Tanggal 14 Februari, dikenal dengan hari kasih sayang (valentine days). Hampir seluruh masyarakat berbagai belahan dunia, terutama Benua Eropa, Amerika, dan sebagian Asia merayakan hari sakral tersebut. Berbagai cara mereka perlihatkan demi menunjukkan rasa kasih sayang kepada orang-orang tersayang. Seperti kisah masa lalu dua sejoli (AA), yang merayakan valentine days di Kota Pontianak, Kalimantan Barat ini ?
Deny Hamdani,Pontianak.
DELAPAN tahun lalu, Asri dan Arif adalah sepasang kekasih. Mereka masih mengingat kenangan indah di taman Untan Kota Pontianak. Keduanya tampak asik menikmati alunan irama serak-serak basah suara seorang pengamen jalanan, yang membawakan lirik lagu bertemakan cinta.
Keduanya juga, baru enam bulan berpacaran dan memutuskan untuk lebih serius ke jenjang pelaminan. Kebetulan juga, malam itu bertepatan dengan hari valentine days, yang jatuh setiap tanggal 14 Februari.
Tidak ada yang istimewa di hari kasih sayang, yang dirayakan Asri-Arif beberapa tahun silam tersebut. Hanya suguhan sekotak coklat, seikat bunga mawar, dan kulineran kaki lima, hasil merogoh uang tabungan Arif untuk kuliah.
Hari itu, sengaja pria asal Pulau Jawa ini mempersembahkannya, bertepatan dengan hari istimewa, yakni Hari Kasih Sayang. Pemuda-pemudi ini juga baru merayakan, karena baru memutuskan untuk berpacaran.
Gaya berpacaran, Asri-Arif juga sangat sehat. Mereka saling memberikan nasihat, mengejar cita-cita dan masa depan. Keduanya juga tercatat sebagai mahasiswa-mahasiswi semester akhir perguruan tinggi negeri di Kota Pontianak.
Arif merupakan mahasiswa semester akhir jebolan jurusan eksak. Dia tinggal di kos, sekitaran kampus. Sementara Asri, mahasiswi jurusan ilmu non eksak, yang menetap di Kota Pontianak bersama keluarganya.
Bagi keduanya, Hari Valentine adalah setiap hari. Sebab, saling sapa. Bersenda gurau, tertawa riang, bergembira, saling berboncengan dengan sepeda motor hampir setiap hari dijalani. Ibarat kata, dunia hanya milik mereka berdua. Pergi kuliah, mengerjakan tugas dosen, menikmati suasana bersama nyaris setiap waktu terjadi. Tak heran jalan menuju keseriusan hampir berada di depan mata. Apalagi, kedua orang tuanya sudah saling mengetahui hubungan istimewa tersebut.
Puncak cerita, hubungan serius tersebut rupanya tidak pernah sampai. Kenangan janji suci di hari valentine tak pernah terwujud. Penyebabnya adalah Arif merantau ke Ibukota Jakarta, karena diterima bekerja di perusahaan negara. Asri sendiri ikutan sibuk dengan aktivitas pekerjaannya di Kota Pontianak.
Disebabkan jarak, Waktu, dan jarang bertemu ternyata janji suci hari valentine menuju jenjang pernikahan beberapa tahun silam, ikutan buyar. Arif menikah dan berbahagia dengan pasangan barunya, di Jakarta. Sementara Asri sendiri, sudah berstatuskan istri seseorang di Kota Pontianak.
Meskipun tidak bisa mengikat janji suci. Namun, keduanya masih ingat bagaimana pertama kali melukis pelangi di hari kasih sayang. Kenangan tersebut tak akan pernah mudah terlupakan, di otak dan hati mereka. Kisah indah valentine sudah usai, dengan kebahagiaan masing-masing. Arif sudah menemukan sejatinya. Asri telah memantapkan hatinya sehidup semati dengan pria lain.
Kini ceritanya sekarang berbeda. Lukisan pelangi indah sudah "terluka". Kebahagiaan Hari Kasih Sayang, tidak selamanya mulus di awal cerita cinta. Inilah sekelumit cerita cinta anak-anak muda yakni AA, yang gagal di hari valentine. Hubungan keduanya harus kandas diujung janji. Kisah dua hati yang mustahil bersatu lagi. Keduanya telah menemukan "kanvasnya" masing-masing.
Nah, mengulik sejarah peringatan Valentine Days sendiri memang berawal dari hukuman mati seorang martir bernama Saint Valentine. Pada tanggal 14 Februari 270 Masehi, dia berkorban karena menolak kebijakan sang Konstantin Agung (280-337 M). Kebijakan tak populer tersebut melarang terjadinya pertunangan dan pernikahan di masa pemerintahan kaisar.
Kemudian tahun 495 Masehi, Paus Gelasius I mengubah salah satu upacara Romawi Kuno tersebut menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine's Day. Hari tersebut untuk menghormati St. Valentine, yang mati sebagai martir.
