Setiap tanggal 25 Januari, kalender Indonesia merayakan keberagaman dan kelezatan makanan, melalui peringatan Hari Gizi dan Makanan. Sebuah perayaan, hanya menjadi pengingat pentingnya pola makan sehat, tetapi mengajak seluruh masyarakat merayakan keanekaragaman kuliner berbagai penjuru nusantara termasuk Kalbar. Seperti apa rasanya ?
DENY HAMDANI, PONTIANAK.
PAGI hari, aroma kopi, roti, nasi goreng, dan aneka buah segar mengisi sudut meja makan sebuah rumah.
Dalam rumah tersebut ada Lastri (25), seorang ibu rumah tangga yang sedang menyiapkan sarapan bergizi bagi Destri (27) sang suami dan kedua anaknya yang masih kecil.
Memang, sudah sejak pagi buta, Lastri penuh semangat seusai bangun tidur melangkah ringan menuju dapur kecilnya. Sementara, mentari barusan merangkak naik.
Di dapur Lastri, aroma harum rempah-rempah dan bahan segar mulai menguat di ruang dapurnya, menciptakan suasana akrab.
Bagi Lastri, sarapan pagi bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan menyuguhkan nutrisi untuk tubuh.
Lastri, dengan penuh kecermatan dan kelembutan, memilih bahan-bahan terbaik untuk diolah. Sayuran segar, telur berkualitas, dan sentuhan rempah-rempah yang membuat hidangan menjadi karya seni rasa.
Sambil memasak, Lastri berbagi cerita kecil tentang resep warisan neneknya, yang telah diteruskan dari generasi ke generasi.
Setiap gerakan tangannya adalah bukti dari ketelatenan dan keahlian yang terus berkembang.
"Ini adalah cara saya menunjukkan kasih sayang kepada keluarga saya. Saat mereka menyantap hidangan ini, saya berharap mereka merasakan cinta dan kehangatan dari setiap suapan," ujar Lastri dengan senyum tulusnya.
Bagi Lastri, para ibu rumah tangga dan anak perempuan lainnya di Indonesia, Hari Gizi dan Makanan, bukan sekadar catatan di kalender.
Itu adalah merenung, menghargai, dan merayakan keberagaman bahan pangan yang memperkaya lidah dan memberdayakan tubuh. Makanan bukan hanya sebagai kebutuhan, melainkan sebagai bentuk cinta pada diri sendiri.
Lastri tidak hanya sekedar menyajikan sarapan. Namun juga, memberikan pelajaran hidup tentang pentingnya memberikan perhatian pada makanan yang dikonsumsi setiap hari.
"Dan saya percaya bahwa makanan adalah doa, yang bisa kita sampaikan kepada tubuh kita. Dengan memberikan makanan baik, kita memberikan doa untuk kebahagiaan dan kesehatan keluarga kita," tutur Lastri sambil menyeka air mata harunya.
Nah, kembali soal Hari Gizi dan Makanan yang sering bernama Hari Gizi Nasional (HGN), setiap tanggal 25 Januari sebenarnya punya cerita sendiri di Indonesia. Hari tersebut dulunya diperinggi untuk memperbaiki status gizi sekaligus derajat kesehatan masyarakat Indonesia, terutama pasca-perang kemerdekaan.
Tokoh penting di balik peringatan tersebut adalah Prof. Poorwo Soedarmo, sosok Bapak Gizi Nasional Indonesia yang merintisnya sejak 1950.
Dia diangkat mantan Menteri Kesehatan dr. J. Leimena sebagai Kepala Lembaga Makanan Rakyat, atau dulunya dikenal sebagai Instituut Voor Volksvoeding (IVV).
Dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, profesor asal Malang kelahiran 20 Februari 1904 itu merupakan lulusan sekolah kedokteran School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1927.
Dia mempelajari ilmu gizi dari berbagai kampus, mulai dari Filipina, London, hingga Amerika Serikat, termasuk mengikuti perkuliahan di Harvard University dan Columbia University.
Prof. Poorwo diangkat sebagai guru besar ilmu gizi pertama di Universitas Indonesia pada 1958. Tepat pada tahun itu juga FKUI membuka jurusan Ilmu Gizi. Jurusan itu berhasil mencetak ribuan ahli gizi di Indonesia.
Banyak karya ilmiah yang ditelurkan pendiri Akademi Gizi itu. Salah satunya adalah Home Economics yang saat ini dikenal sebagai Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Dia juga menggagas konsep empat sehat, lima sempurna untuk memenuhi gizi seimbang.
Pada 1969, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) mengangkatnya Prof Soedarmo sebagai Bapak Gizi Indonesia. Atas jasanya membantu memperbaiki gizi masyarakat Indonesia.
Prof. Poorwo diberikan penghargaan Bintang Mahaputra Utama pada 1992. Ia meninggal dunia pada 13 Maret 2022 dan jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Awal mula Hari Gizi Nasional (HGN) sendiri diselenggarakan buat memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia lewat berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan oleh LMR pada 25 Januari 1951.
Sejak saat itu, pendidikan tenaga gizi berkembang di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh LMR pada pertengahan 1960 an.
Peringatan tersebut dilanjutkan Direktorat Gizi Masyarakat, sejak tahun 1970-an hingga sekarang.
Peringatan HGN, menurut Kementerian Kesehatan sebagai momentum penting menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen berbagai pihak untuk bersama membangun gizi menuju bangsa sehat berprestasi melalui gizi seimbang dan produksi pangan berkelanjutan.
Di Indonesia dan Kalbar sendiri, soal gizi masih didominasi oleh gizi kurang dan stunting, meski angkanya cenderung menurun lewat berbagai gebrakan pemerintah pusat, provinsi maupun daerah.
Beberapa waktu lalu, pakar makanan bergizi Kalbar, Chef Gilang pada salah satu restoran di Kalbar menyampaikan bahwa pentingnya pendekatan seimbang dalam pola makan.
Menurutnya tidak ada makanan buruk. Yang ada hanyalah makanan yang harus dinikmati dengan bijak.
"Makanan sehat tidak harus membosankan; kita dapat menikmati kelezatan tanpa mengorbankan kesehatan," ucapnya.
Dia menyampaikan bahwa gizi memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental. Tak hanya tubuh perlu gizi.
Namun otak juga membutuhkan nutrisi tepat. Misalnya lewat Omega-3, vitamin B, dan antioksidan dapat memainkan peran penting dalam mendukung kesehatan mental dan emosional. Nutrisi tersebut ada pada makanan tertentu, yang harganya relatif tidak mahal.
"Makanan bergizi tak harus mahal. Terkadang semua tersedia di samping kita dan di pasar rakyat," pungkasnya.(**)
Editor : A'an