Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hari Ayah Nasional: Pahlawan Dalam Sepotong Hati Anak-Anaknya

A'an • Senin, 6 November 2023 | 16:45 WIB
Setiap tanggal 12 November dalam kalender nasional merupakan Hari Ayah.
Setiap tanggal 12 November dalam kalender nasional merupakan Hari Ayah.

Setiap tanggal 12 November menjadi momen sakral bagi sang pemilik nama "AYAH". Momen tersebut diperingati sebagai Hari Ayah Nasional dalam kalender penanggalan Indonesia. Memang terdengar klise, mengingat sudah ada Hari Ibu sebelumnya. Namun kisah heroik perjuangan sosok Ayah, yang berjuang tanpa pamrih ketika bahagia, susah, sedih, dan terpuruk, akan tetap terpatri di hati anak-anaknya yang berbakti. Seperti apa sosok Ayah ?

DENY HAMDANI, PONTIANAK

MASIH ingat dengan sepenggal lirik lagu, "Ayah. Engkaulah nafasku. Yang menjaga di dalam hidupku. Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik. Kau tak pernah lelah. Sebagai penopang dalam hidupku. Kau berikan aku semua yang terindah. Aku hanya memanggilmu Ayah. Di saat ku kehilangan arah. Aku hanya mengingatmu Ayah. Jika aku tlah jauh darimu. Kau tak pernah lelah. Sebagai penopang dalam hidupku. Kau berikan aku semua yang terindah. Aku hanya memanggilmu Ayah" Lirik lagu yang dibawahkan Ifan Seventeen.

Bagi banyak anak, lirik lagu tersebut sebagai ungkapan cinta dan penghargaan seorang anak terhadap Ayahnya. Setiap bait liriknya menyentuh hati, mengetarkan jiwa dan menggambarkan betapa besarnya pengaruh Ayah dalam kehidupan anak-anaknya. Lirik lagu ini juga mencerminkan perasaan kerinduan, kasih sayang, dan terima kasih tulus kepada sosok Ayah.

Dalam lirik lagu ini, sekaligus mencerminkan perasaan sejati, banyak anak terhadap sosok Ayah mereka. Ini adalah pengakuan atas dedikasi, cinta, dan pengorbanan yang diberikan Ayah dalam membimbing anak-anaknya menjalani kehidupan. Lirik lagu "Ayah" mengingatkan semua pentingnya merayakan dan menghormati peran Ayah dalam keluarga, dan masyarakat.

Salah satu kisah patut dicontoh, bagaimana Ahmad(68), seorang Ayah dari desa terpencil dari Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya telah berjuang sepanjang hidupnya untuk ke-4 anak-anaknya.

Sejak anaknya masih orok hingga dewasa, Ahmad, seorang pria sederhana telah berjuang tanpa henti demi masa depan lebih baik. Dia telah bekerja keras sebagai pekerja serabutan sepanjang hidupnya. Terikat dengan sinar matahari panas dan keringat mengucur, sudah menjadi bagian hidupnya.

"Namun, kerja keras saya berbuah hasil. Ke empat anak saya, sudah mapan sekarang. Dari menjadi guru, sampai bekerja di perusahaan besar di Jakarta. Bangga rasanya, mau cerita takut Riya. Tetapi bagi saya, anak-anak adalah investasi masa depan, meski saya harus menderita sejak muda," ucap pria paru baya ini bercerita di rumahnya.

Ahmad masih ingat, ketika masih berusia 18 atau 19 tahun di masa lalu. Di usianya yang masih sangat muda, Ahmad harus menghadapi kenyataan bahwa dia akan menjadi ayah dari seorang bayi.

Meski masalahnya sulit, dia sudah berjanji ke istrinya, untuk tidak menyerah dan bertanggungjawab akan masa depan anak-anaknya.

Dia bekerja serabutan di berbagai pekerjaan, dari tukang kayu, buruh pabrik, petani, nelayan, dan berdagang hanya untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi keluarganya.

Meski hidup serba kekurangan, Ahmad tidak pernah melepaskan impiannya memberikan pendidikan yang baik bagi keempat anaknya. Dia meluangkan waktu, tenaga, penghasilan, dan kadang-kadang makanan demi biaya sekolah anak-anaknya.

"Sering pulang larut malam, setelah bekerja keras, terkadang ada luka di tangan dan mata lelah. Namun saya selalu memberikan dukungan dan semangat kepada kami, bahkan ketika situasi ekonomi keluarga sangat sulit," katanya.

Perjuangan Ahmad bukan hanya tentang mencari nafkah. Ia juga harus menjalani banyak hal sulit yang mungkin tak pernah dibayangkan siapapun. Dari tidur singkat, makan seadanya, hingga berkendara dengan sepeda tua yang setia menemani perjalanan hariannya.

Ahmad telah menghadapi semuanya. Ia adalah contoh sejati dari seorang pria yang tak pernah menyerah, tak pernah mengeluh, dan selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki.

Di waktu jeda bekerja, Ahmad sering menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah. Meskipun pendidikannya tak terlampau tinggi, karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, namun urusan baca tulis dan berhitung, dia cukup lihai. Ahmad mengajarkan anak-anaknya membaca, menulis, dan berhitung.

Meskipun buku-buku pelajaran adalah barang mewah di waktu itu, dia tetap berusaha memenuhinya. Dia tahu betul, ahwa pendidikan adalah kunci menuju kesuksesan, dan tidak ingin anak-anaknya terbelenggu karena keterbatasan ekonominya.

Ahmad tidak hanya menjadi Ayah yang baik, tetapi juga seorang teman sejati. Ia selalu mendengarkan keluh kesah anak-anaknya, memberikan nasihat bijak, dan menghibur saat mereka merasa putus asa. Dia adalah tempat berlindung mereka, di saat badai kehidupan menerpa.

Saat ini, anak-anak Ahmad telah tumbuh dewasa. Mereka telah mengejar impian mereka masing-masing dan menjadi orang sukses. Mereka tahu bahwa semua pencapaian mereka adalah hasil perjuangan seorang Ayah yang tak pernah lelah bekerja.

Dan kisah Ahmad sendiri mencapai puncak ketika keempat anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi mereka. Ketekunan dan perjuangannya akhirnya membuahkan hasil memuaskan.

Anak-anaknya masing-masing telah meraih gelar sarjana di berbagai bidang berbeda. Mereka menjadi bukti hidup dari keberhasilan seorang Ayah yang bersedia berkorban demi masa depan anak-anaknya.(**)

Editor : A'an
#hari ayah nasional