Maskot Flora Kalbar itu Menjadi Fokus Penelitian Bioprospeksi
A'an• Kamis, 7 November 2024 | 09:59 WIB
Biji Buah Tengkawang.
Upaya Penyelamatan Tengkawang di Kalimantan Barat
Berbagai pihak melakukan berbagai langkah untuk menyelamatkan pohon tengkawang, tanaman endemik yang bernilai ekonomis dan ekologis tinggi. Tanaman yang tersebar di delapan kabupaten di Kalimantan Barat (Kalbar) ini, terancam akibat perubahan penggunaan lahan, serta kebijakan yang kurang berpihak.
SITI SULBIYAH, Pontianak
HOBI berpetualang menjelajahi hutan membawa Deman Huri mengenal sebuah tanaman ‘ajaib’. Tanaman ini dianggap sakral karena kerap disebut dalam mantra orang Dayak, suku khas Kalimantan. Oleh masyarakat, tanaman ini juga kerap dijadikan sebagai obat. Tanaman dimaksud adalah tengkawang.
“Pada tiap mantra orang dayak, subdayak apapun yang saya temui, tengkawang selalu ada disebutkan dalam doa mereka, atau yang juga dikenal dengan nama engkaban,” kata Deman.
Deman melalui Lembaga Intan bergerak menyelamatkan pohon-pohon tengkawang yang tumbuh di Hutan Adat Pikul Pengajid, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat sejak tahun 2012.
Hutan adat yang berlokasi di Desa Sahan tersebut memiliki luas 100 hektare. Setidaknya 125 jenis pohon tumbuh di hutan adat tersebut. Tengkawang adalah salah satu pohon yang tumbuh subur di sana. Bersama masyarakat desa, Intan mengolah biji menjadi lemak tengkawang.
Selain memiliki nilai ekonomi, nilai budaya tengkawang tidak kalah berharga. Bagi orang Dayak, salah satu konflik terbesar adalah pencurian terhadap biji tengkawang.
Selain memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi, tanaman tersebut juga punya nilai konservasi yang tinggi. Keberadaan pohon Tengkawang merupakan salah satu indikator bahwa kawasan tersebut terjaga dengan baik.
Kisah Deman dan Hutan Adat Pikul Pengajid yang melestarikan tengkawang tertulis dalam buku berjudul “Tengkawang Pohon Kehidupan Kaya Manfaat”. Selain itu, buku yang ditulis oleh Aseanty Pahlevi tersebut memaparkan tentang pentingnya tengkawang sebagai sumber daya alam khas Indonesia dan warisan budaya.
Proses pengolahan Tengkawang.
“Buku ini hadir untuk memahami aspek ekologi, ekonomi, dan budaya yang terkait dengan Tengkawang,” kata Aseanty Pahlevi saat dalam Webinar Bioprospeksi Tengkawang dan Bedah Buku, yang digelar di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rabu (30/10).
Dalam momen yang sama, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat, Setyo Haryani menyebutkan bahwa pohon-pohon tengkawang tersebar di delapan kabupaten di provinsi ini, yaitu Kapuas Hulu, Bengkayang, Ketapang, Landak, Melawi, Sanggau, Sekadau, dan Sintang.
“Ini berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari Jaringan Tengkawang Kalimantan di mana pada tahun 2017 telah melakukan inventarisasi potensi dan sebaran tengkawang di 73 desa di delapan kabupaten di Kalbar,” ungkapnya.
Ia menambahkan potensi buah kering tengkawang yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar 6.048 ton yang tersebar di kawasan seluas 9.653 km persegi. Beberapa jenis tengkawang yang ada di Kalbar adalah jenis tungkul, cerindak, rambai, layar dan bintang.
“Namun, data inventarisasi ini sudah lebih dari tujuh tahun dan perlu pemutakhiran data lagi,” tuturnya.
Koordinator Jaringan Tengkawang Kalimantan, Valentinus Heri mengungkapkan tantangan yang dihadapi masyarakat lokal dalam memanfaatkan tengkawang. Salah satunya adalah panen tengkawang yang bersifat musiman, dan kemampuan untuk mengolah buah tengkawang menjadi minyak masih terbatas karena fasilitas yang belum memadai.
Selain itu, perizinan untuk produksi dan pemasaran produk tengkawang masih sulit didapat. Sementara harga buah tengkawang kering tidak stabil dan cenderung rendah.
Valentinus juga menyoroti bahwa pohon tengkawang semakin berkurang karena kebijakan yang ada belum sepenuhnya mendukung perlindungan dan pengembangan tanaman ini.
“Belum banyak yang mengenal potensi tengkawang dalam bioprospeksi,” ungkapnya.
Direktur Lembaga Intan, Deman Huri menyebut ada beberapa tantangan dalam pelestarian tengkawang, mulai dari alih fungsi lahan, produk yang kurang familiar di masyarakat, hingga periode panen yang hanya satu sampai dua tahun sekali.
“Tengkawang musim berbuah umumnya dua tahun sekali kecuali di Desa Sahan yang satu tahun sekali bahkan biasanya enam bulan sekali,” katanya. Selain itu, di Kalbar baru ada dua pabrik pengolahan buah Tengkawang.
Penyelamatan Lewat Bioprospeksi
Tengkawang, tanaman endemik Kalbar kini menjadi fokus penelitian bioprospeksi yang diharapkan dapat membawa manfaat ekonomi dan ekologi bagi masyarakat dan lingkungan. Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat, Setyo Haryani, mengatakan spesies tengkawang saat ini menjadi komoditas penelitian bioprospeksi yang dikerjakan oleh Jaringan Tengkawang Kalimantan yang didukung oleh Yayasan KEHATI.
Program pelaksanaannya dimulai dari tahapan inventarisasi pengetahuan tradisional yang direncanakan bulan November ini di lebih dari 200 desa, bersamaan dengan panen raya tengkawang. Panen buah tengkawang kemungkinan besar akan terjadi pada akhir tahun 2024 atau awal 2025.
“Lalu juga akan dilakukan eksplorasi sumber daya genetik lewat data dan jurnal ilmiah yang ada, sehingga mampu mendukung produk turunan tengkawang untuk dapat dikomersialkan ke publik,” katanya.
Bioprospeksi menjadi penting karena merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan keanekaragaman hayati melalui penelusuran manfaat keanekaragaman hayati yang sistematik untuk tujuan komersial dari sumber senyawa kimia baru, gen, protein, mikroorganisme, atau produk lainnya.
Menurutnya, program bioprospeksi ideal yang mengedepankan skema pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkeadilan dan berkelanjutan harus dibangun melalui proses- proses bisnis baru, bukan "business as usual", melainkan pemanfaatan yang lebih adil dan berkelanjutan antara industri, dunia akademis, pemerintah dan juga masyarakat desa dan adat.
Tengkawang, sebagai maskot Kalbar diharapkan bisa memperoleh Indikasi Geografis (IG) yang nantinya dapat mendorong pengembangan produk tengkawang, seperti minyak tengkawang dan produk turunannya, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
“Indikasi geografis ini diharapkan dapat meningkatkan semangat masyarakat dalam melestarikan tengkawang dan meningkatkan pendapatan mereka,” ujarnya.*