Peperangan Tak Seimbang Antara Upaya dan Harga Jual
Di tengah gemuruh alam tropis yang memanjakan telinga dan angin sepoi-sepoi yang mengusap wajah, terdapat kisah tak kalah menarik dari ujung wilayah Kalbar barat. Di beberapa daerah terpencil di Kalimantan Barat, nasib petani singkong menyisakan kepingan haru dalam perjuangannya menghadapi tantangan ekonomi, alam sampai ke harga jual. Seperti apa kisahnya ?
DENY HAMDANI, PONTIANAK.
MELANGKAH ke lahan-lahan kebun singkong di sebuah Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau terlihat pemandangan petani dengan wajah lelah dan penuh keraguan. Mereka yang dulu bermimpi membawa kemakmuran bagi keluarga, kini terpaksa menghadapi kenyataan pahit. Biaya pengeluaran yang harus ditanggung, seperti pembelian bibit unggul, pemupukan, biaya pekerja, dan biaya lainnya, ternyata tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
"Sungguh terharu, melihat perjuangan para petani singkong di kebun ini. Mereka bekerja keras, melelahkan diri, tetapi hasil yang diperoleh jauh dari harapan," ujar Marsius, seorang petani singkong di Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga jual singkong merosot. Sementara biaya produksi terus meningkat. Petani menghadapi tantangan besar dalam mengatasi permasalahan ini. Mereka terjebak dalam lingkaran, di mana harus terus bekerja keras tanpa melihat keuntungan signifikan. Apalagi, beberapa petani juga terbelit hutang karena terpaksa meminjam uang memenuhi kebutuhan produksi.
Keadaan semakin sulit ketika perusahaan penampung setempat, hanya bersedia membeli hasil panen singkong dengan harga yang kurang pantas, yakni Rp900 sampai 1000/kilogram. Harga tersebut jauh di bawah biaya produksi yang mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi kehidupan petani secara finansial, tetapi juga secara emosional dan psikologis.
Dalam menghadapi kondisi yang tidak adil, beberapa petani singkong di Kalimantan Barat telah mencoba mencari solusi alternatif. Beberapa di antaranya membentuk kelompok tani memperkuat posisi tawar mereka dalam bernegosiasi dengan perusahaan. "Kami juga mencari pasar alternatif, tetapi tetap saja tidak ketemu," kata Marsius yang juga pegawai perusahaan keuangan daerah di Kalbar ini.
Di Kecamatan Tayan ini, para petani singkong seperti mengalami tantangan ekonomi tiada henti. Meski air alam berupa hujan dan air sungai mengalir melintasi ladang memberi kesuburan, harga jual singkong yang fluktuatif menjadi momok untuk petani. Dengan matahari sebagai saksi setia, petani setempat terus memupuk harapan, berharap bisa memanen kebahagiaan di akhir perjuangan panjang mereka.
"Kami berdoa dan berjuang setiap hari. Singkong adalah nafas hidup kami. Tapi ketika harga anjlok, itu seperti kehilangan napas. Kami harus tetap berdiri, mengatasi badai ekonomi ini," ucapnya.
Menurutnya memang tantangan yang dihadapi para petani singkong di Kalimantan Barat tidak mudah. Untuk menjadikannya sebagai produk olahan juga tak seperti membalikan telapak tangan. Para petani masih menghadapi kendala mengembangkan produk olahan, seperti kurangnya akses pasar luas, pengetahuan terbatas mengenai teknik pengolahan modern dan masalah lain. "Diperlukan dukungan dari pemerintah dan pihak terkait guna memberikan pelatihan, bantuan modal, serta membantu memperluas pasar agar petani dapat meningkatkan pendapatan mereka," ucapnya.
Selain itu, penting juga untuk mendorong perusahaan penampung agar membayar harga adil kepada petani singkong. Harga jual tidak seimbang dengan biaya produksi hanya akan semakin memperburuk nasib petani. Dalam rangka menciptakan keadilan, perlu adanya kesepakatan antara petani, perusahaan, dan pemerintah untuk menetapkan harga yang pantas dan menguntungkan bagi semua pihak.
Tidak hanya itu, promosi dan pemasaran produk singkong juga perlu ditingkatkan. Potensi singkong Kalimantan Barat yang kaya akan cita rasa dan keunikan harus dieksplorasi dan dipromosikan dengan baik. Melalui peningkatan pemahaman konsumen tentang nilai tambah dan manfaat produk singkong, dapat tercipta permintaan yang lebih tinggi dan harga jual yang lebih menguntungkan bagi petani. (**) Editor : Misbahul Munir S