Di Pontianak, tak jauh dari pusat kota dapat kita temukan sebuah kampung kecil yang asri dengan suasana Melayu kental. Namanya Kampung Caping. Terletak di tepian Sungai Kapuas, kampung ini tengah bersolek menjadi kampung wisata yang berdampak terhadap lingkungan dan ekonomi warga.
Syahriani Siregar, Pontianak
Kampung Wisata Caping Pontianak terletak di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara. Ada beberapa pintu masuk untuk menuju kampungnya para perajin caping ini. Jalan yang paling sering dilalui adalah Gang Hj. Salmah. Begitu masuk, kita akan menjumpai sebuah rumah panggung berukuran besar khas Melayu. Kayu ulinnya kokoh dan warnanya cantik.
Kolong rumah tak pernah sepi, berbagai kegiatan sering diadakan di area tersebut. Jika tak ada acara pun anak-anak warga sekitar sering bermain di kolong rumah yang memiliki tinggi sekitar tiga meter itu.
Jauh sebelum menjadi Rumah Cagar Budaya, dahulu rumah tersebut merupakan rumah Hj. Salmah, salah satu warga yang merupakan tokoh terpandang di kampung tersebut. Pada tahun 2019 rumah Hj. Salmah yang telah usang dimakan usia dihibahkan oleh ahli waris kepada Pemkot Pontianak. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono kemudian memugar rumah tersebut pada 2021 menjadi Rumah Cagar Budaya, yang menjadi pusat aktivitas warga dan pengunjung.
Dari kolong rumah, anak-anak berlari melewati jembatan untuk menyeberang menuju teras apung yang berada di sisi sungai, tak jauh dari Rumah Cagar Budaya. Teras apung menjadi tempat santai favorit warga maupun pengunjung. Wisata kano juga dipusatkan di situ.
Di sisi yang berlawanan dari teras apung, berjajar rumah warga menghadap sungai. Banyak pemiliknya yang menyulap teras rumah mereka menjadi kedai, kafe ataupun warung kecil. Ada juga rumah kreatif dan perpustakaan warga. Jika masuk ke gang-gang kecil ke dalam dapat dijumpai rumah para perajin caping yang masih aktif hingga sekarang.
Barry Shilmon Amarullah (49), Ketua Kelompok Wisata Kreatif Kampung Caping menceritakan bagaimana awalnya kampung wisata ini terbentuk dan betapa pentingnya peran warga setempat dalam membangun lingkungan mereka menjadi kawasan yang nyaman dan mendatangkan wisatawan.
Kampung Wisata Caping berada di kawasan Kampung Bangka dan Kampung Mendawai. Yang seluruh kawasan wisata ini berada di kelurahan Bansir Laut. Kampung Caping bermula dari tahun 2018, berbarengan dengan peresmian bank sampah oleh Wali Kota Pontianak yang diinisiasi warga, agar sampah-sampah yang ada di kampung Bangka dan Mendawai ini bisa dikelola dengan baik.
“Dari program itulah kami berangkat, kami berkolaborasi dengan Beny Thanheri yang merupakan aktivis lingkungan. Akhirnya kami cetuskan agar kampung ini diberdayakan, mewujudkan kampung yang bersih, tampak indah sehingga berdampak pada ekonomi warga sekitar,” ujar Barry.
Kebiasaan warga yang senang gotong royong mempercepat proses pembangunan Kampung Wisata Caping. Pembangunan jembatan, teras apung, serta fasilitas lainnya hingga bersih-bersih rutin dilakukan warga hampir setiap hari. Hal tersebut diakui oleh Endang Purnama, Ketua RW 03 Kelurahan Bansir Laut.
“Karakteristik warga di sini senang gotong royong, kadang suka inisiatif sendiri misal bersihkan makam, jalan atau tempat umum lainnya. Gotong royong sudah seperti ngopi bagi warga sini. Tak nyaman kalau sehari saja melewatkannya,” ujar Endang.
Endang menjelaskan kekompakan warga tidak hanya tampak pada kelompok bapak-bapak saja tetapi juga ibu-ibu. Dikatakan Endang setiap hari Selasa, ibu-ibu di kampung ini kumpul dan makan bersama di teras apung. Masing-masing dari mereka membawa makanan. Hal itu rutin diadakan khusus di kalangan ibu-ibu saja, sebagai bentuk rasa kekeluargaan dan persaudaraan sekampung.
Media Sosial Bantu Promosi Kampung Wisata
Kampung Wisata Caping memiliki karakteristik yang unik yaitu penampakan caping warna-warni di tiap sudut kampung. Tak lain tak bukan karena komoditas utama kampung tersebut adalah topi caping, banyak warga yang membuat caping menjadi tumpuan hidup.
“Dalam merancang kampung wisata ini awalnya kami berpikir bagaimana produk tradisional warga dari kampung ini terangkat agar dapat diperhatikan masyarakat luas. Karena di sini ada banyak perajin caping, kami berpikir bagaimana produk konvensional yang berfungsi sebagai penutup kepala untuk petani dan nelayan tersebut bisa dilirik, akhirnya kami hias caping-caping tersebut berwarna-warni,” ungkap Barry.
Betul saja, keunikan caping warna-warni memancing rasa penasaran masyarakat kota Pontianak. Kampung Caping pun viral di media sosial. Banyak orang yang berswafoto di caping warna-warni tersebut. Akhirnya semakin banyak yang mengetahui dan mengundang orang untuk berkunjung. Bahkan wisatawan luar kota. Kelompok Wisata Kreatif Kampung Wisata Caping pun turut membangun ekosistem digital melalui Google, YouTube dan di Instagram @kim.mendawai.
Caping warna-warni menjadi inovasi menarik, Kampung Caping pun mendapat penghargaan inovasi dari kelurahan. Setelah itu mereka mengadakan event melukis caping yang dihadiri oleh camat, kadisporapar dan pihak pemkot untuk datang menyaksikan inovasi yang mereka buat.
“Mereka juga turut melukis. Itulah kegiatan pertama yang kami lakukan. Kegiatan tersebut juga viral di media sosial, di situlah kami dilihat, kampung Mendawai ada caping warna warni yang indah sekali. Nah, itulah cikal bakal ada melukis caping, salah satu wisata favorit di sini,” jelas Barry.
Ekonomi Warga Setempat Tumbuh
Seiring ramainya wisatawan yang berkunjung ke Kampung Caping untuk melihat keunikan yang dimiliki oleh kampung tersebut, geliat ekonomi warga pun semakin meningkat. Banyak warga yang membuka usaha kuliner di kawasan wisata. Kedai makan, kafe dan warung-warung kecil terus tumbuh sejak 2018 hingga sekarang.
Tercatat 58 UMKM kuliner dan 25 perajin caping yang menggantungkan hidup di kampung tepian Kapuas ini. Dari pihak perbankan dan non perbankan pun turut menyokong perkembangan kampung ini.
BRI salah satunya, bank pemerintah ini mendukung kemudahan para pelaku usaha di Kampung Wisata Caping untuk mengembangkan usahanya dengan kemudahan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dari total 25 perajin caping, tercatat 15 perajin mendapatkan manfaat kucuran modal tersebut.
Sebagai salah satu kampung wisata binaan unggulan BRI, Kampung Caping yang tepatnya berada di Gang Mendawai ini mendapat berbagai manfaat yang diberikan, mulai dari pinjaman modal, hibah dan berbagai pelatihan peningkatan kapasitas dalam usaha.**