Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Babat Alas Kalimantan Bagian 3, Mengungkap Aktor di Balik Mayawana

Syahriani Siregar • Sabtu, 25 Mei 2024 | 15:15 WIB

PT Mayawana Persada membuka lahan secara besar-besaran di wilayah konsesinya di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Selama tiga tahun terakhir (2020-2023).
PT Mayawana Persada membuka lahan secara besar-besaran di wilayah konsesinya di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Selama tiga tahun terakhir (2020-2023).
Sejak tiga tahun terakhir PT Mayawana Persada membabat hutan lebih dari 33 ribu hektare atau setara dengan hampir separuh luas Singapura. Lantas siapa aktor di balik perusahaan HTI itu? Berikut laporan tim liputan kolaborasi Pontianak Post bersama Depati Project.

Arief Nugroho, Kayong Utara

Berbekal izin dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) nomor SK.723/Menhut-II/2010 pada 30 Desember 2010, PT Mayawana Persada melakukan pembalakan hutan secara massif di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Berdasarkan penelusuran data profil perseroan melalui Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU), Mayawana Persada didirikan pada 1994, melalui SK pengesahan C2-919.HT.01.01.TH.1994, tanggal 22 Januari 1994.

Saat itu, saham mayoritasnya dikuasi PT Suka Jaya Makmur dan PT Inhutani III.

Dalam perjalanannya, Mayawana Persada mengalami beberapa kali perubahan data perseroan, baik pada susunan pengurus maupun peralihan saham.

Pada 2006, misalnya, kepemilikan saham mayoritas dikuasai oleh PT Suka Jaya Makmur dan PT Harjohn Timber.

Tahun 2007 terdapat perubahan data perseoraan di antaraya masuknya Amin Santoso, Iwan Susanto, Imbran Susanto dan Jacub Husin.

Pada 2011, terjadi perubahan penguasaan saham. Di mana saham Mayawana mayoritas dikuasai oleh PT Harjohn Timber, PT Suka Jaya Makmur dan PT Sabak Indah.

Kemudian pada 2016 kembali terjadi peralihan saham. Di mana mayoritas sahamnya dikuasai PT. Alas Kusuma, Suhadi dan PT Sabak Indah.

Pada 2018, PT Harjohn Timber dan PT Suka Jaya Makmur, kembali menguasai saham mayoritas Mayawana Persada.

Pada 6 Januari 2023, status Mayawana Persada beralih menjadi PMA (penanaman modal asing), dengan separuh sahamnya diakuisisi oleh perusahaan Malaysia bernama Green Ascend (M) Sdn Bhd, dan pada 28 Desember 2023, kepemilikan saham sebagian dikuasai oleh Beihai Internasional Group Limit.

Auriga Nusantara dan Greenpease Indonesia dalam laporannya berjudul “Pembalak Anonim” menyebutkan ada keterikatan perusahaan ini dengan grup Royal Golden Eagle (RGE).

RGE adalah produsen global untuk produk pulp, kertas, kemasan, tisyu, dan viscose, dan merupakan konglomerat induk dari APRIL, Asia Symbol, dan Sateri.

“Setelah kami telusuri siapa di balik Green Ascend (M) Sdn Bhd dan Beihai Internasional Group Limit, ternyata ada dua korporasi besar yang menjadi pemilik kedua perusahan tersebut, yang berkedudukan di Samoa dan Cayman Island,” kata juru kampanye Auriga Nusantara, Hilman Afif.

Sementara itu, melalui konfirmasi tertulisnya pada tanggal 18 Maret 2024, Head of Commucations RGE, John Morgan membantah adanya kepemilikan atau bentuk kendali antara RGE dan pemegang sahamnya dengan PT Mayawana Persada.

Termasuk adanya asosiasi antara RGE dengan PT Phoenix Resources International.

Menurut John, pasokan serat untuk APRIL bersumber dari konsesi yang dikelola APRIL dan konsesi pemasoknya.

Setiap peningkatan kebutuhan pasokan serat akan dipenuhi melalui peningkatan produktivitas yang didorong oleh investasi besar pada penelitian dan pengembangan serta praktek silvikultur terbaik.

John juga mengklaim, seluruh pasokan serat untuk APRIL, termasuk dari pihak ketiga, patuh pada Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest Management Policy), yang secara eksplisit menegaskan komitmen perusahaan untuk tidak melakukan deforestasi dalam rantai pasoknya.

Menurutnya, kebijakan keberlanjutan RGE dan APRIL tidak menggantikan atau meniadakan komitmen apa pun yang telah dibuat dalam RGE Forestry, Fibre, Pulp & Paper Sustainability Framework dan Sustainable Forest Management Policy APRIL, termasuk komitmen kebijakan tanpa deforestasi sejak Juni 2015.

John juga menyebut, sebagai perusahaan global terkemuka yang berbasis sumber daya alam, pihaknya terus memperkuat komitmennya pada aspek bisnis keberlanjutan.

Melalui agenda keberlanjutan hingga tahun 2030. Menurut dia, RGE berupaya memberikan dampak positif terhadap iklim, alam, dan masyarakat.

“Kami mengelola operasional bisnis perusahaan sesuai dengan standar regulasi pasar dan industri nasional maupun global,” kata John Morgan.

Terpisah, pihak PT. Mayawana Persada memutuskan untuk bungkam.

Tim liputan kolaborasi telah mengirim sejumlah daftar pertanyaan kepada PT Mayawana Persada di Pontianak, melalui humas bernama Ardian Susanto, pada tanggal 27 April 2024.

Namun, hingga berita ini ditayangkan tidak ada respon dari pihak perusahaan. Demikian juga PT Alas Kusuma Group.

Melalui salah satu tim liputan kolaborasi (CNN Indonesia TV) telah mengirim permohonan wawancara, namun tidak direspon. (*)

 

Liputan ini merupakan hasil kolaborasi Pontianak Post, Jaring.id, Betahita.id, Mongabay Indonesia, CNN Indonesia, dan Ekuatorial.com dalam Depati Project.

Editor : Syahriani Siregar
#Lingkungan Hidup #kayong utara #Mayawana Persada #KLHK #hutan