Gampong Peunayong di Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh pada tahun 2004 silam turut terimbas bencana tsunami. Kini bangunan pasar-pasar yang mirip di Kota Singkawang itu telah hidup kembali. Saat malam hari, banyak ditemui makanan khas Aceh. Menyesap teh tarik dan menikmati mie Aceh sambil membayangkan kengerian tsunami di Peunayong.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
ABDUL, sopir kontingen official PON Provinsi Kalimantan Barat menceritakan bagaimana situasi saat tsunami Aceh menghantam sebagian Kota Serambi Mekah. Salah satunya, kejadian tsunami di daerah Gampong Peunayong yang berada di Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh.
Sambil menikmati teh tarik dingin, ditemani sajian khas Mie Aceh di salah satu kedai daerah Peunayong, malam itu dia menceritakan bagaimana kejadian kelam tsunami yang banyak merenggut nyawa masyarakat Aceh 20 tahun silam.
Kata dia, Peunayong ini terimbas tsunami. Saat pagi nahas itu, air laut dari bibir pantai membawa gelombang deras masuk ke Peunayong. Ketinggiannya kisaran 1,5 sampai 2 meter. Banyak bangunan rusak akibat hantaman kayu dan perahu boat.
Pedihnya lagi, banyak saudara hanyut terbawa derasnya air laut. Mereka mencoba menyelamatkan diri hingga terbawa ke Peunayong ini. Di kejadian itu tak banyak yang selamat. Akibatnya banyak korban jiwa karena tsunami. Termasuk di Peunayong.
Setelah kejadian, Peunayong dibuat porak poranda. Tumpukan kayu banyak. Di bawah tumpukan kayu itu juga berserakan mayat. Setelah beberapa hari kejadian, tim relawan dari berbagai penjuru negeri datang ke Aceh. Mereka bersama warga setempat melakukan evakuasi. Mulai dari pembersihan lokasi tsunami sekaligus mencari nyawa-nyawa yang tak selamat akibat tsunami.
Proses evakuasi berlangsung lama. Sebab banyak bangunan rusak akibat tabrakan kayu-kayu yang dibawa tsunami. Kayu-kayu itu juga menghancurkan bangunan milik masyarakat Peunayong. Tinggi sampah-sampah itu capai dua meteran.
Peristiwa itu betul-betul melekat di pikiran Abdul. Banyak mayat. Paling tidak bisa dia lupa, temuan mayat berpelukan antara ibu dan anak. Nyawanya hilang ditelan tsunami. Belum lagi bau mayat saat itu. Tetapi semua masyarakat dan tim relawan bergotong royong untuk membersihkannya.
Gajah-gajah juga dimanfaatkan untuk membongkar kayu. Tugas gajah itu ikut membongkar material bangunan serta sampah-sampah yang hanyut terbawa tsunami.
Abdul sendiri saksi korban dari badai tsunami. Termasuk sang kakak. Ketika kejadian tersebut dia beserta dua anaknya harus berjuang mempertahankan hidup dari kuatnya gelombang saat itu. Tuhan masih memberikan dia nafas di bumi. Ia bersama dua anaknya bisa selamat karena tersangkut di atap seng.
Sekarang Peunayong sudah berbenah. Kota ini kini menjadi pusat perekonomian di Kota Aceh. Di malam harinya, Peunayong juga memiliki magnet. Kulineran khas Aceh, menarik para pendatang untuk mencoba khas mie Aceh dan teh tariknya.
Begitu pula kopi dan sangernya. Menjadi teman di malam hari. Dengan harga yang murah meriah. Kedai Mie Aceh ini menjadi saksi bagaimana Peunayong pernah luluh lantak akibat tsunami 20 tahun lalu.(*)
Editor : A'an