Kumpulan kelompok kemanusiaan berhimpun pada 13 November 1997 dan mengeluarkan Deklarasi Kebaikan di Tokyo, Jepang. Sejak 2019, peristiwa tersebut diperingati sebagai Hari Kebaikan Sedunia (World Kindness Day).
RAMSES TOBING, Pontianak
MOMENTUM peringatan itu pun menjadi pengingat bagi umat manusia untuk selalu berbuat baik. Tidak hanya pada diri sendiri tapi juga orang lain.
Kebaikan bisa diartikan perilaku yang memberikan dampak positif pada orang lain. Kebaikan itu berangkat dari sikap empati dan kepedulian terhadap sesama.
Bagi orang-orang berbuat baik adalah kebahagiaan dan tak sebanding dengan materi. Lelah itu terbayarkan usai melakukan kebaikan. Meskipun hanya tindakan yang sederhana.
Ada orang yang merelakan waktu, tenaga dan uang untuk melakukan kebaikan tanpa mengharapkan balasan dari orang yang ditolong. Jubeironi misalnya.
Pria yang sehari-hari menjadi driver ojek online itu masih tetap melakukan gerakan sosial tanpa pamrih. Ubai, begitu pria berusia 34 tahun ini disapa.
Saat pandemi Covid-19 cerita heroik Ubai tersiar. Ia rela menghabiskan waktu untuk mengantri oksigen bagi pasien yang terkena Covid-19.
Bahkan mengantarkan vitamin dan obat-obatan. Tanpa dibayar sepeser pun.
Ubai merasa menolong sesama adalah gaya hidupnya. Apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19.
Kebutuhan oksigen tinggi. Sementara ketersediaan tidak banyak. Jika pun ada harus mengantri panjang. Ubai merelakan waktunya hanya untuk mengantre.
Bantuan tanpa biaya diberikan Ubai kepada pasien Covid berupa pengantaran obat-obatan, oksigen, maupun belanja bahan pokok.
Dia rela mengantre dari jam lima subuh hingga sore hari. Bahkan, pengantaran oksigen dilakukannya hingga tengah malam. Apabila darurat, dini hari pun dilakoninya.
Semua dilakukannya secara gratis. Ubai tak mau menerima bayaran dari setiap bantuannya. Dia bahkan berani membayar terlebih dahulu kebutuhan yang dibeli untuk pasien isolasi mandiri.
“Membantu sesama dan bawaan jiwa. Membantu atau menolong itu lebih keren daripada dibantu. Menolong sesama itu adalah lifestyle,” kata Ubai di Pontianak, siang kemarin.
Ubai bercerita saat ia mendapat orderan via Go Shop di masa-masa pandemi Covid-19. Saat itu orderan yang masuk memintanya mengisi ulang tabung oksigen.
Seketika itu juga ia bergegas menuju pengisian oksigen di Jalan Pangeran Antasari, Pontianak.
Begitu sampai di sana, antrean isi ulang oksigen pun sudah mengular. Ketika itu kasus Covid-19 di Pontianak memuncak, pasokan oksigen terbatas, di pun harus mengantre berjam-jam baru mendapatkan oksigen.
“Saya pernah antre hingga enam jam,” kata Ubai.
Biar pemesan tidak lama menunggu, Ubai meminta agar orderan diselesaikan. Sebab, ia biasanya selalu berbekal tabung oksigen.
Ketika ada yang butuh, tabung oksigen yang dibawanya diantar ke pemesan. Sementara tabung oksigen milik pemesan akan tetap diantrekanya di tempat pengisian ulang.
“Jadi ngojek tetap jalan. Yang butuh tabung oksigen bisa dapat cepat dan tidak harus mengantre berjam-jam,” cerita ujar pria yang tergabung dalam Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) Kota Pontianak ini.
Bagi Ubai, ada kepuasan tersendiri saat bisa membantu sesama di tengah peliknya situasi pandemi Covid-19. Bantuan yang diberikannya tidak melihat suku dan agama.
“Sedihnya ada orang yang dibantu meninggal. Ada beberapa yang dibantu, bahkan pihak keluarga sudah berbicara, namun sudah menjadi takdir tuhan,” kenang Ubai.
Kini aktivitas itu masih dilakoninya. Khususnya peminjaman tabung oksigen bagi pasien yang membutuhkan. Termasuk pengantaran obat-obatan.
Terjauh ia pernah mengantar hingga ke kawasan Sungai Durian, Kabupaten Kubu Raya.
“Kegiatan sosial yang seperti pandemi sudah agak berkurang. Namun layanan peminjaman tabung oksigen tetap saya lakukan dan ready selalu,” kata Ubai.
Ubai merasa sudah menjadi komitmen sejak lama anti menolak orderan untuk pembelian obat-obatan via aplikasi ojek online.
Bagaimanapun situasi dan kondisinya, bila berkenaan dengan obat-obatan atau pembelian susu untuk bayi, maka akan dijalani dalam kondisi dan jarak berapapun.
Soal pengantaran, kata Ubai tak tentu. Kadang ada dalam sepekan dan kadang tidak ada. Karena untuk pesanan itu random sesuai masuk ke aplikasi.
“Kalau obat masih tetap saya layani sampai sekarang,” kata Ubai.
Namun Ubai juga mengingatkan bahwa kehidupan di jalanan selain membantu sesama ketika merupakan hal yang lumrah dilakukan dan sering dijumpai. Sebab belakangan harus berhati-hari sendiri.
Misalnya mengantar pejalan kaki, harus diiringi dengan pikiran negatif untuk keamanan. Seperti mengantar ke tempat yang tidak dikenal. Hal itu untuk menghindari kriminalitas dan ketersinggungan. (*)
Editor : A'an