Devi Safitri, atlet Hapkido Kalbar peraih medali emas di PON XXI 2024 melewati berbagai rintang dalam hidupnya. Badai kesedihan yang dilaluinya, menjadi proses bagi dirinya menjadi kuat seperti ini. Hapkido bagi Devi bagai perahu penyelamat hidup
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
PROSES perjalanan hidup Devi tidaklah mudah dalam menggapai cita-citanya. Penuh rintang dan lika-liku. Bagi Devi Safitri, Hapkido sangat berarti. Sebab melalui cabang olahraga yang lahir di Korea ini, dia mampu merubah kehidupannya dengan drastis.
Perjalanan penuh rintang itu dimulainya setelah ke dua orang tuanya meninggal dunia. Tepatnya saat Devi duduk di kelas 2 SMA pada 2013 silam. Duka kehilangan ayah belum hilang, tepat 100 hari selang wafatnya sang ayah, badai itu datang kembali menghujam Devi.
Ayahnya meninggal dunia saat ia kelas 2 SMA atau berusia 16 tahun pada 2013. Selang 100 hari, giliran ibunya berpulang. Dia pun ditakdirkan jadi yatim piatu.
Terpaksa dia dan adiknya ikut bersama kakek dan neneknya. Kehidupan serbaterbatas. Untuk biaya sekolah sang paman membiayainya.
Devi seperti diterjang badai. Tapi, dia tetap tangguh. Dia meyakini tuhan tidak pernah menguji melebihi kemampuan umatnya. "Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan setelah beruntun orang tua saya meninggal dunia hanya berselang 100 hari," kenang Devi.
Devi yang berasal dari keluarga tak mampu, melakoni pekerjaan apapun. Tanpa gengsi. Dia rela mengantre di POM bensin membawa dirijen untuk jualan bensin eceran. Dia bekerja untuk seorang agen dengan imbalan Rp60 ribu per 100 liter bahan bakar yang terjual. Devi juga pernah nyambi sebagai kuli pengangkut pasir.
"Paman membantu membiayai sekolah saya dan adik. Saya lakukan itu untuk membantu paman yang punya usaha angkutan pasir. Lumayan buat jajan," tuturnya.
Di satu sisi, dia harus membagi waktu untuk latihan taekwondo, olahraga bela diri pertama yang ditekuni sebelum beralih ke hapkido pada 2016. Lantaran DNA beladiri mengalir di tubuhnya, Devi sangat cepat menyerap materi pelatihan. Dari sanalah, kehidupannya berubah lebih baik.
Baca Juga: Pedagang Tunggak Sewa Kios, Pemkot Ancam Ambil Paksa
Berkat ketekunannya, dia hanya butuh satu tahun untuk menggores prestasi di Hapkido. Devi menjuarai kejuaraan nasional di Yogyakarta pada 2017.
Sejurus kemudian dia tampil pada kejuaraan dunia di Korea Selatan 2018. Devi nyaris gagal terbang ke negeri ginseng, karena terbentur dana. Tapi, berkat dukungan orang disekitarnya, dia bisa melaga di kejuaraan dunia.
Berkat tekad dan kepercayaan dirinya, Devi akhirnya keluar sebagai juara kelas daeryun under 63 kilogram. Dia pun disambut pejabat Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Atas prestasi itulah, kehidupannya berubah. Pangdam XII Tanjungpura, Mayjend Ahmad Supriadi membuka pintu bagi Devi untuk mengikuti tes Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Dia dinyatakan lulus seleksi.
"Saya bisa seperti ini berkat orang-orang tercinta seperti Bupati dan Wakil Bupati Kubu Raya, Pangdam XII Tanjungpura, Dinas Pariwisata dan Olahraga dan tentu pelatih saya, Nim Rusli. Saya tak akan melupakan jasa mereka," ungkapnya.
DI PON Aceh kemarin, atlet berusia 27 tahun ini berhasil meraih medali emas nomor daeryun kelas 59-63 kilogram putri pada PON XXI 2024. Raihan ini membuatnya menjadi atlet pertama Kalimantan Barat yang menuai emas. (*)
Editor : Miftahul Khair