Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Lewat Kurikulum Gambut dan Mangrove, Kubu Raya Menjaga Lingkungan

A'an • Rabu, 20 Maret 2024 | 12:52 WIB
PRAKTIK: Siswa didampingi Melly Indah Yani, guru IPA SMP Negeri 12, Desa Limbung, melakukan praktik simulasi gambut di dalam kelas.
PRAKTIK: Siswa didampingi Melly Indah Yani, guru IPA SMP Negeri 12, Desa Limbung, melakukan praktik simulasi gambut di dalam kelas.

Ekosistem gambut dan mangrove memiliki peran krusial dalam siklus karbon global. Sudah sewajarnya upaya menjaga kelestariannya perlu diwariskan lewat pendidikan, sejak dini. Kabupaten Kubu Raya mengemasnya dalam kurikulum gambut dan mangrove untuk SD dan SMP.

Oleh Haryadi

KUBU RAYA - Telepon Suyati berdering subuh itu. Ia bergegas menghampiri sumber suara yang terus berbunyi, menandakan panggilan penting. Ternyata suara dari ujung telepon menyampaikan kabar, bahwa kebakaran hutan dan lahan mulai merangsek mendekati bangunan sekolah tempatnya mengabdi.

Suyati, 53 tahun, adalah Kepala Sekolah Dasar Negeri 5 di Patok 20, Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Mendapat kabar kurang baik,Suyati bergegas ke sekolah menggunakan sepeda motor. Setibanya di sekolah,ternyata petugas dan masyarakat sudah ramai melokalisir api. Kebakaran membara tidak jauh di belakang sekolah yang berdiri di atas lahan gambut.

CINTA LINGKUNGAN: Murid di SD Negeri 5, Patok 21, Desa Limbung membersihkan halaman sekolahnya.
CINTA LINGKUNGAN: Murid di SD Negeri 5, Patok 21, Desa Limbung membersihkan halaman sekolahnya.

Meski terjadi kebakaran, aktivitas belajar mengajar pagi itu tetap berjalan. Namun mendekati jam 10 siang, asap mulai masuk ke ruangan kelas akibat hembusan angin. “Ketika itu saya berinisiatif memulangkan anak-anak lebih awal," ujar Suyati mengenang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada pertengahan tahun 2023 itu.

Menurut Suyati, karhutla di sekitar sekolahnya bukan yang pertama kali. Tahun 2022, hal serupa terjadi. Beruntung api tidak merambat kebangunan sekolah. Meski begitu, peristiwa serupa meninggalkan kenangan kelam.

“Menjadi pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah karhutla. Kita juga menyadari dampak dari kebakaran hutan tidak hanya dirasakan oleh manusia. Tetapi juga hewan dan tumbuhan,"ujarnya kepada Pontianak Post, Rabu (31/1).

Menyadari ancaman karhutla bisa terjadi kapan saja, karena sekitar 458.675 hektar (60 persen) wilayah Kubu Raya berada di lahan gambut yang mudah terbakar. Sejak 5 September 2022, Pemerintah Kubu Raya memasukkan gambut dan mangrove ke dalam kurikulum sekolah. Materi diajarkan dalam bentuk muatan lokal, disisipkan pada salah satu mata pelajaran. Cara ini diharapkan menumbuhkan dan melahirkan kecintaan terhadap gambut dan mangrove sejak dini.

SEBARAN GAMBUT: Tangkapan layar peta sebaran gambut  di wilayah Kalimantan barat.
SEBARAN GAMBUT: Tangkapan layar peta sebaran gambut di wilayah Kalimantan barat.

Mangrove ikut dimasukkan sebagai muatan lokal (mulok) karena di Kubu Raya juga menghampar banyak mangrove. Adi Yani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, mengungkapkan hutan mangrove Kubu Raya mencapai 109.727 hektar atau 67,75 persen dari luas mangrove di Kalimantan Barat.

Jika gambut dijadikan mulok karena rawan terbakar, kata dia, mangrove dimuat karena terancam rusak akibat abrasi, pembukaan tambak, hingga tanah timbul. “Luas mangrove yang rusak mencapai kurang lebih 4.689,18 hektar, berdasarkan Peta Mangrove Nasional, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tahun 2021,” ujarnya.

