Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Meriah Ramadhan 1445 Hijriah, Berburu Takjil, Tradisi Jelang Berbuka Puasa

A'an • Jumat, 15 Maret 2024 | 17:29 WIB
Meriah Ramadhan 1445 Hijriah (2024), ada satu tradisi yang tetap lekang oleh zaman yakni berburu takjil berbuka.
Meriah Ramadhan 1445 Hijriah (2024), ada satu tradisi yang tetap lekang oleh zaman yakni berburu takjil berbuka.

Meriah Ramadhan sepanjang tahun, tak pernah lepas dari berbagai tradisi. Salah satunya berburu kudapan berbuka, yang disebut takjil. Takjil sendiri diartikan sajian ringan dan berat, pembuka ibadah puasa. Hampir setiap Ramadhan di berbagai daerah dan belahan negara, takjil selalu ada. Tak hanya di Indonesia, negara-negara lain pun mengenal takjil dengan istilah yang berbeda. Takjil bahkan sudah menjadi lahan bisnis musiman bagi para pencari rezeki di bulan Ramadhan. Karena itulah, pasar-pasar takjil menjamur dadakan pada bulan puasa ini. Seperti apa pasar Takjil dadakan di Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya ini. Yuk lihat sebentar ?

 

DENY HAMDANI, KUBU RAYA.


RAMADHAN 1445 Hijriah kali ini, tradisi berburu takjil alias hidangan pembuka puasa, tidak pernah surut. Bahkan menu kudapan ringan dan berat yang dijual dipinggiran jalan makin bertambah. Umumnya adalah, menu gorengan dan aneka kue segar lainnya.

"Memang kebanyakan warga Kampung Arang (Kubu Raya) dan luar sukanya gorengan dan kue manis-manis. Misalnya kayak sop buah, kolak, es timun suri. Kalo makanannya sukanya yang gurih, ya kayak gorengan bakwan, tahu isi, risol, dan lain . Alhamdulillah pendapatan pas puasa lebih banyak daripada hari biasa. Bisa bisa sebelum jam 6 dagangan udah abis," ucap Long Amru asal Padang Tikar, yang memang profesinya sebagai penjual gorengan dekat Panti Jompo, Kubu Raya ini.

Dia bercerita bahwa dagang apapun, selama Ramadan 2024 sangat laku keras. Apapun dijual, pasti ada pembelinya. Dari lokasi rumahnya yang berada di bibir jalan Adisucipto, para pembeli umumnya bergerombolan berdatangan. Biasanya, selepas asar, berbagai menu makanan yang dibuatnya sudah berjejal pembeli.

"Selain aneka menu gorengan dan kue manis, saya juga menjual es kelapa segar. Ada juga es buah dan lainnya. Pembeli pada antri," ucapnya, yang sudah membuka dagangan selepas sholat Zuhur ini. Bahkan dia sampai menambah lapak sebelahnya. "Saya juga ikut nambah lapak. Supaya nampung dagangan yang nitip," ucapnya.

Pemandangan berbeda juga terjadi di kantin Ramadhan, Masjid Al-Fatwa, Sungai Raya, Kubu Raya yang dikelola para remaja masjid berusia muda ini. Kantin Ramadan dadakan tersebut juga ramai diserbu para jemaah, warga muslim termasuk non muslim. Ada ratusan menu kudapan aneka kue, sayur mayur hingga berbagai es campuran. Umumnya dijual berjejer sesuai panjang lapak. Para pembeli juga sejak sholat ashar menggema sudah berjejer berburu aneka kuliner. Bahkan ada menu khas kurma, yang memang tidak banyak tetapi tersedia di sana. "Kalau kami ada sekitar 150-200 lebih, aneka menu makanan dan minuman sebagai takjil berbuka," ucap Yuda pengurus Kantin Ramadhan, Masjid Al-Fatwa tersebut tanpa berpanjang lebar sambil melayani para pembeli.

Nah, soal tradisi berburu takjil sesungguhnya telah mengalami evolusi menjadi momen penyentuh hati. Beberapa dasawarsa ini, berburu kudapan takjil berbuka tak hanya milik warga muslim. Para  non-muslim juga ikut berburu dalam membangun semangat kebersamaan dan solidaritas. Mereka bersatu merayakan bulan suci dengan mencari berkah melalui berbagi dan kebaikan. Pantauan Pontianak Post, sejak puasa perdana hingga sekarang hampir setiap sore menjelang waktu berbuka, suasana pasar dan gerai-gerai takjil menjadi saksi bisu kehidupan penuh semangat. Dari pinggir jalan besar, jalan kecil, jalan gang masuk hingga pinggiran sungai kapuas, orang-orang berduyun-duyun menuju tempat-tempat yang menawarkan aneka ragam takjil.

