Emy Rahimi, bidan desa di UPT Puskesmas Nanga Tebidah, Kayan Hulu ini mendapat satu unit motor dari Yayasan Baitul Maal PLN sebagai bentuk apresiasi atas jasanya dalam melayani masyarakat di daerah terpencil. Medan yang sulit ditempuh Bidan Emy, bahkan pernah jatuh ke jurang. Ia rela jalan kaki 6 jam saat membantu warga melahirkan.
MARSITA RIANDINI, Pontianak
EMY beryukur atas apresiasi dari YBM PLN. Menurutnya ini memacu semangatnya dalam melayani masyarakat. Masih ingat di benak Emy Rahimi, saat itu ada warga kampung yang akan melahirkan.
Ia dijemput menggunakan John deere, traktor atau transportasi perusahaan sawit untuk menuju rumah pasien. Perjalanan menempuh waktu 3 jam, melewati kebun-kebun sawit. "Saat itu pasien berada di rumah ladangnya. Sehingga aksesnya jauh," ujarnya.
Usai membantu persalinan pasien, persoalan kembali muncul. Traktor yang tadi membawanya menuju lokasi, sudah kembali ke perusahaan. Ia terpaksa harus pulang berjalan kaki. Sendirian.
Melewati perkebunan sawit, dengan medan yang sulit. Perasaan campur aduk ia rasakan. "Tak bisalah diungkapkan dengan kata-kata. Ada takutnya, segala macam dirasakan," ujarnya.
Enam jam perjalanan ia tempuh. Kondisi jalanan bebatuan, berbukit dan licin karena musim hujan. Tiba di rumah, rasa lelah pun tak tertahankan. Dua hari kakinya merasakan sakit dan sulit untuk berjalan.
Emy tidak jera. Baginya, profesi ini sudah panggilan jiwa. Risiko pekerjaan tak bisa dielakkan. Emy juga sering merasa iba bila melihat kondisi ekonomi pasien.
"Bayangkan saja, sudah jalan kaki jauh, saya bantu persalinan tapi pasien tidak mampu bayar. Bahkan mereka mau bayar pakai cincin nikahnya. Tapi saya tolak. Saya bilang jika bapak mau bayar, nanti saja jika sudah punya uang," katanya.
Emy meminta suami pasien menyimpan kembali cincin nikah itu. Emy tahu, mereka pasti membutuhkan uang pascamelahirkan.
"Saya salutnya sampai mau bayar pakai cincin nikah. Kami tidak punya uang, katanya. Tentu kita tidak tega," papar dia.
Emy mengatakan, memang medan tempuh dari kampung ke kampung sangat sulit. Jalan darat yang berbukit, bebatuan dan licin jika musim hujan. Sementara jika melewati jalan sungai, sering terkendala jika musim kemarau.
"Jika surut perahu itu hanya bisa diseret. Bawahnya itu bebatuan. Jadi sering pasien dinaikkan ke perahu, kemudian perahunya diseret. Nanti kalau air sungainya agak dalam, baru mesin perahunya bisa dinyalakan," kata dia.
Bidan desa di daerah terpencil menjadi harapan bagi masyarakat ketika sakit. Tak hanya saat melahirkan, bahkan pasien yang mengalami stroke, demam juga ditangani bidan.
"Kalau posyandu itu kan kami ke desa-desa. Banyak masyarakat butuh layanan di luar posyandu. Jika saya tidak bisa maka dirujuk ke puskesmas, dan saya juga harus ikut," katanya.
Dari desa ke puskesmas memakan waktu sekitar tiga hingga emlat jam jika sungai tidak surut. Jika surut, maka memakan waktu lebih lama lagi.
Tak jarang Emy harus menginap di Posyandu sebelah jika tidak bisa pulang. Jatuh ke jurang kedalaman sekitar empat meter juga pernah dirasakan Emy.
Bersyukur Emy bisa melewati masa sulit itu. Ia menunggu bantuan dengan rasa cemas, takut binatang buas dan tak tahu harus bagaimana. "Kader lain ada yang ikut. Dia yang memanggil bantuan ke dusun sebelah. Hampir 1 jam bantuan baru datang," paparnya.
Emy bersyukur mendapat dukungan dari keluarga terutama pasangan. Suaminya tak pernah protes karena sudah tahu risiko pekerjaan istrinya. Bahkan tak jarang suami mengantarkan Emy saat pelayanan.
Emy pernah ingin pindah ke Sintang. Saat itu orang tuanya sakit, ia ingin merawat. Namun, warga kompak membuat petisi agar Emy tidak dipindahkan. Mereka senang dengan keberadaan Emy di kampung tersebut.
"Terharu saya melihat masyarakat mengumpulkan tanda tangan agar Puskesmas tidak memindahkan saya," katanya.
Ketika musim panen tiba, warga seakan membalas kebaikan Emy dengan memberi beras. Bahkan sayur mayur yang membuat Emy terharu. "Kalau musim panen, beras tak termakan. Gitu juga sayuran. Baiknya warga kampung," jelasnya.
Mukhlis Zarkasih, Ketua YBM UID Kalbar mengatakan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN ini mengelola dana zakat dari seluruh pegawai muslim yang ada di Kalimantan Barat.
Dua setengah persen penghasilan setiap pegawai muslim Itu dipotong untuk kemudian disalurkan. Dalam pengelolaan dana zakat ini terdapat lima program yaitu program kesehatan, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan ekonomi.
"Nah pemberian bantuan motor ambulans ini kepada bidan desa khususnya daerah terpencil seperti Ibu Emy ini yang bertugas di Nanga Tebidah Sintang yang sudah 15 tahun dia di sana, maka YBM PLN merasa perlu memberi apresiasi," katanya.
Emy juga dalam pelayanannya membantu warga melahirkan kadang kala tidak dibayaran menjadi salah satu pertimbangan.
"Dia dengan ikhlas dan sukarela tanpa dibayar. Karena memandang itulah Kami merasa sangat pantaslah Bu Emy ini mendapat motor listrik dari YBM PLN," Katanya.
Harapannya, dengan pemberian motor ini Emy lebih giat lagi dan menjadi motivasi dalam melayani kesehatan masyarakat.
YBM PLN kata dia telah menyalurkan 5 motor listrik di Putusibau, Ketapang, Sambas, Kubu Raya, Sintang. "Kami juga memberikan ambulans air, speed boat untuk layanan kesehatan masyarakat yang sulit di jangkau melalui darat," papar dia.
Mariyani, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia ( IBI) Kalbar berterima kasih atas kepedulian YBM PLN terhadap kinerja bidan desa di daerah terpencil. Para bidan ini katanya bekerja tanpa pamrih sebagai panggilan jiwa membantu masyarakat.
Tentunya kata dia apresiasi dari YBM PLN ini mendorong perusahaan atau pihak lainnya juga turut membantu atau memberi reward para bidan desa terpencil dalam menjalankan tugasnya.
"Sebab akses atau medan darat naik gunung, belum lagi sungai, jika surut, banjir medan semakin lebih sulit. Sudah selayaknya mereka mendapatkan semacam reward-lah untuk membantu menjalankan tugasnya," paparnya.
Baca Juga: Karolin Ganti Motor Relawan yang Hilang saat Mengantar ke KPU
Ia mencontohkan pada Bidan Emy Rahimi yang sudah 15 tahun setia menjalankan tugasnya dengan segala kondisi dan risiko. "Dengan adanya bantuan roda dua ini, diharapkan jangkauan pelayanan menjadi lebih luas lagi," pungkasnya. (*)