Jian Pangestika pengajar muatan lokal gambut dan mangrove di SD Negeri 5, menjelaskan muatan lokal gambut dan mangrove diterapkan di kelas 6. Kini kurikulum gambut dan mangrove sudah memasuki materi semester kedua.

Pada semester pertama, materi yang diajarkan mencakup pengenalan dan pemahaman tentang tanah gambut, pohon mangrove, bagaimana cara merawatnya, dan dampaknya bila tidak dilestarikan. Materi ajar biasanya menggunakan video dan presentasi, agar murid lebih tertarik mengikuti pembelajaran.

MINIATUR MANGROVE: Jian Pangestika bersama muridnya di SD Negeri 5, Patok 21, Desa Limbung mendampingi membuat pohon mangrove.
MINIATUR MANGROVE: Jian Pangestika bersama muridnya di SD Negeri 5, Patok 21, Desa Limbung mendampingi membuat pohon mangrove.

“Pada masa pengenalan, anak-anak memang masih belum paham kalau mereka tinggal di kawasan tanah gambut," kata Jian, yang ditemui tengah menyiapkan bahan ajar miniatur pohon mangrove bagi murid-muridnya.

Padahal, kata Jian,murid di sekolahnya rata-rata tinggal di kawasan gambut. Mereka mengalami langsung peristiwa kebakaran lahan dan dampaknya setiap tahun. Dia berharap pelajaran tentang gambut dan mangrove akan membuat anak-anak lebih mencintai lingkungan dan menjaganya.

Materi pelajaran yang diberikan misalnya tentang larangan membakar apapun di lahan gambut. “Karena saat musim kemarau kawasan gambut rentan kebakaran,” ujarnya.

Pada saat yang sama, di luar ruangan kelas 6, Muhammad Mahmud Gufron dan teman-temanya sedang membersihkan sampah. Ada pula murid yang mencabut rumput di sekitar tanaman sayuran di sudut sekolah. Ini bukan iseng, tapi merupakan praktik penerapan kurikulum gambut dan mangrove.

“Sampah-sampah yang dikumpulkan disimpan pada tempat khusus dan tidak boleh dibakar sembarangan,"ujar Mahmud kepada Pontianak Post.

Mahmud mengaku sudah tidak asing dengan karhutla. Hampir setiap tahun ia mengalaminya, sebab tempat tinggalnya berada di kawasan gambut. Saat sekolahnya hampir terbakar akibat karhutla, Mahmud mengaku menyaksikan peristiwa itu. Ia sempat membantu memadamkan api dengan ranting, namun usahanya itu dihalau petugas.

MENANAM NANAS: Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 12, Desa Limbung mendampingi muridnya membersihkan kebun nanas yang di tanam disamping sekolahnya.
MENANAM NANAS: Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 12, Desa Limbung mendampingi muridnya membersihkan kebun nanas yang di tanam disamping sekolahnya.

Kurikulum gambut  dan mangrove juga sudah diajarkan di SMP Negeri 12 di desa itu. Salah satu siswi, Eren Sri Aulia,mengatakan sejak adanya pelajaran gambut dan mangrove ia menjadi lebih tahu bahwa gambut perlu dijaga. Adanya pepohonan dan tanaman di sekitarnya bisa menjaga kandungan air tetap tersimpan. Air ini penting, sebab bila kering,  gambut bisa mudah terbakar.

“Selain belajar tentang gambut, ibu guru juga menjelaskan bagaimana mengolah buah mangrove menjadi tempe dan sirup mangrove. Saya tertarik ingin mencoba (sirup mangrove) meski tidak tinggal di lokasi yang ada tanaman mangrove," ujar siswi kelas 8 itu.

Meski mangrove menghampar di Kubu Raya, tanaman itu memang hanya ada di pesisir. Di Kubu Raya pohon ini salah satunya berada di Desa Kuala Karang. Di sana ada SMPN 06 Teluk Pakedai.

Kepala Sekolah SMPN 06, Boniek Sumanto, mengatakan penerapan kurikulum gambut dan mangrove disesuaikan dengan kondisi wilayah sekolah. Karena sekolahnya termasuk di pesisir dan banyak mangrove,materinya lebih banyak berkaitan dengan mangrove. Tetap ada juga materi tentang gambut, namun porsinya tidak sebesar mangrove.

“Langkah ini agar murid lebih mudah memahami materi sesuai lingkungan di tempat tinggalnya,"katanya.