Meski demikian di Indonesia pandangan soal Hari Kasih Sayang dinilai berbeda oleh Ustadz Miftah, penceramah dari Kalimantan Barat ini. Sebab, merayakan Hari kasih sayang, masih jadi perdebatan Panjang. Larangan merayakan hari tersebut mencakup banyak faktor. Mulai faktor budaya hingga faktor agama tertentu, yang cenderung menolak merayakannya karena dampak mudaratnya lebih banyak.
Soal patokan kasih sayang, Ustadz Miftah menganjurkan berguru kepada ajaran Rasulullah SAW kepada umatnya dalam menyayangi siapapun, tanpa terkecuali di muka bumi. Sebagaimana sabda Rasullulah SAW yang diartikannya."Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit," katanya menukil sabda Rasulullah SAW, lewat kutipan HR At-Tirmidzi.
"Dan itulah makna cinta bagi saya. Hari kasih sayang itu harus dirayakan dan dipraktekan setiap hari kemudian disebarkan ke siapapun, tanpa memandang apapun," sambung dia.
Kemudian versi berbeda tentang kedalaman makna kasih sayang dijabarkan seorang Kahlil Gibran, penyair besar. Dia adalah seniman pemberontak dalam sastra dan politik yang punya catatan kata-kata mendalam tentang cinta. Lewat gaya romantisnya di jantung Renaissance dalam sastra Arab modern, khususnya Puisi Prosa. Kahlil Gibran sendiri dikenal warga dunia, setelah menerbitkan buku The Prophet pada tahun 1923.
Pesan mendalam Kahlil Gibran tentang cinta adalah kebahagiaan yang terus berdegup. Cinta adalah wujud keabadian paling sejati. Cinta membuka mataku dengan keindahannya, dan membeli jiwaku dengan kehangatan jemarinya. Cinta juga turun ke dalam roh melalui kehendak Tuhan, dan bukan melalui kemauan manusia sendiri.
Lebih lanjut, baitnya tentang cinta sejati adalah, cinta seperti kematian, dan mengubah segalanya. Terpujilah cinta, yang mampu mengisi kesepian manusia, dan mengakrabkan hatinya dengan manusia lain. Cinta akan diri sendiri, menghasilkan kecongkakan buta, kecongkakan menciptakan kesukuan, dan kesukuan membangun kekuasaan, dan kekuasan penyebab penaklukan dan penindasan.
Terakhir dalam bait puisinya dijelaskan bahwa cinta yang hadir di antara kenaifan dan kebangkitan anak-anak muda memuaskan cintanya dengan rasa saling memiliki, dan cintanya mekar dalam pelukan-pelukan mesra.
Imam Syafi'i, seorang ulama besar, yang lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 Hijriah berbeda memaknai cinta. Imam Syafi'i sendiri dikenal sebagai salah satu imam dalam empat mazhab besar dalam Islam.
Imam Syafi'i menghabiskan sebagian besar hidupnya menuntut ilmu agama dan mengajar. Beliau dikenal sebagai sosok bijaksana memberikan nasihat dan pemikirannya tentang berbagai persoalan kehidupan.
Soal definisi kasih sayang, Imam Syafi'i dalamnya bait-baitnya bercerita bahwa lima huruf dalam bahasa Indonesia dan empat huruf dalam bahasa inggris diartikan dalam khazanah keilmuan dan spiritualitasnya. Bagi Imam Syafi'i, cinta adalah api membakar, jangan biarkan ia merusak hatimu.
Cinta sejati adalah cinta kepada Allah dan Rasulnya. Cinta itu buta, maka jadikanlah hati nurani sebagai panduannya. Cinta didasari iman akan membawa keberkahan, cinta didasari hawa nafsu akan membawa kepahitan.
Kata Imam Syafi'i tentang cinta sejati adalah cinta mengantarkan kepada kebahagiaan, bukan kegelapan. Cinta adalah anugerah, maka jagalah dan syukuri setiap anugerah tersebut. Cinta tulus adalah cinta tidak memaksakan kehendaknya. Cinta sejati adalah cinta menghargai perbedaan dan saling menguatkan.
Lebih lanjut baginya cinta adalah perjalanan panjang, maka bersiaplah menghadapi segala rintangan dan ujian. Cinta paling agung adalah cinta kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan.
Cinta adalah sumber kekuatan, jangan biarkan ia menjadi sumber kelemahan. Dan terakhir cinta adalah ladang amal, tanamkanlah benih-benih kebaikan di dalamnya. Cinta sejati tidak akan pernah mengkhianati, karena cinta itu setia.
Kalimat Imam Syafi'i tentang cinta mengajarkan tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan keikhlasan dalam merawat hubungan kasih sayang. Jika menjadikan kata-kata ini sebagai pedoman, biarkanlah hubungan membentuk cinta lebih bermakna dan berkah. Hanya saja, cinta bukan dirayakan pada peringatan dan momen tertentu, tetapi setiap hari untuk merawat hubungan peradaban ini.(**)
Editor : A'an