Pertemuan dengan mahasiswa membuat hidup Siti Qomariyah berubah. Dia memperoleh banyak ilmu untuk mengolah buah nanas menjadi sirup. Perekonomiannya meningkat. Produknya pun menjadi pendorong ekonomi lokal.
Ramses Tobing, Kubu Raya
Bagi Qomariyah, nanas hanya bisa dimakan langsung. Jika diolah pun, hanya menjadi selai sebagai bahan pelengkap pembuatan kue kering. Atau, menjadi teman saat makan roti.
Namun, pandangan ini berubah sejak kedatangan mahasiswa Institut Pertanian Bogor ke rumahnya di Dusun Jaya Kencana, Desa Sungai Malaya, Sungai Ambawang, Kubu Raya pada tahun 2018.
"Saat itu mahasiswa datang untuk melihat produksi pertanian nanas milik masyarakat," jelas Qomariyah.
Ketika itu produksi melimpah. Namun, tak banyak yang memanfaatkan menjadi produk olahan. Jika pun ada hanya selai.
Produksi selai ini sulit dijual karena masyarakat juga bisa membuatnya. Akhirnya karena tak ada pilihan, warga di sana memilih menjual buah tanpa diolah setelah panen. Harga jual juga rendah. Bahkan, pernah hanya Rp1.000 per buah.
Oleh mahasiswa itu, Qomariyah diajarkan membuat produk olahan berupa sirup nanas. Harapannya dengan mengubah komoditas mentah menjadi produk agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Nantinya bermanfaat untuk perekonomian masyarakat setempat.
“Selama ini yang saya tahu nanas hanya bisa diolah selai. Saya kaget kok bisa,” cerita Qomariyah.
Percobaan pertama itu berhasil. Sirup yang dibuat itu tidak menghilangkan cita rasa nanas. Beberapa warga yang mencicipi mengakuinya.
Namun, wanita berusia 47 tahun ini belum yakin sepenuh hati. Ia kembali meminta testimoni dari beberapa teman.
Sirup nanas dibawa keluar Dusun Jaya Kencana. Responnya sama. Rasa manis alami buah tropis masih tetap terasa. Qomariyah semakin bersemangat. Ia memutuskan untuk segera memproduksi. Namun, belum dalam jumlah besar.
Qomariyah tak pernah khawatir kekurangan bahan baku. Sebab, hasil pertanian nanas di Dusun Jaya Kencana, Desa Sungai Malaya sangat melimpah. Hal yang membuatnya masih ragu adalah rasa.
Sebelum memproduksi massal, ibu tiga anak ini, terus melakukan percobaan soal rasa. Saat rasa sudah pas, dia juga melakukan uji coba ketahanan sirup nanas.
"Uji coba pertama sirup bisa bertahan selama satu bulan. Berhasil. Namun kembali melakukan uji coba dengan masa expired yang lebih panjang. Tujuh bulan. Dan berhasil," ungkapnya.
Setelah berhasil dengan beberapa kali percobaan, Qomariyah mulai memproduksi sirup nanas.
Sirus dikemas dalam botol dengan takaran 200 ml. Harga Rp15.000. Di awal-awal produksi, minuman yang diberi label Sirup C Nako ini tak langsung laris.
Qomariyah pelan-pelan memasarkannya. Dari pintu ke pintu, mulut ke mulut, perlahan-lahan sirup mulai dikenal. Mulai ada yang memesan untuk beberapa acara.
Bahkan, pemesan paling jauh saat itu dari Kota Singkawang. Jumlah yang dipesan juga lumayan banyak. Sekitar 70 botol kemasan ukuran 20 ml.
“Di awal-awal sempat rugi juga. Dibawa sama anak tapi tidak ada yang laku,” kenang Qomariyah.
Hampir dua tahun berjalan. Covid-19 melanda. Secara otomatis produksi sirup pun nyaris berhenti total.
Pemesanan turun karena pengaruh dari kebijakan yang melarang aktivitas keluar masuk daerah dari pemerintah untuk menekan penyebarluasan Covid-19.
Qomariyah gelisah. Sirup tak hanya menjadi mata pencaharian keluarganya, tapi juga beberapa perempuan di desa. Ada empat perempuan yang ikut bekerja dengannya.
