Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mak Midot, Eksistensi Perajin Caping Tepian Kapuas

Siti • Kamis, 15 Juni 2023 | 10:06 WIB
Mak Midot, seorang perajin caping Kampung Mendawai sedang menyemit daun mengkuang untuk dijadikan topin caping. (Syahriani/Pontianak Post)
Mak Midot, seorang perajin caping Kampung Mendawai sedang menyemit daun mengkuang untuk dijadikan topin caping. (Syahriani/Pontianak Post)

Kampung Mendawai memiliki puluhan perajin caping yang masih aktif hingga kini. Dari masa ke masa, warga Mendawai merawat keterampilan membuat caping untuk menyokong ekonomi keluarga, walau jumlahnya kian menyusut. Hadirnya konsep kampung wisata di Mendawai memberi inovasi baru pada produk caping.


Syahriani Siregar, Pontianak


Mengunjungi Kampung Mendawai tidak sah jika tak berkunjung ke industri rumahan pembuat caping. Siang itu Pontianak Post berkesempatan mengunjungi salah satu perajin caping di sana. Jembatan tepian Kapuas menjadi jalan utama untuk dilewati, kemudian dituntun masuk ke gang sempit di seberang sungai. Sekira 100 meter dari depan, sampailah di rumah sederhana berlantai kayu. Di depan rumah dipasang spanduk bertuliskan “Perajin Caping dan Tudung Pontianak Tenggara”.


Di dalam rumah duduk seorang perempuan paruh baya sedang sibuk menyemit daun-daun kering yang kemudian membentuknya menjadi model kerucut. Dia adalah Hamidah (55), sang pemilik rumah. Hamidah merupakan satu dari 25 perajin caping yang ada di Kampung Mendawai Kelurahan Bansir Laut, Pontianak Tenggara.


Dalam kesibukannya larut membuat caping, Hamidah bercerita bagaimana selama 30 tahun ini ia menikmati harinya sebagai perajin caping. Dari usia remaja, perempuan paruh baya yang akrab disapa Mak Midot ini sudah membuat caping. Mulai dari mencari bahan-bahan mentah di hutan, menjemur, melayur, menjalin hingga membuatnya menjadi topi caping ataupun yang terbaru ada tudung saji.




Photo
Photo
Jalan masuk ke rumah Mak Midot, salah satu perajin caping di Kampung Mendawai. (Syahriani/Pontianak Post)

Proses pembuatan caping ternyata cukup panjang. Dijelaskan Mak Midot bahan baku yaitu daun mengkuang menjadi penentu bagus atau tidaknya produk yang bisa dihasilkan.


Daun mengkuang (Pandanus artocapus) adalah sejenis tumbuhan dari keluarga tanaman pandan. Mengkuang memiliki duri di setiap sisinya, tanaman ini sering dipakai untuk membuat berbagai anyaman dan kerajinan tangan.


Selain daun mengkuang sebagai bahan baku, diperlukan bahan pendukung lainnya seperti penyemit sagu, rotan dan tali kelayang untuk menjahit.


Jika sudah memiliki daun mengkuang, tidak bisa langsung dibikin topi. Ada proses pengeringan terlebih dahulu. Butuh waktu maksimal satu minggu agar bisa dibentuk.


“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuang durinya, kemudian dijemur di sinar matahari. Kalau musim panas butuh waktu 3-4 hari menunggu kering, kalau musim penghujan bisa sampai satu minggu. Jika sudah kering baru bisa dipotong-potong dan dilayur dengan api kemudian dijalin dengan tali kelayang barulah dibentuk topi,” jelasnya.


Jari jemari Mak Midot tak berhenti bergerak, menyemit daun mengkuang satu ke mengkuang lainnya, sembari menjelaskan bagaimana caranya membuat topi caping. Sesekali ingatannya kembali ke masa muda.


Kalau dulu waktu saya masih muda ramai yang bisa bikin caping. Kami mengerjakannya di satu tempat yang rumahnya besar, sambil ngobrol dan ngopi, senang sekali” kenangnya.


Sebagai orang asli Mendawai, diakui Mak Midot sudah tidak banyak lagi perajin caping yang tersisa di kampung halamannya. Walau tak sebanyak dahulu, namun kebiasaan kumpul bikin caping sambil ngopi masih dilakoninya bersama teman sebaya walau sudah sangat jarang dan tak banyak lagi jumlahnya.


Bahkan di keluarganya, tidak ada generasi berikutnya yang bisa meneruskan warisan leluhur sebagai perajin caping. “Saya belajar dari ibu, sementara ibu belajar dari nenek. Anak saya tidak ada yang mau meneruskan. Tapi kalau untuk melukis dan mewarnai caping, anak pertama saya jagonya,” cerita Mak Midot.


Dalam satu hari Mak Midot bisa mengerjakan sepuluh topi caping, tapi terkadang jika ingin dikebut maka dalam satu hari pengerjaan ia bisa menghasilkan satu kodi (20 buah). “Kadang mulai mengerjakan dari selesai salat subuh sampai malam bisa dapat satu kodi. Kalau urusan rumah ada anak saya yang mengerjakannya, mulai kemas rumah sampai masak,” ungkapnya.


Kalau dihitung rata-rata, dalam seminggu Mak Midot bisa menyelesaikan tiga kodi topi caping. Kemudian ia akan menjualnya ke pengepul. Ada empat pengepul yang menjadi langganannya. Satu kodi topi caping putih polos dijual dengan harga Rp140.000. Hasil penjualan caping dapat membantu perekonomian keluarga.


Apalagi sejak berkembangnya Kampung Wisata Caping, inovasi topi caping warna-warni membawa berkah untuk Mak Midot. Tak hanya sebagai penutup kepala untuk petani dan nelayan, topi caping sudah bertambah fungsi menjadi hiasan dinding untuk oleh-oleh yang dipesan wisatawan. Pengembangan produk tudung saji juga sudah dikerjakan Mak Midot walau permintaan tidak rutin.




Photo
Photo
Mak Midot dan produk topi caping beserta tudung saji warna-warni yang dihias motif khas Pontianak. (Syahriani/Pontianak Post)

Topi caping serta tudung saji warna-warni dengan motif khas Kalimantan Barat tersusun indah di rumahnya. Lukisan elok sang putra sulung menghiasi caping buah karya Mak Midot.**

Editor : Siti
#Kampung Caping #mak midot #Kampung Mendawai #perajin caping #tudung saji