Dia melanjutkan, materi tumbuhan yang hidup di daerah perairan seperti bakau diselipkan di pelajaran IPA. Materi yang berkaitan dengan gambut dan mangrove disisipkan materi pelajaran IPS. Lalu, dalam pelajaran Bahasa Indonesia dimasukan materi yang berkaitan dengan lingkungan.

“Agar siswa lebih paham, mereka juga diajak melihat langsung keadaan di lingkungan sekitar,”jelasnya.

Nuri, siswi kelas 8 di SMPN 06,mengatakan pelajaran gambut dan mangrove bermanfaat untuk memahami jenis tanaman di sekitar sekolah dan lingkungannya tinggal. "Pelajaran gambut dan mangrove juga membantu kami generasi muda lebih maksimal menjaga lingkungan dan melestarikan mangrove. Sebab, tanaman ini banyak ditemukan di tempat tinggal kami,”ujarnya.

Pertama Menerapkan Kurikulum Gambut dan Mangrove

Syarif Firdaus, Kepala Bidang Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, mengatakan kubu Raya memiliki kawasan gambut dan mangrove yang luas. Sementara itu kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai dua hal tersebut belum cukup, meskipun sudah ada pihak yang mensosialisasikan soal gambut dan mangrove.

TANAM MANGROVE: Sejumlah anak muda di Desa Dabong, Kubu Raya menanam mangrove sebagai bentuk mengurangi desforestasi di kawasan tersebut.
TANAM MANGROVE: Sejumlah anak muda di Desa Dabong, Kubu Raya menanam mangrove sebagai bentuk mengurangi desforestasi di kawasan tersebut.

“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya berupaya mengambil bagian dengan cara menyampaikan informasi seluas-luasnya, terkait gambut dan mangrove sedini mungkin, secara lebih terstruktur melalui kurikulum,” jelasnya.

Strategi penyampaian materi gambut dan mangrove dilakukan secara terintegrasi di mata pelajaran seperti IPA, IPS, dan Bahasa Indonesia. Menyasar peserta didik di jenjang SD kelas 5 dan 6, lalu jenjang SMP di kelas 7 hingga 9.

Ada 379 SD dan 158 SMP di Kubu Raya. Semua sekolah itu sudah menerapkan kurikulum ini. Kubu Raya menjadi inisiator pertama di Kalbar yang menerapkan kurikulum gambut dan mangrove di sekolah.

Tentu pemahaman para guru soal gambut dan mangrove juga harus di-upgrade. “Pengembangan kapasitas tenaga pendidik ini dilakukan secara bertahap. Para kepala sekolah dan guru pengampu sudah mendapatkan pendampingan dan bimbingan teknis. Modul dan bahan ajarnya,(yang) tahap pertama sudah distribusikan ke sekolah,” kata Firdaus.

Modul dan bahan ajarnya disiapkan keroyokan oleh para pihak yang kompeten. Salah satunya ICRAF, yang menjadi inisiator kurikulum ini di Kubu Raya. Happy Hendrawan, Project Coordinator ICRAF Kalimantan Barat, mengungkapkan banyak penelitian yang sudah dilakukan oleh akademisi dan berbagai pihak tentang gambut dan mangrove di Kubu Raya. Tapi hasil penelitian tersebut belum semuanya diketahui banyak orang.

Selain itu, peristiwa karhutla sering berulang di Kubu Raya. Berdasarkan latar belakang tersebut, ICRAF berpikir,hasil penelitian berbagai pihak perlu diinternalisasi melalui media pendidikan. “ICRAF menggandeng berbagai pihak, seperti WWF, Yayasan Hutan Hijau (Blue Forests), dan BRGM untuk terlibat merumuskan strategi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya dalam menyusun kurikulum tersebut,”jelasnya.

Dia menambahkan,ketika gagasan mulok gambut dan mangrove mulai digulirkan oleh ICRAF, beberapa pihak merespon hal ini sebagai “beban pekerjaan”. Namun gayung bersambut setelah mereka bertemu bupati Kubu Raya,yang meminta agar program tersebut dilanjutkan.

“Bupati menilai penting untuk menginisiasi pendidikan tentang gambut dan mangrove. Muatan pembelajaran berbasis materi lokal tersebut sesuai dengan konteks di Kubu Raya,” Happy menjelaskan pandangan Bupati. 

