Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kisah Kurniati, Rintis Kampung Tenun di Pengungsian

Heriyanto • Jumat, 8 Desember 2023 | 21:46 WIB
Kurniati merintis usaha tenun songketnya sejak tahun 1999. Menjadi korban kerusuhan Sambas di masa itu memaksa Kurniati pindah ke Pontianak untuk mengadu nasib.
Kurniati merintis usaha tenun songketnya sejak tahun 1999. Menjadi korban kerusuhan Sambas di masa itu memaksa Kurniati pindah ke Pontianak untuk mengadu nasib.

“Kurniati Songket sejak 1999”. Begitu tagline yang melekat pada usaha tenun songket Sambas yang terletak di Jalan Khatulistiwa Gg. Sambas Jaya Kelurahan Batu Layang. Tak sulit menemukannya, gapura besar bertuliskan “Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa” dengan tulisan “Sejak 1999” di kedua pilarnya menuntun kita ke rumah perajin tenun Kurniati Songket.

Syahriani Siregar, Pontianak

Tahun 1999 begitu bersejarah bagi Kurniati (45), sang pemilik usaha. Kurniati muda menjadi korban kerusuhan Sambas kala itu.

Konflik antaretnis yang menyebabkan ribuan rumah terbakar dan ribuan warga meninggal karena kekerasan.

Kurniati dan puluhan ribu orang lainnya diungsikan dari Sambas ke Pontianak.

Di tengah kepiluan hati pascakonflik, Kurniati dipaksa bangkit untuk meneruskan hidup. Dengan modal 60 ribu dan bakat tenun yang diwarisi oleh kedua orang tua, Kurniati merintis usaha tenunnya.

Di tempat tinggal baru, Gg. Sambas Jaya, ia mengajarkan perempuan-perempuan eks pengungsi lainnya menenun untuk menyambung hidup sembari mengobati luka dan trauma.

Kini kerja kerasnya untuk mengembangkan daerah tempat tinggalnya menjadi sentra tenun tidak sia-sia.

Dari yang hanya ada tiga perajin, sekarang kampung yang berada di daerah batas kota itu telah memiliki 20 perajin. Sebanyak 19 rumah telah memiliki alat tenun sendiri untuk produksi mandiri.

Pada akhir 2018, daerah tersebut diresmikan menjadi Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa oleh Pemerintah Kota Pontianak.

Akses jalan menuju ke dalam diperbesar dan dibaguskan, gapura masuk juga dibangun megah.

Banyak pihak yang menggandeng Kurniati Songket menjadi mitra binaan, terutama BUMN.

“Waktu awal merintis rasanya sulit sekali, jalannya merangkak bahkan sampai berhutang sana-sini. Kalau sekarang sudah mudah, malah banyak yang datang ke rumah untuk tawaran modal dan pinjaman,” kenang Kurniati.

Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa kian dikenal, banyak yang berkunjung ke rumah tenunnya mulai dari wisatawan lokal hingga mancanegara, pejabat daerah maupun pejabat negara. Selesai berkunjung, kain tenunnya selalu diborong sebagai oleh-oleh.

Songket Sambas menjadi produk unggulan. Terdiri dari kain dan selendang, satu setel dibanderol dengan harga 800 ribu hingga 5 juta rupiah.

Kurniati mampu menjual 20 - 60 helai per bulannya. Berbagai motif dan warna tersedia, motif pucuk rebung menjadi yang paling favorit.

Salah satu perajin di Rumah Tenun Kurniati Songket sedang asyik menenun.
Salah satu perajin di Rumah Tenun Kurniati Songket sedang asyik menenun.

Jika ada pesanan khusus dengan bahan dan motif tertentu maka harga per kain bisa mencapai 15 juta rupiah.

Semua orang bisa berkunjung ke rumah tenunnya, sambil melihat proses penenunan setiap hari. Ada enam buah alat tenun dengan berbagai ukuran yang biasa digunakan untuk produksi.

Tak hanya mengandalkan pasar offline, Kurniati juga menggunakan platform digital untuk memasarkan produknya. Media sosial dan berbagai e-commerce dirambah, seperti Shopee, Tokopedia, Ladara dan Padi UMKM

Ibu nih gaptek, manelah kite kan orang dolok-dolok tapi kite harus ikutkan zaman, makenye anak ibu yang jalankan medsos same e-commerce tuh. Tapi kalau mobile banking pandai pula ibu pakainye," ujar Kurniati dengan logat Melayu yang kental kepada Pontianak Post.

UMKM Unggulan Binaan BRI Pontianak

Rumah Perajin Kurniati Songket merupakan UMKM unggulan binaan BRI Pontianak. Diakui Kurniati, sokongan BRI terhadap usahanya begitu terasa apalagi saat pandemi Covid-19.

Dukungan yang diberikan berupa program pelatihan seperti digital marketing, promosi, kunjungan tamu ke rumah tenun, hibah alat hingga kemudahan akses pinjaman modal usaha dengan bunga yang sangat ringan.

Manajer Bisnis Mikro BRI Pontianak, Khalid Danu Purnomo mengatakan pihaknya akan terus memaksimalkan pembinaan terhadap UMKM yang menjadi nasabah BRI agar dapat terus mengembangkan usahanya, terutama pemulihan pascapandemi.

“Dalam melakukan pembinaan terhadap UMKM yang menjadi nasabah, kami melakukan holding dengan PT Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam menyalurkan bantuan untuk pelaku UMKM di Pontianak dan Kubu Raya,” ujarnya.**

Editor : Heriyanto Pontianak Post
#pengungsian #UMKM #Kampung Tenun #bri #kurniati songket