Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Goresan Cinta di Hari Guru Nasional: Ketika Anak Didik Menyulam Rasa dalam Puisi

A'an • Senin, 25 November 2024 | 19:22 WIB
Hari Guru Nasional.
Hari Guru Nasional.

Setiap tahun pada tanggal 25 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional (HGN), sebuah momen untuk mengenang dan menghormati jasa para pendidik yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa. Di tengah peringatan ini, anak-anak SD memiliki cara yang unik dan menyentuh hati dalam menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru mereka. Salah satunya adalah melalui karya seni puisi, sebuah bentuk ekspresi penuh makna, dan sarat rasa penghormatan ?


DENY HAMDANI, KUBU RAYA.

Setiap tanggal 25 November, suasana sekolah di seluruh penjuru Indonesia termasuk di Kubu Raya terasa lebih hangat dari biasanya. Hari Guru Nasional (HGN) menjadi momen istimewa mengenang jasa para pahlawan pada setiap ruang kelas. Tak hanya upacara formal atau penghargaan dari pemerintah, namun kreativitas anak-anak didik menjadi sorotan: mereka mempersembahkan puisi-puisi penuh cinta untuk guru-guru tercinta.

Di SD negeri di pinggiran jalan Kubu Raya, suasana kelas berubah menjadi "studio seni". Anak-anak, dengan pensil di tangan dan kertas kosong di depan mereka, tampak serius merangkai kata. Anak-anak membuat sebuah puisi berbeda-beda judul. Ada yang cukup menarik dan enak dibaca.

Sebuah puisi dengan judul "Pahlawan Dari Ruang Kelas" dipersembahkan seorang anak didik tingkat Sekolah Dasar untuk wali kelas dan para guru. Puisi tersebut hasil kolaborasi murid dan orang tuanya di rumah. Rupanya puisi tersebut jadi pekerjaan rumah yang jadi tugas, sang anak didik untuk dipersembahkan di Hari Guru Nasional. Tulisan pendek, penuh makna sengaja dibuat jadi kenang-kenangan bagi Bu Guru Mawar dan para guru lainnya.

Seperti apa puisinya. Mari Baca. (PAHLAWAN DARI RUANG KELAS).

Di balik sunyi ruang kelas, Ada langkah yang tak pernah lelah, Walau hari berganti resah, Kau tetap berdiri, membagi cahaya.

Wahai guru, Yang tak mengenal lelah memetik mimpi, Membimbing tangan kecil yang gemetar, Mengukir jalan bagi generasi.

Wajahmu mungkin tak selalu tersenyum, Namun hatimu selalu hangat bagai pagi, Meski hujan rintik dalam hidupmu, Cahaya harapanmu tak pernah padam.

Walikelas tercinta, Kau bukan sekadar penjaga absensi, Namun peluk di hati saat kami tersesat.

Batas sabar tak pernah surut, Membimbing kami menuju dewasa.
Guru, Kau melukis mimpi di kanvas jiwa, Menanam nilai di ladang pikiran, Meski gajimu tak sepadan.

Dedikasimu melampaui batas zaman.
Di hari ini, Kami berdiri dengan doa dan syukur, Untuk setiap malam tanpa tidur, Setiap air mata yang tak terlihat, Dan setiap tawa yang kau bagi dengan tulus.

Terima kasih, pahlawan kami, Meski tak bersayap, kau membuat kami terbang, Meski tak berpangkat, kau membawa kami tinggi, Hari ini dan selamanya, Kami mengingatmu, kami menghormatimu.

Untuk setiap keringat yang kau teteskan, Adalah pelita bagi gelapnya kebodohan, Untuk setiap teguran yang kau ucapkan, Adalah kasih sayang yang tak terbalaskan.

Di balik senyummu yang sederhana, Ada ribuan mimpi yang kau tata, Mimpi kami, murid-muridmu, Yang kau jadikan tujuan tanpa ragu.

Walikelas, penuntun jalan kami, Kau adalah pelita di persimpangan sunyi, Menjaga kami tetap teguh berdiri, Saat badai datang menguji mimpi.

Para guru yang mulia, Hidupmu mungkin penuh pengorbanan, Namun dari pengorbananmu lahir peradaban,
Dari ketulusanmu, dunia dibangun.

Di Hari Guru ini, kami berjanji, Menyemai nilai yang telah kau beri, Melanjutkan cerita dengan bangga hati, Membawa baktimu ke segala penjuru negeri.

Air mata kami hari ini adalah penghormatan, Bukan sedih, tapi rasa terima kasih yang dalam.

Untuk setiap doa yang kau panjatkan, Untuk setiap ilmu yang kau tanamkan.
Guru, kau abadi dalam ingatan, Namamu harum di setiap ucapan, Di bumi ini, hingga akhir zaman, kami tetap muridmu, dalam kehidupan.

Bait puisi yang dibuat tidak hanya sekadar rangkaian kata, melainkan wadah para siswa-siswi mengekspresikan perasaan mereka. Di balik bait-bait kalimat yang tertata rapi, ada doa, harapan, dan juga pengakuan terhadap segala usaha keras yang telah diberikan para guru. Anak-anak ini punya cara sendiri merangkai kata-kata agar terasa indah dan penuh makna.