Setelah beberapa kali diskusi dengan berbagai pihak, tim penyusun kurikulum terbentuk, terdiri dari para guru berbagai jenjang pendidikan dan mata pelajaran yang telah disepakati. Muncul kendala baru. Keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia.Namun berkat kerja kolaborasi kendala itu bisa diatasi.

“Selain Kubu Raya, ICRAF juga mengembangkan kurikulum gambut dan mangrove di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin (Sumatera Selatan),”kata Happy.

Minimnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Perubahan Iklim

Survei yang dirilis oleh YouGov, perusahaan analitik data di Inggris, menemukan banyak responden asal Indonesia tak percaya perubahan iklim adalah akibat ulah manusia. Hasil jajak pada 2022 lalu tersebut mengkhawatirkan, terutama karena jumlah yang tak percaya di Indonesia sangat tinggi dibandingkan 23 negara lainnya yang disurvei, dan jauh lebih tinggi dari Amerika Serikat dan Arab Saudi. Soalnya, ini bisa memicu kurangnya tanggung jawab masyarakat terhadap kerusakan lingkungan.

7.	AIR ROB: Seorang anak pulang sekolah bertelanjang kaki saat air pasang di Desa Sungai Renggas, Kubu Raya.
7. AIR ROB: Seorang anak pulang sekolah bertelanjang kaki saat air pasang di Desa Sungai Renggas, Kubu Raya.

Menurut Gusti Hardiansyah, Guru Besar Dalam Bidang Ilmu Manajemen Hutan Universitas Tanjungpura, ketidakpercayaan tersebut bisa saja disebabkan oleh faktor sosial ekonomi hingga kebudayaan. Kualitas sumber daya manusia dan tingkat pendidikan juga cukup berpengaruh dalam memahami masalah perubahan iklim.

Di masyarakat sendiri terdapat dua mazhab. Antar golongan yang percaya dan tidak percaya adanya perubahan iklim. Bagi yang percaya tentu ada pijakan data dan faktanya.

“Suhu Bumi terus mengalami peningkatan dalam kurun 100 tahun terakhir. Selain itu ada kekacauan musim tanam dan kejadian bencana alam seperti banjir dan longsor. Contoh itu cukup memberi bukti kalau perubahan iklim dekat dengan kehidupan manusia,”ujar Gusti yang didaulat berbagi pengalaman di Conference of the Partie (COP-28) Dubai, mewakili Kalimantan Barat pada akhir 2023.

Gusti menambahkan, perlu metode tepat dalam memotivasi dan menyadarkan masyarakat di berbagai tingkat usia agar peduli dalam gerakan menjaga lingkungan. Adanya penerapan kurikulum gambut dan mangrove di Kubu Raya menjadi langkah strategis.

“Dari kearifan lokal, orang tua murid pasti sudah paham mengenai adaptasi di dua jenis kawasan ini. Namun,generasi penerusnya, harus diwariskan ilmunya melalui pendidikan agar bisa menjaga ekosistem dengan baik,”jelasnya.

Dia melanjutkan, bila generasi muda bisa diajarkan sejak dini tentang isu lingkungan melalui Pendidikan, lain hal dengan kalangan dewasa. Orang dewasa perlu dibuka jendela wawasannya, sehingga dapat partisipasi dan terlibat dalam proses perubahan iklim. Pendekatannya, kata Gusti,bisa lewat keagamaan maupun seni budaya.

"Saat mahasiswa saya melakukan Kuliah Kerja Nyata, mereka menampilkan seni drama.Langkah itu bisa menjadi salah satu cara dalam memberikan pemahaman menjaga lingkungan,” paparnya.

Gusti berharap, kurikulum gambut dan mangrove bisa ditularkan ke kabupaten lainnya di Kalbar. Bahkan di provinsi lain di Indonesia yang punya biofisik serupa. “Saya meyakini adanya kurikulum mulok dengan dukungan pemerintah, kepala sekolah, dan guru bisa membawa paradigma baru, terutama bagi generasi muda yang nantinya memiliki ideologi dan konsep terkait konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan gambut dan mangrove,”kata dia.

“Artikel ini adalah bagian dari fellowship program  For the People”

Editor : A'an
#menjaga lingkungan #Kurikulum Gambut dan Mangrove #karhutla #kubu raya