Dhea Anisa Nabila atlet angkat besi PON Kalimantan Barat “memecahkan telur” raihan medali bagi kontingen PON Kalbar. Turun di kelas 49 kilogram, dia berhasil mempersembahkan medali perunggu bagi Kalbar. Dari keberhasilan itu, ada doa ibu yang selalu menyertai.
Mirza Ahmad Muin, Aceh
KEBERHASILAN Dhea Anisa Nabila, atlet angkat besi Kalbar memberikan kesan mendalam bagi seluruh kontingan PON Kalbar. Dhea yang ambil bagian di kelas 49 kilogram di PON Aceh mampu mengangkat beban seberat 80 kilogram. Angkatan itu menahbiskannya menempati posisi ketiga. Usai angkatan terakhirnya itu, dia pun berlari penuh haru memeluk sang pelatih di tepi pintu ruangan para atlet angkat besi, Kamis (5/9) kemarin.
Para suporter dan official KONI Kalbar serta para atlet angkat besi yang menyaksikan dia bertanding juga diliputi rasa haru. Riska, salah satu atlet angkat besi Kalbar sampai meneteskan air mata melihat perjuangan Dhea berhasil mendapatkan medali perunggu. Pantauan Pontianak Post, seniornya itu memang selalu memberikan motivasi ketika Dhea berdiri mengangkat besi.
Dadanya dibuat berdebar. Sebab saat angkatan jerk, dua kali Dhea tak mampu mengangkat beban seberat 80 kilogram itu. Apalagi selisih beban angkatan Dhea dengan atlet angkat besi dari Sumatera Utara hanya terpaut satu kilogram. Jika angkatan terakhir Dhea gagal, pupuslah peluang medali perunggu bagi Kalbar.
“Dhea ingat mama. Dhea ingat mama,” teriak Riska memberikan semangat kepada Dhea ketika mengangkat beban. Teriakan Riska disambut gemuruh dukungan yang sama dari suporter PON asal Kalbar. Tak disangka, setelah dua kali angkatan 80 kilogram itu gagal, di angkatan ketiga Dhea sukses mengangkatnya.
Dengan angkatan itu, Dhea menempati posisi tiga terbaik di bawah DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Timur sehingga berhak mendapat medali perunggu. Medali ini merupakan medali pertama bagi kontingen PON Kalbar.
“Saya mengakui bahwa di pertandingan kali ini saya belum maksimal. Sebab angkatan saya ini di bawah angkatan ketika latihan. Meski begitu, saya bersyukur sebab bisa memberikan medali perunggu buat Kalbar,” ujar Dhea.
Dia mengakui, setelah dua kali gagal dalam angkatan jerk, dia mencoba fokus dan konsentrasi di angkatan ketiga. Satu hal yang menjadi motivasinya adalah ingatan pada sang ibu. Dia ingin mempersembahkan yang terbaik bagi ibunya. Dhea juga yakin doa ibu melangit saat dia mengangkat beban jerk terakhir. Alhasil, dia pun mampu mengangkatnya.
Dhea sendiri memang sempat diragukan penampilannya pada PON kali ini. Sebab, sebelum pertandingan berat badannya tidak sampai 49 kilogram. Meski demikian, dia mampu memberikan yang terbaik bagi Kalbar. Medali perunggu pertama ini diharapkan bisa menjadi penyemangat bagi atlet lain untuk mendapatkan medali. Bukan hanya di cabor angkat besi tetapi juga menular pada cabor lainnya, baik itu PON Aceh maupun Sumut.
Di tempat yang sama, Ketua KONI Kalbar, Fachrudin Siregar gembira dengan raihan atlet angkat besi atas nama Dhea yang berhasil meraih medali perunggu.
“Alhamdulilah satu medali perunggu dipersembahkan Dhea di kelas 49 kilogram. Ini menjadi medali pertama yang dipersembahkan untuk Kalbar. Mudah-mudahan dari medali perunggu ini menular ke medali lainnya,” ujar Fachrudin.
Dia mengaku sempat dibuat sport jantung saat melihat penampilan Dhea. Sebab persaingan angkatan antara Dhea dan atlet angkat besi dari Sumatera Utara cukup ketat.
“Tentunya kami berikan semangat pada semua atlet yang bertanding, baik di Aceh maupun Sumut. Semoga perunggu ini bisa menjadi pemicu atlet lainnya untuk menyumbangkan medali emas bagi Kalbar,” harapnya.(*)
Editor : A'an