Tanggal 28 Oktober tak pernah absen di kalender nasional. Waktu tersebut menjadi penanda lahirnya Sumpah Pemuda. Sebuah momen bersejarah yang berhasil mempersatukan pemuda-pemudi Indonesia pada tahun 1928. Namun, bagaimana pemuda masa kini memaknai dan merayakan hari ini di tengah era digital yang serba cepat? Mari kita intip beberapa kisah inspiratif dari mereka, termasuk Arif, seorang pemuda dengan cara unik untuk tetap terhubung dengan semangat Sumpah Pemuda ?.
DENY HAMDANI, PONTIANAK.
BAGI Arif, pemuda 28 tahun asal Yogyakarta, merayakan Sumpah Pemuda tidak harus selalu formal dan kaku. Sehari-hari, Arif adalah seorang penggemar game yang kerap menghabiskan waktu di kafe atau warung kopi (warkop). Di sana, ia bertemu dengan teman-teman sebaya, berbagi cerita, dan bersatu dalam dunia maya yang mereka eksplorasi bersama.
Arif punya pandangan sederhana tentang Sumpah Pemuda. "Dulu, pemuda-pemudi berkumpul untuk satu tujuan, yaitu kemerdekaan. Sekarang, kami berkumpul di kafe atau di dalam game untuk mencari inspirasi, berdiskusi, bahkan untuk kegiatan kreatif," katanya bercerita sejenak.
Lewat gaming, Arif dan teman-temannya sering mengadakan turnamen kecil-kecilan di warkop. Di sela-sela permainan, mereka bercakap tentang isu-isu terkini, membahas teknologi, hingga berdiskusi tentang sejarah Indonesia, termasuk tentang Sumpah Pemuda. “Memang tidak formal, tapi ini cara kami tetap memaknai semangat bersatu, seperti apa yang para pemuda lakukan di tahun 1928," kata Arif di hadapan wartawan dan teman-temannya.
Seperti Arif, banyak pemuda lain memiliki cara kreatif untuk memaknai Sumpah Pemuda di era sekarang. Sebagian dari mereka menggunakan media sosial sebagai platform untuk menyuarakan ide-ide. Ada yang memperkenalkan budaya daerah termasuk meluncurkan kampanye online untuk mempromosikan toleransi antar suku dan agama.
Contohnya, Arif adalah kelompok content creator yang membuat konten-konten pendek tentang keberagaman budaya Indonesia di TikTok. Mereka menampilkan tarian, pakaian tradisional, dan bahasa daerah dari berbagai wilayah. Melalui konten yang disajikan ringan namun penuh makna, mereka mengajak sesama pemuda untuk menghargai dan mempelajari keunikan Indonesia yang multikultur.
Meski banyak pemuda yang menggunakan teknologi untuk mengekspresikan rasa nasionalisme, sebagian lainnya tetap memperingati Sumpah Pemuda dengan kegiatan-kegiatan tradisional. Di beberapa sekolah dan komunitas pemuda, misalnya, Hari Sumpah Pemuda diperingati dengan upacara bendera, pembacaan ikrar Sumpah Pemuda, serta pertunjukan budaya seperti musik dan tari tradisional. Ada juga berseragam pakaian tradisional masing-masing daerah.
Kegiatan semacam ini tak hanya memperkuat rasa cinta tanah air. Tetapi juga menjadi momen bagi para pemuda untuk mengenal kembali sejarah bangsa. Meskipun teknologi memudahkan semua terhubung, tidak ada salahnya sesekali merayakan dengan cara sederhana. "Tentunya mengingatkan kita pada perjuangan pemuda dulu,” sambung Rina, teman Arif anggota komunitas pemuda.
Hari ini, cara merayakan Sumpah Pemuda mungkin tak lagi sama seperti dulu. Namun, semangat untuk berkumpul, berbagi, dan belajar tetap ada. Baik itu melalui diskusi di warkop, bermain game bersama, membuat konten digital, atau mengikuti upacara di sekolah, para pemuda masa kini menunjukkan bahwa mereka tak melupakan nilai persatuan yang diwariskan dari Sumpah Pemuda.
Arif dan teman-temannya adalah bukti bahwa nasionalisme tidak mengenal batasan cara atau tempat. Di warkop dan dunia maya, mereka tetap bersatu, tetap belajar, dan tetap berusaha merawat Indonesia yang mereka cintai. Di era digital, semangat Sumpah Pemuda tidak memudar. Justru berkembang, menjangkau ruang-ruang baru yang tak pernah terpikirkan oleh generasi sebelumnya.
Kini, hampir seabad berselang, situasi sudah berubah. Tantangan kolonialisme berganti wajah menjadi derasnya arus globalisasi dan derasnya budaya digital. Di era serba instan ini, gaya hidup pemuda lebih condong ke arah kesenangan dan hiburan. Game online, nongkrong berjam-jam di kafe atau warkop, berselancar di media sosial—aktivitas ini seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-hari pemuda masa kini.
Suib, anggota DPRD Kalbar mengatakan bahwa puluhan tahun silam tepatnya tahun 928, para pemuda memperingati hari Sumpah Pemuda dengan menyamakan persepsi dan kemauan. Waktu itu, para pemuda berkomitmen kompak menjaga keutuhan bangsa sekaligus merespon ide-ide persiapan kemerdekaan dalam jangka Panjang.
Namun hari ini, kata politisi Hanura Kalbar ini, semuanya dihadapkan dengan situasi berbeda. Para pemuda dituntut lebih banyak meningkatkan diri, kualitas diri, dan menjadi sumber daya manusia terdepan termasuk memajukan daya kreatifitas. Tentunya meneruskan isi sumpah pemuda itu sendiri.
" Relita hari ini berbeda dari dulu pemuda zaman dahulu. Kreatifitas harus diekspresikan dan dikembangkan dengan semaksimal mungkin dalam jangka panjang. Tantangan krusial yang dihadapi yakni para pemuda harus dapat mengisi semua peluang-peluang dari segala sector," ucap tokoh pemuda Kalbar ini.
Dia masih ingat para seniornya bercerita bahwa dulu para pemuda berperan mengusir para penjajah. Hari ini, para pemuda dituntut punya kemampuan dari segala sektor. Tak hanya pakar dalam sektor pendidikan, teknologi, budaya, sosial, ekonomi, agama dan lain-lain. Para pemuda terus dituntut menjadi bagian dari maju dan berkembang, seperti negara-negara maju lainnya. Itu semua tak terlepas bagaimana proses pembentukan para pemudanya hari ini.
"Dan Ketika para pemuda kreatif berproses, belajar mau lebih maju sesuai keahlian masing-masing, maka menuju Indonesia Emas 2045, bukanlah sesuatu yang mustahil. Indonesia bisa menjadi bangsa besar di dunia bersaing dengan negara-negara maju lainnya," pungkas Suib.(**)
Editor : A'an