Di tengah gemuruh zaman yang terus berubah, ada sebuah momen tak terlupakan menghiasi kalender Indonesia dan Kalbar. Setiap tanggal 20 Desember diperingati sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional. Sebuah momen yang merangkul nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian, dan persahabatan di antara semua. Di balik itu semua, terdapat kisah yang menjelma sebagai simbol kesetiaan, kehangatan dan tidak luntur antara dua jiwa yang bertaut dalam ikatan persahabatan.
DENY HAMDANI-KUBU RAYA.
KISAH Arif (30) dan Budi (29), warga Kubu Raya ini merupakan dua sosok yang tidak sengaja menjadi cermin makna sejati persahabatan.
Hubungan keduanya, yang dibangun puluhan tahun silam, sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD), menawarkan sebuah narasi yang menginspirasi.
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern serba cepat, ketulusan persahabatan mereka merupakan pijakan teguh di tengah dinamika kehidupan yang terus berubah.
Arif adalah seorang penuh inspirasi, semangat, dan cemerlang dalam bidang seni. Budi sendiri memiliki kecakapan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dua sahabat dengan minat dan bakat berbeda. Meski begitu, persahabatan mereka, bukanlah tentang kesamaan minat atau kesetaraan dalam hal prestasi. Akan tetapi tentang penghargaan terhadap perbedaan itu sendiri.
Dalam kesehariannya, Arif dan Budi telah menunjukkan betapa pentingnya mendukung satu sama lain dalam pencapaian dan kegagalan.
Ketika Arif sedang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan proyek seninya, Budi selalu hadir.
Sering kali proyek-proyek seninya di dunia digital ditolak pemesan barat hanya karena kesalahan teknis kecil.
Namun kata-kata penyemangat dan dukungan tak tergantikan, justru yang membuat Arif tetap kuat.
Begitu pula saat Budi menghadapi kesulitan memecahkan kode-kode kompleks dalam proyek teknologinya, Arif selalu memberikan perspektif baru dengan kreativitas tiada tara.
Tak jarang juga program yang diajukannya ke developer asing, ditolak karena masih dianggap belum sempurna.
Untunglah Arif, penjiwa seni memiliki pandangan tersendiri untuk memberikan Budi semangat.
"Begitulah kami berhubungan sejak SD, saling support, meskipun berbeda deskripsi pekerjaan.
Bahkan, ketika salah satu kami tersakiti maka jalan keluarnya pasti bertarung dengan anak-anak sebaya kami.
Pernah kami dikeroyok teman dari sekolah lain, sedikit pun kami tidak gentar. Dasar itu kami membangun kesetiakawanan sejak kecil," cerita Arif mengenang masa kecilnya bersama sahabatnya, Budi.
Persahabatan keduanya, sudah mengajarkan kesetiakawanan bukanlah sekadar kata-kata. Tetapi aksi nyata.
Arif dan Budi sering kali menyisihkan waktu membantu satu sama lain. Entah itu, dalam bentuk mendengarkan curahan hati atau memberikan bantuan nyata dalam menyelesaikan tugas-tugas menantang.
Seiring waktu, ikatan pertemanan keduanya semakin kokoh, menjadi bukti persahabatan sejati tumbuh dengan penuh kasih sayang, pengertian, dan kesetiaan.
Namun, cerita Arif dan Budi tetap mengingatkan persahabatan bukanlah tanpa ujian.
Terkadang, perbedaan pendapat atau kepentingan bisa menyulut ketegangan di antara keduanya.
Namun, kemampuan saling memaafkan, menghargai pandangan satu sama lain, dan tetap berkomunikasi dengan baik membawa mereka kembali pada relung kebersamaan yang hangat.
Lewat guratan tulisan sederhana ini, kisah Arif dan Budi, mengingatkan kita pentingnya merayakan perbedaan, menerima ketidaksempurnaan, dan membina hubungan erat tanpa batas waktu.
Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional yang jatuh setiap 20 Desember, bukanlah sekadar sebuah tanggal di kalender.
Akan tetapi sebuah panggilan meneguhkan ikatan persahabatan dan kesetiakawanan.
Kisah ini juga menjadi cermin meneladani arti sejati persatuan dalam perbedaan.(**)
Editor : A'an