam hal ini, diperlukan kesabaran untuk tidak buru-buru menjual saham.
“Uang besar itu bukan dari jual beli saham, tapi dari hasil menunggu. Masalah investor saat ini adalah karena tidak mau kaya secara perlahan,” ujarnya.
Lo Kheng Hong mengatakan 99 persen orang tidak percaya bahwa saham adalah investasi terbaik. Banyak yang cenderung memilih investasi dalam bentuk properti ataupun uangnya ditabung dalam bentuk deposito.
“Itu karena mereka belum tahu saham. Maka sangat sedikit yang percaya bahwa saham is the best choice,” imbuhnya. ** Editor : Misbahul Munir S