Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bertoleransi Di Kampung "Nusantara": Cerita Harmoni di Hari Toleransi Internasional

Miftahul Khair • Selasa, 12 November 2024 | 15:30 WIB
Ilustrasi Hari Toleransi Internasional.
Ilustrasi Hari Toleransi Internasional.

Setiap tanggal 16 November menjadi momen istimewa bagi warga kampung kecil yang didiami masyarakat "nusantara" dari berbagai latar belakang. Meskipun mereka tak tahu bahwa momen tersebut adalah Hari Toleransi Internasional, tetapi hampir sepanjang waktu, bertoleransi telah menjadi adat istiadat dan kebiasaan masyarakat. Kampung di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya menjadi contoh bagaimana toleransi tak sekedar dibangun dari kata. Namun praktik hidup sehari-hari yang dihayati warga. Kebersamaan terus dibangun di tengah keberagaman yang ada ?

DENY HAMDANI, Kubu Raya

SEJAK pagi, aroma masakan menguar dari dapur dadakan. Di ujung komplek, terlihat pemandangan akrab bagi masyarakat "nusantara", yakni warga dari latar belakang berbeda. Di sana, ibu-ibu berbaju santai, mengenakan celemek warna-warni, tengah sibuk meracik bahan-bahan sederhana untuk menyiapkan hidangan sederhana. Ada sambal lado, ikan goreng, sayur lodeh, hingga bubur kacang hijau. Mereka memasak dengan canda ringan, saling bertukar cerita sambil sesekali tertawa lepas.

“Di kegiatan gotong royong begini, kita biasanya masak besar. Bapak-bapak kan butuh energi setelah bersih-bersih parit dan selokan,” ujar Bu Lela, salah satu warga yang terkenal dengan masakan sambal pedasnya. Ia terlihat terampil mengulek cabai sambil tersenyum. “Ini sudah tradisi turun-temurun dari orang tua kami dulu. Inilah bentuk bertoleransi kami (warga kampung),” tambahnya.

Hari penuh toleransi tersebut adalah hari libur yakni Hari Minggu. Ibu-ibu tengah memasak makanan khas bagi para pria. Rupanya bapak-bapak, anak muda termasuk anak kecil tengah bergotong royong membersihkan rumah ibadah, saluran parit sumbat, termasuk menyapu jalan komplek Staradis Residence di Kampung Arang--sebutan-Desa Arang Limbung. Hari itu, mayoritas pria libur dan tak memiliki aktivitas harian seperti biasa.

Dari balik dinding dapur dadakan tersebut, suara senda gurau dan canda tawa terdengar menggema. Menandakan semangat gotong royong menyala-nyala sekaligus mengenalkan toleransi sesama warga. Dengan penuh cekatan, tangan-tangan terampil ibu-ibu mengolah hidangan khas sederhana, namun kaya rasa. Semua bekerja dengan senyum dan penuh kegembiraan.

"Ini makanan dari hati,” kata Bu Ani, salah satu warga, sambil tersenyum ramah. “Kami masak untuk seluruh warga, sebagai wujud kebersamaan dan bertoleransi. Semoga yang makan, jadi lebih semangat bersih-bersih!," timpal dia.

Masyarakat kampung ini merayakan nilai-nilai toleransi yang hidup dan tumbuh di lingkungan mereka, dengan cara berbeda. Ketua Komplek, Sunarto yang ikut turut hadir dan menyampaikan pesan sederhana bahwa toleransi sudah jadi bagian hidup warga di sini. Bagi Sunarto, toleransi seperti memasak sayur lodeh.

"Bahan-bahan dalam sayur lodeh itu beda-beda; ada labu, terong, kacang panjang, tahu, dan tempe. Tapi kalau semua dimasak bersama, rasanya enak dan harmonis. Begitu juga hidup kita, kalau kita saling menghargai, perbedaan itu justru menambah warna," jelasnya. Analogi ini disambut tawa hangat warga yang merasa "lodeh" adalah istilah sehari-hari yang menggambarkan keseharian mereka.

Sementara, Beni pegawai Basarnas ini menganalogikan bahwa toleransi seperti cangkir kopi yang tak pernah penuh. "Menurut saya, layaknya kita menikmati secangkir kopi, tak perlu menunggu penuh untuk bisa saling berbagi kehangatan. Toleransi itu kita seruput sedikit demi sedikit, nikmatnya ada di sana, rasa damai ada di sana,” ujarnya dengan senyum hangat.

Beni kemudian bertutur tentang pengalamannya bertoleransi tetapi memiliki manfaat bersama untuk lingkungan dan masyarakat sekitar. “Di sini saya belajar bahwa toleransi bukan hanya soal menerima perbedaan, tetapi merayakan. Merayakannya cukup bekerja bersama-sama bagi kemanfaatan lingkungan dan warga sekitar. Saya melihatnya bukan sebagai jarak, tetapi sebagai warna dalam lukisan hidup bersama,” kata dia sambil mengamati anak-anak kecil yang larut dalam pekerjaan kecil mereka.

Warga di kampung ini menambahkan bahwa Hari Toleransi bukan hanya tentang merayakan perbedaan. Namun juga menjadi pengingat bahwa nilai toleransi harus diajarkan sejak dini. Kampung dan kampung-kampung lainnya di Indonesia  menjadi contoh nyata betapa pentingnya saling menghargai dan membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman.

Bagi warga, Hari Toleransi Internasional bukan sekadar perayaan tahunan. Tetapi menjadi refleksi dari nilai-nilai yang sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. "Kami sudah terbiasa hidup berdampingan, dan itulah yang kami rayakan setiap hari," tutup pak Sunarto sambil tersenyum.

Di tengah dunia yang penuh tantangan, mungkin ada pelajaran yang bisa diambil dari kampung nusantara kecil ini. Bahwa toleransi bukanlah hal besar dan sulit dicapai. Melainkan dimulai dari hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Bertoleransi di kampung ini mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah hambatan, melainkan kekuatan yang mempererat ikatan sosial.

 

Sejarah Hari Toleransi

International Day for Tolerance (Hari Toleransi Internasional) adalah hari yang diperingati sebagai momen merayakan keragaman dan toleransi di seluruh dunia. Hari Toleransi Internasional juga diperingati sebagai kesempatan merayakan toleransi dalam rangka menghargai keragaman yang ada di seluruh dunia. Deklarasi Prinsip-Prinsip Toleransi UNESCO tahun 1995 dianalogikan bahwa

Toleransi adalah rasa hormat, penerimaan, dan penghargaan terhadap kekayaan keragaman budaya dunia, bentuk ekspresi, dan cara menjadi manusia.

Pada tahun 1996, Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 51/95 yang menyatakan tanggal 16 November sebagai Hari Toleransi Internasional . Tindakan ini menyusul diadopsinya Deklarasi Prinsip-prinsip Toleransi oleh Negara-negara Anggota UNESCO pada tanggal 16 November 1995.  Antara lain, Deklarasi tersebut  menegaskan bahwa toleransi bukanlah sikap memanjakan atau acuh tak acuh.

Toleransi adalah rasa hormat dan penghargaan terhadap kekayaan keragaman budaya dunia, bentuk-bentuk ekspresi, dan cara-cara kita sebagai manusia. Toleransi mengakui hak asasi manusia universal dan kebebasan fundamental orang lain. Manusia pada dasarnya beragam; hanya toleransi yang dapat menjamin kelangsungan hidup masyarakat yang beragam di setiap wilayah di dunia. (*)

Editor : Miftahul Khair
#toleransi #nusantara #keberagaman