Karena Covid-19, hanya tersisa satu pekerja. Meski demikian Qomariyah memutuskan tetap bertahan. Produksi hanya saat ada yang pesan meskipun jumlahnya tak besar.
“Karena tidak bisa produksi maksimal. Orang tidak bisa keluar masuk karena ada larangan,” kata wanita kelahiran tahun 12 Oktober 1976 ini.
Saat Covid-19 hilang, secercah harapan kembali timbul. Tepat tahun 2022 Qomariyah kembali membangun produksi sirup nanas, tetapi tetap harus menata dari awal lagi jejaring pelanggannya. Meski tak sebanyak di tahun awal produksi, pemesanan mulai datang.
“Kadang siang produksi kadang juga malam karena sekarang tergantung dari pemesanan yang datang,” imbuh Qomariyah.
Qomariyah memproduksi sirup nanas di dapur rumahnya. Proses produksi dimulai dari memilih nasa yang sudah masak. Lalu dikupas dan dipotong.
Nanas kemudian ditimbang sesuai kebutuhan produksi. Setelah parut dan peras. Saring hasil perasan itu di wadah dan kemudian dimasak.
Menurut Qomariyah waktu memasak kurang lebih dua jam, namun disesuaikan lagi dengan jumlah yang ingin diproduksi. Setelah dimasak kemudian didinginkan. Baru dipacking dan pasang label.
“Untuk proses memasak tergantung kebutuhannya berapa banyak,” kata Qomariyah.
Namun bukan berarti tidak ada lagi tantangan. Kali ini yang dihadapi Qomariyah sertifikat halal. Ia berharap pengurusan sertifikat halal cepat selesai.
Baginya sertifikat halal itu mendapat banyak manfaat. Jika persyaratan halal terpenuhi, maka dapat menarik lebih banyak konsumen.
Dampaknya pertumbuhan usahanya secara keseluruhan. Selain itu sertifikat halal dapat menjadi syarat penting dalam rantai pasok, terutama jika menjalin kerja sama dengan pihak lain seperti distributor, restoran, atau ritel yang memprioritaskan produk halal.
“Sekarang masih proses pengurusan karena beberapa sudah jalan termasuk untuk PIRT,” kata Qomariyah.
Tantangan lainnya soal pemasaran. Sama seperti sebelumnya, Qomariyah masih menggunakan cara-cara konvensional. Dari pintu ke pintu dan mulut ke mulut.
Memanfaatkan relasi dan kenalannya untuk memasarkan Sirup C Nako. Ia juga pernah ikut pameran yang dilakukan BRI. Dia memilih BRI karena juga merupakan nasabah KUR bank milik negara tersebut.
Manajer Bisnis Mikro BRI cabang Pontianak Dencu Yaharyandi mengatakan bahwa BRI terus memberikan dukungan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berkembang.
Sebagai contohnya nanas yang diolah menjadi sirup. Dukungan itu kata Dencu diberikan untuk menaikan kelas buah nanas sehingga menjadi lebih meningkat di mata masyarakat luas. Apalagi
nanas menjadi budidaya masyarakat masyarakat sekitar.
Lebih lanjut Dencu menyampaikan saat ini ada 20 UMKM yang menjadi binaan BRI.
UMKM yang menjadi binaan BRI mendapat pembekalan dan bantuan sarana prasarana. Dukungan itu melalui mekanisme kelompok. Namanya program klaster usaha.
Lalu kata Dencu pembekalan yang diberikan itu baik secara offline (peserta hadir) maupun online (via zoom) yang menghadirkan instruktur dari BRI atau dari luar BRI sesuai dengan keperluan pelatihan dan usahanya UMKM binaan.
“Kami bisa membuat kelompok umkm dengan jenis dan berada di wilayah yang sama. Minimal delapan UMKM yang bisa diusulkan untuk mendapatkan dukungan dari BRI,” jelas Dencu di Pontianak, kemarin.
Dencu menyatakan jika BRI selalu berkolaborasi dengan pemerintah. Hal ini merupakan salah satu tugas BRI yaitu mendukung segala program di pemerintah untuk meningkatkan perekonomian dan sosial masyarakat termasuk UMKM.
“Program-program yang ada di BRI pun selaras dengan program pemerintah. Misal klaster usaha, Desa Brilian. Itu merupakan salah satu tindakan BRI yaitu Memberi Makna Indonesia,” terang Dencu. (*)
Editor : A'an