Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Melihat Agen BRILink di Kubu Raya, Kim Can Bangun Jembatan Finansial di Desa Bengkarek

A'an • Minggu, 28 April 2024 | 10:11 WIB

 

TRANSAKSI: Masyarakat bertransaksi di waring milik Kim Can, Desa Bengkarek. Desa ini terletak di Kecamatan Ambawang, Kubu Raya.
TRANSAKSI: Masyarakat bertransaksi di waring milik Kim Can, Desa Bengkarek. Desa ini terletak di Kecamatan Ambawang, Kubu Raya.

Berawal dari coba-coba, Kim Can sukses menjadi agen BRILink. Upayanya mengedukasi warga agar melek teknologi membuahkan hasil. Dari satu mesin Brilink EDC, kini dia sudah memiliki tiga unit mesin. Dan, dia pun berencana melebarkan sayap usahanya.

RAMSES L TOBING, Kubu Raya

KIM CAN adalah agen BRILink Desa Bengkarek. Desa ini terletak di Kecamatan Ambawang, Kubu Raya. Perjalanan kesana memakan waktu kurang lebih satu jam dari pusat ibukota Kalimantan Barat, Pontianak. Melintasi Jalan Trans Kalimantan, dan masuk ke persimpangan Desa Korek, Sungai Ambawang.

Kim Can menjadi Agen BRILink sejak empat tahun lalu. Saat itu ia belum tahu sama sekali jika BRI memiliki konsep bisnis dengan transaksi secara elektronik bagi masyarakat di pedesaan.

Sementara di waktu yang sama ia mencari konsep bisnis serupa. Hingga akhirnya ia dikenalkan dengan relasi di BRI. Dari sanalah dirinya mendapat tawaran untuk menjadi Agen BRILink.

“Jadi saya ketemu relasi dan ditawarkan untuk jadi Agen BRILink. Saat itu saya mendapatkan satu mesin untuk transaksi,” kata bapak tiga anak ini.

Pria berusia 50 tahun ini optimis strategi bisnis itu berjalan lancar. Perhitungan bisnisnya, Kim Can tinggal di desa yang dominan perkebunan sawit, Ia yakin transaksi keuangan masyarakat bakal tinggi.

Salah satu faktornya adalah gaji pekerja di kebun sawit. Tak heran transaksi tinggi di Agen BRILink milik Kim Can. “Ada sekitar dua hingga tiga perusahaan sawit, jadi jika untuk 200 transaksi kemungkinan besar bisa,” jelas Kim Can.

Faktor pendukung lainnya layanan keuangan di kantor desa juga memanfaatkan dirinya sebagai Agen BRILink. Seperti penarikan uang untuk pembayaran gaji aparatur desa. Sehingga hitung-hitungan bisnis ini membuat Kim Can optimis menjadi agen BRILink.

Kim Can merasa dewi fortuna sedang hinggap di dirinya. Selain karena merasa perhitungan bisnis sudah oke, proses pengajuan menjadi Agen BRILink pun tidak rumit. “Biasanya dua hingga tiba bulan prosesnya. Sementara saya sebelum itu mesin sudah diterima,” jelas Kim Can.

 Kondisi itu mendorong Kim Can untuk menjaga kepercayaan yang diberikan BRI kepadanya. Setiap bulannya catatan transaksinya terus mengalami peningkatan. Dari satu mesin, saat ini sudah memiliki tiga mesin. Dua mesin konvensional dan satu berupa android.

Awalnya pun Kim Can sempat ragu harus menambahkan mesin untuk transaksi keuangan. Pertimbangannya khawatir transaksi yang ditargetkan tak tercapai. Namun kondisi memaksa karena situasi saat itu sedang masa Covid-19.

Jumlah orang yang melakukan transaksi keuangan juga naik dari biasanya. Antrian bisa sampai 20 hingga 30 orang dalam sehari. Sementara di situasi yang sama, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat.

“Saya tambah satu mesin karena jika satu saja yang kerja susah. Bertambahnya mesin bisa mengurai antrian masyarakat yang transaksi,” ujar Kim Can.

Diakui Kim Can, empat tahun berjalan menjadi Agen BRILink tidak mudah. Tantangannya mengedukasi masyarakat tentang layanan keuangan berbasis teknologi.

Kim Can tak lelah menyosialisasikan soal Agen BRILink ke masyarakat. Disertainya dengan penjelasan ke masyarakat mengenai Agen BRILink merupakan perpanjangan tangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Tantangan itu bisa teratasi mengingat tidak ada layanan perbankan di desa tempat Kim Can tinggal. Begitu juga di desa sekitarnya. Keberadaan bank pun boleh dibilang cukup jauh. Pelan dan pasti, kepercayaan masyarakat pun didapatkan. Sehingga bisa dibilang Kim Can menjadi pionir Agen BRILink di Desa Bengkarek.

Tantangan lainnya saat hari libur. Sementara masyarakat membutuhkan uang tunai. Kendalanya ada limit transaksi keuangan. Sedangkan Kim Can harus siap menarik uang tunai untuk melayani kebutuhan masyarakat.

“Jadi saat membuat ATM beberapa jenis sehingga nilai transaksi bisa bertambah. Ketika masyarakat butuh, uang tunai tetap tersedia meskipun di hari libur. Meskipun libur panjang layanan mesin EDC tetap ada,” jelas Kim Can.

Menurut Kim Can, transaksi keuangan sebagai Agen BRILink dilakukan di toko kelontong miliknya. Toko Aput namanya. Toko kelontong yang awalnya kecil ini pelan-pelan bertambah besar. Sebab masyarakat yang datang tidak hanya ingin menarik uang atau transaksi perbankan lainnya tetapi juga sekalian berbelanja.

Keberadaan BRILink menjadi pemancing agar masyarakat datang. Kim Can merasa ada peningkatan taraf ekonomi sejak menjadi Agen BRILink.

Namun ia tak berpuas diri. Kim Can ingin menambah unit usaha. Lalu menambah kembali outlet untuk Agen BRILink.

Manajer Bisnis Mikro BRI cabang Pontianak Dencu Yaharyandi mengatakan keberadaan Agen BRILink menjadi penting karena membantu masyarakat di pedesaan mengakses layanan perbankan.

Melalui agen BRILink masyarakat lebih mudah melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhanya. Seperti transaksi seperti penukaran uang, tarik tunai hingga membayar belanjaan di e-commerce.

Dencu menambahkan kebutuhan lain yang tersedia di Agen BRILink seperti membayar tagihan listrik, air, iuran BPJS, telepon, pembelian pulsa, pembayaran cicilan, top-up BRIZZI, hingga setoran pinjaman.

“Agen BRILink tidak hanya sebagai ruang edukasi ke masyarakat tentang layanan perbankan tapi menjadi pondasi ekonomi bagi masyarakat yang menjadi agen BRILink di tempat tinggalnya,” pungkasnya. (*)

Editor : A'an
#BRILink #bri #Kim Can #kubu raya