Bagi warga muslim, seperti Arief(41), berburu takjil bukan sekadar mencari makanan untuk memecah puasa, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah mendalam. Sebab baginya, setiap gigitan takjil yang manis di bibir menjadi pengingat akan nikmatnya berbagi dan bersyukur atas karunia yang diberikan Allah SWT.

Namun, yang membuat momen ini begitu istimewa adalah partisipasi dari warga non-muslim. Mereka turut serta dalam kegiatan berburu takjil dengan penuh antusiasme. Tidak hanya sebagai bentuk toleransi, tetapi juga sebagai ungkapan solidaritas dan kebersamaan dalam menemani saudara-saudara muslim dalam menjalankan ibadah puasa. "Bulan Ramadan adalah saat yang istimewa bagi kami semua, tidak peduli apa agama yang kami anut. Ini adalah waktu untuk saling mendukung dan menyatukan hati dalam kebaikan," kata Amel, seorang warga non-muslim yang secara rutin ikut berburu takjil di berbagai lapak di Sungai Raya ini.


Seiring berlalunya waktu, tradisi berburu takjil selama Ramadhan telah menjadi suntingan warna peradaban dunia. Momen-momen tradisi unik seperti ini, tidak hanya memperkuat tali persaudaraan antar umat beragama, tetapi juga membawa kedamaian dan kehangatan di tengah-tengah masyarakat heterogen.

Berburu takjil, tergambar cerminan semangat saling mencintai, menghargai, berbagi, dan menjadi inti dari pesan yang ingin disampaikan bulan Ramadhan.

Sebuah perayaan keberagaman yang indah, yang menempatkan kebaikan dan kasih sayang sebagai fondasi utama bagi kehidupan bermasyarakat harmonis.

Cara Berbuka Puasa ala Rasulullah SAW

Meskipun demikian soal takjil berbuka puasa, ini ada panduan umat muslim. Misalnya Ustadz Miftah, penceramah sekaligus pengurus DPW PPP Kalbar ini menyebutkan bagaimana keutamaan berbuka puasa dan cara berbuka puasa oleh Rasulullah SAW. Pertama segerakan berbuka.  Dianjurkan untuk berbuka puasa dengan segera ketika telah masuk Maghrib. Disebutkan dalam hadits riwayat Sahl bin Sa'ad,

لا يَزَالُ النَّاسُ بِغَيْرِ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Artinya "Manusia selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Darami, Malik, Baihaqi, Ahmad & Tirmidzi)

Selanjutnya, kata anggota DPRD Kalbar ini, membaca Doa. Waktu berbuka puasa juga menjadi waktu mustajab dan bisa diandalkan untuk berdoa. Doa orang yang sedang berbuka puasa, termasuk salah satu doa yang tidak tertolak. Bahkan menyitir Sabda Rasulullah SAW. "Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak; 10 orang yang berpuasa hingga ia berbuka, 2) pemimpin yang adil, 3) dan orang yang terdzalimi." (HR Ibnu Majah, Ahmad & Tirmidzi). Dalam riwayat shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW melafalkan doa ini ketika berbuka puasa.

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّت الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

(Dzahaba azh-zhama`u wa ibtallatil-'urûqu wa tsabatal-ajru in syâ`allâhu ta'âlâ). Artinya "Dahaga telah pergi, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah." (HR Abu Dawud & Baihaqi).  Dalam riwayat lain beliau membaca doa berbuka puasa, dengan lafaz berikut
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

(Allahumma laka shumtu wa 'alâ rizqika afthartu. Artinya "Ya Allah, aku berpuasa hanya untuk-Mu dan aku berbuka dengan rezeki-Mu." (HR Abu Dawud & Baihaqi)

Soal takjil berbuka ini, Miftah juga meminta ketika menyantap hidangan berbuka puasa, usahakan tetap menjaga adab. Diriwayatkan Umar bin Abi Salamah, ia menuturkan "Dahulu aku pernah berada di rumah Rasulullah SAW dan tanganku berkeliaran di atas nampan makanan, maka beliau berkata kepadaku.

"Wahai anak! Bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dengan mengambil yang terdekat darimu." (HR Bukhari & Muslim). Kebiasaan menu atau takjil berbuka Puasa Rasulullah SAW adalah dengan Kurma atau Air Putih.

Rasulullah SAW memakan kurma berjumlah ganjil ketika berbuka puasa. Jika tidak ada kurma, beliau berbuka dengan air putih.

Dalam riwayat Anas bin Malik, Miftah menyitir bahwa "Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa kurma yang masih basah sebelum sholat (Maghrib). Jika tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan meminum air." (HR Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi & Hakim).(**)

Editor : A'an
#ramadhan #berburu takjil #bulan suci #kubu raya #tradisi