Pandemi jadi masa terpuruk bagi Kurniati. Pemilik Rumah Perajin Tenun Kurniati Songket ini sempat ingin gulung tikar setelah dua dekade merintis usaha Songket Sambas. Dengan kesabaran dan ketepatannya mengambil peluang, Kurniati mampu bertahan melewati pandemi.
Syahriani Siregar, Pontianak
Di rumah tenun Kurniati, puluhan kain Songket Sambas dengan warna-warni yang cerah terlihat tersusun indah.
Saat Pontianak Post berkunjung ke rumah tenunnya, Kurniati sedang merapikan kain-kain songketnya. Ada yang menunggu diambil pembeli, ada juga yang akan dikirim ke luar kota.
Tercatat pembelian satu bulan sudah mencapai 50 helai kain songket. Jauh meroket dari tahun-tahun sebelumnya. Kurniati menceritakan kisah pilunya menjalanakan usaha di tengah pandemi.
Dua tahun yang membuat frustasi Kurniati. Bagaimana tidak, pandemi sempat membuat usaha tenunnya sepi bahkan tidak ada pembeli.
Omzet yang biasanya 60 juta per bulan, saat pandemi ia harus rela mengantongi tiga juta rupiah saja setiap bulan.
Bahkan banyak teman-teman penenun lain yang menjual alat tenunnya atau bahan habis sementara tidak ada modal untuk mengisinya lagi, kemudian berhenti produksi.
Berbeda dengan Kurniati, ia masih memiliki banyak bahan baku untuk diolah, namun sayang penjualan tak mendongkrak, modal tak berputar.
Akhirnya ratusan helai kain songket tersimpan penuh dalam lemarinya. Pusing, ia harus memutar otak untuk menggaji karyawan.
“Tidak ada kunjungan sama sekali, produksi jalan terus tapi barang tidak ada yang laku, sampai penuh lemari saya dengan kain songket,” kenang Kurniati.
Dalam kegundahan hatinya, pertolongan datang. Sebagai nasabah BRI dan UMKM binaan, Kurniati diberi kemudahan dalam pengambilan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ia diperkenankan mengambil plafon di atas 100 juta.
Tak menyiakannya, Kurniati mengambil tawaran tersebut untuk bertahan di tengah krisis yang ada. Proses mudah dan tak butuh waktu lama.
“KUR memang jadi pertolongan pertame saye kemaren, tuh. Untungnye orang BRI maseh pecayak, kalau ndak goyang sekali. Rase dah pengen tutup jak usaha nih, gaji karyawan susah, makan susah, mau jual kain tak laku. Janganlah datang Covid lagi nih, peneng kepala saye,” cerita Kurniati dengan logat Melayu yang kental.
Sebagai pengambilan pertama, ia hanya mengajukan 50 juta dengan bunga 0,5 persen setiap bulan.
Sebagian dari dana yang diambil ia simpan sebagai tabungan, sebagiannya lagi dia gunakan untuk menggaji karyawan. Lega, tidak ada tunggakan dan pengurangan gaji karyawan.
Tak berdiam diri, Kurniati menggencarkan promosinya secara digital. Tak bisa berharap penuh dengan penjualan offline saat pandemi, ia meminta anaknya untuk memasarkan produknya di media sosial dan e-commerce.
Tercatat ada sedikit penambahan penjualan lewat platform digitalnya. Kurniati kembali tertolong. Dengan sisa modal yang ada dan inovasi ke platform digital, Kurniati semangat bangkit dan bertahan.
Setelah pandemi mereda, aktivitas kembali normal, kunjungan ke rumah tenunnya kembali menggeliat. Satu lemari penuh songket saat pandemi pun ludes terjual. Pesanan kembali meroket.
BRI Komitmen Beri Dukungan kepada UMKM Terdampak Pandemi
Manajer Bisnis Mikro BRI Pontianak, Khalid Danu Purnomo mengatakan bahwa KUR adalah komitmen pihaknya untuk memberikan dukungan ke pelaku usaha kecil dan berkembang.
Terutama saat pandemi dimana banyak UMKM yang kesulitan untuk bertahan.
“KUR sudah naik kelas sekarang, dari jumlah plafon sudah di atas 100juta, kalau dulu hanya 50 juta. Kenaikan KUR dari kecil ke menengah kita harapkan sampai ke kupedes. Selama periode peinjaman lancar dan memiliki prospek bisnis yang baik, kami naikkan kelas. Plaforn kupedas 100 - 500 juta,” ujarnya.
Dalam melakukan pembinaan terhadap UMKM yang menjadi nasabah,BRIi melakukan holding dengan PT Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam menyalurkan bantuan untuk pelakuUMKM di Pontianak dan Kubu Raya.**
Editor : Heriyanto Pontianak Post