Melalui puisi, para murid seolah menyuarakan rasa terima kasih yang terdalam kepada para guru mereka. Tidak hanya tentang ilmu yang diberikan, tetapi juga tentang perhatian, kasih sayang, dan motivasi tiada henti dalam membentuk karakter mereka.

Bait-bait puisi yang ditulis dengan penuh perasaan ini menggambarkan bagaimana seorang guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai panutan, teman, dan pahlawan pembimbing setiap langkah siswa menuju masa depan lebih cerah. Dalam setiap kata yang dipilih, ada harapan dan doa agar para guru selalu diberi kebahagiaan dan kesehatan, agar mereka bisa terus menginspirasi generasi berikutnya.

Tidak hanya puisi-puisi yang dipersembahkan untuk guru, tetapi juga karya seni lainnya, seperti lukisan atau karikatur, yang sering kali menggambarkan sosok guru dengan cara yang penuh kasih. Namun, puisi tetap menjadi pilihan utama para siswa untuk menyampaikan rasa terima kasih mereka. Dengan kata-kata yang sederhana, namun sarat makna, mereka mampu merangkai pesan yang mampu membuat guru merasa dihargai dan terinspirasi.

Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini, yang diwarnai dengan karya-karya puisi penuh emosi dari para murid, menjadi pengingat akan peran besar guru dalam membentuk generasi bangsa. Melalui karya seni ini, anak-anak tidak hanya belajar menghargai jasa guru, tetapi juga mengapresiasi kekuatan kata-kata dalam menyampaikan perasaan dan membangun hubungan yang lebih dalam.


Sejarah HGN di Indonesia?

Sejarah Hari Guru dimulai jauh sebelum kemerdekaan. Jejaknya panjang dari era kolonial Belanda hingga masa pendudukan Jepang. Pada masa itu, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi pejuang yang berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Pada era Hindia Belanda, pendidikan bagi calon guru mulai dirintis dengan berdirinya Sekolah Guru Negeri pada tahun 1851 di Surakarta. Sebelumnya dikenal sebagai Normal Cursus. Sekolah ini bertujuan mencetak guru untuk mengabdi di desa-desa dan wilayah terpencil.

Tahun 1912 silam, berdiri Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB), sebuah organisasi yang mewadahi para guru dari berbagai kalangan, seperti guru desa, kepala sekolah, dan guru bantu. Namun, perbedaan status dan pangkat di antara anggotanya menyebabkan fragmentasi, memunculkan organisasi baru seperti Persatuan Guru Bantu (PGB) dan Perserikatan Guru Desa (PGD).

Transformasi besar terjadi pada tahun 1932 ketika PGHB berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pergantian nama ini mencerminkan semangat nasionalisme yang kuat, meskipun mendapat tentangan dari Belanda yang keberatan dengan penggunaan kata "Indonesia."

Saat Jepang menguasai Indonesia, organisasi pendidikan, termasuk PGI, dibubarkan. Namun, para guru tetap berjuang melalui pembentukan organisasi "Guru" pada tahun 1943 di Jakarta, yang diprakarsai Amin Singgih dan rekan-rekannya.

Jepang juga menyelenggarakan pelatihan khusus bagi guru, mencakup pelajaran bahasa Jepang, ideologi Hakko Ichiu, hingga pelatihan militer. Meskipun bertujuan propaganda, para guru memanfaatkan kesempatan ini untuk menjaga semangat nasionalisme di kalangan masyarakat.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, guru kembali berperan penting dalam membangun sistem pendidikan yang sempat terhenti selama masa penjajahan.

Kongres Guru Indonesia

Pada 24-25 November 1945, Kongres Guru Indonesia diselenggarakan di Sekolah Guru Puteri, Surakarta. Kongres ini dihadiri oleh tenaga pendidik dari berbagai daerah, baik yang masih aktif maupun yang telah pensiun. Kongres tersebut melahirkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), yang menjadi wadah perjuangan guru di Indonesia. PGRI memiliki tiga tujuan Utama. Pertama Mempertahankan Republik Indonesia, Meningkatkan mutu Pendidikan dan Membela hak dan kesejahteraan guru. PGRI juga menjadi simbol persatuan, menyatukan para guru yang sebelumnya terpecah akibat perbedaan status dan pangkat, sehingga memperkuat peran guru dalam pembangunan bangsa.

Hari Guru resmi ditetapkan pada 25 November 1994 melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari lahir PGRI, yang memiliki sejarah panjang sebagai organisasi perjuangan guru. Penetapan ini bertujuan memberikan penghormatan kepada guru atas kontribusi besar mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menurut Keputusan Presiden tersebut, guru memiliki peran strategis dalam pengembangan sumber daya manusia. Peringatan Hari Guru menjadi wujud apresiasi sekaligus pengingat akan pentingnya pendidikan dalam pembangunan nasional.(**)

Editor : A'an
#guru #HGN