Pekerjaan sebagai petani kini banyak ditinggalkan oleh masyarakat pedesaan. Sebagian memilih jadi pekerja migran di Malaysia demi kucuran pundi rupiah yang lebih mumpuni. Namun, tak selamanya menjadi petani itu hidup di garis kemiskinan.
CHAIRUNNISYA, Pontianak
ACHMADI merupakan penduduk asli Desa Matang Danau, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Kendati desanya berada di pelosok dan jauh dari Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, pria berusia 49 tahun ini tak pernah berpikir untuk pindah. Dia setia menetap di sana dan bekerja sebagai petani sejak usia 17 tahun hingga saat ini.
Berdasarkan data geografis, Kecamatan Paloh berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Dari Paloh menuju pusat Kabupaten Sambas memerlukan waktu hingga dua jam. Bahkan, sebelum tahun 2015, harus memakan waktu hingga 3,5 jam karena kondisi jalan rusak. Dari Sambas menuju Kota Pontianak, penduduk memerlukan waktu tempuh selama 7 jam. Jika ditotalkan, dari Paloh menuju ibu kota Kalbar tersebut menghabiskan waktu hampir 10 jam.
Jauhkan jarak dari Paloh ke Pontianak menyebabkan warganya lebih mudah mendapat akses kehidupan di Negeri Jiran. Bahkan, mereka lebih memilih menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) daripada mencari nafkah di negeri sendiri. Berdasarkan data Kabupaten Sambas dalam Angka 2024, penempatan TKI asal Sambas pada 2023 ke Malaysia sebanyak 267 orang yakni 170 orang pria dan 97 orang wanita. Pada 2022 sebanyak 1.135 orang terdiri atas 768 pria dan 367 wanita.
Kendati banyak penduduk kampungnya yang memilih kerja ke Malaysia, Achmadi tetap bertahan.
“Saudara saya saja ada sekitar 10 orang yang jadi TKI. Tetapi saya tetap memilih di sini (Paloh),” ungkap Achmadi.
Baca Juga: Pupuk Kaltim Perkuat Ketahanan Pangan di Wilayah Sumatera
Menurut Achmadi, lebih baik dia menjadi petani di kampungnya asalkan tak jauh dari keluarga. Sebab, jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, dia masih punya keluarga untuk membantunya. Achmadi juga ingin membuktikan bahwa bercocok tanam juga bisa menghidupi keluarga.
“Hingga saat ini saya sudah 32 tahun jadi petani,” tutur Achmadi.
Pekerjaan Achmadi menjadi petani terbantu dengan adanya pupuk subsidi dari pemerintah. Saat ini dia menanam padi di lahan seluas 3 hektar. Selain itu, juga menanam 400 pohon cabai dan 200 pohon lada. Dalam setahun dia memerlukan 850 kilogram atau 15 karung pupuk untuk tanamannya.
“Satu karung isinya 50 kilogram pupuk. Ada NPK dan ada urea,” jelas Achmadi.
Untuk memenuhi kebutuhan pupuk, Achmadi harus mengandalkan pupuk subsidi. Sebab harganya jauh lebih murah dari pupuk nonsubsidi. “Kalau pupuk subsidi perkarungnya Rp150 ribu, sedangkan yang tidak subsidi kisaran Rp400 ribu perkarung. Bayangkan, kalau tidak ada pupuk subsidi, kami pasti susah. Sebab biaya perawatan pasti akan melonjak,” tuturnya.
Dia menjelaskan tanaman padinya memerlukan delapan karung pupuk dalam setahun. Pemakaian pupuk digunakan saat padi berusia dua sampai tiga bulan. Sekali pemupukan menghabiskan empat karung. “Dalam setahun dua kali tanam padi. Sedangkan lada pemupukan hanya sekali dalam setahun dengan sekali pemupukan 10 karung. Kalau untuk 400 pohon cabai hanya dua karung, yakni satu urea dan satu NPK dengan waktu pemupukan tiga bulan sekali,” katanya.
Achmadi membeli pupuk dengan sistem manual. Yakni melakukan pemesanan kepada kelompok tani yang ada di setiap dusun. Jarak antara pemesanan dan datangnya pupuk memerlukan waktu sebulan.
“Misalnya pesan hari ini, sebulan kemudian baru datang,” ujarnya.
Saat ini dia berharap penyaluran pupuk subsidi di daerah bisa diperbanyak dan dipercepat distribusinya. Sebab, pupuk sangat diperlukan oleh warga-warga di sana yang hingga saat ini masih setia menjadi petani.
“Alhamdulillah, dengan menjadi petani saya bahagia. Anak sekolah sampai perguruan tinggi, rumah ada, tanah ada. Yang pasti, lebih tenang karena berada di negara sendiri,” pungkasnya.
Agen pupuk Sedoiman yang berlokasi di Desa Matang Danau Kecamatan Paloh, Karjono mengungkapkan pihaknya masih menjual pupuk subsidi secara manual, tidak digitalisasi. Sebab, masih banyak petani di sana yang belum beralih ke telepon seluler android.
“Mereka juga susah jika harus berurusan dengan aplikasi,” kata pria berusia 43 tahun yang menjadi agen pupuk ini sejak 2015.
Menurut Karjono, dia melayani pembelian pupuk subsidi khusus petani cabai dan padi. Dalam setahun, tercatat sekitar 800 petani di Matang Danau yang membeli di agennya.
“Penyaluran pupuk subsidi ini dilakukan setiap satu bulan sekali dengan total 40 ton, biasanya diserahkan langsung kepada kelompok tani (poktan) di setiap dusun di Desa Matang Danau,” pungkasnya.
Direktur Pemasaran PT Pupuk Indonesia Tri Wahyudi Saleh mengungkapkan PT Pupuk Indonesia menyiapkan sebanyak 9,55 juta ton pupuk bersubsidi pada 2025 untuk mendukung terwujudnya swasembada pangan dan sudah didistribusikan sejak 1 Januari 2025.
"Pada tahun 2025, kami menerima amanat untuk menyalurkan pupuk subsidi sebesar 9,55 juta ton yang terdiri dari urea sebesar 4,6 juta ton, NPK sebesar 4,3 juta ton dan pupuk organik 500 ribu ton," ujarnya dilansir dari Jawapos (Pontianak Post grup)
Jumlah kuota pupuk bersubsidi tersebut lebih banyak daripada kuota 2024 yang mencapai 7,2 juta ton karena banyaknya aturan dan pihaknya menerima kontrak pada bulan April 2024, sehingga terlambat mendistribusikan pupuk kepada para petani.
Hingga saat ini, lanjut Tri wahyudi, pihaknya menyalurkan sedikitnya 10 ribu ton pupuk bersubsidi di seluruh Indonesia yang sudah didistribusikan sejak 1 Januari 2025. Dengan penyaluran tersebut, diharapkan diharapkan petani menggunakan secara tepat.
Pupuk Indonesia juga menyiapkan Program Makmur (Mari Kita Majukan Usaha Rakyat) dengan memberikan layanan on-farm dan off-farm dengan pendampingan Tenaga Agronomis dan Taruna Makmur.
Sampai dengan Desember 2024, dari target luas lahan 350.000 hektare (ha), sudah mencapai realisasi sebesar 451.536 ha atau 129 persen, khusus padi sebesar 124.845 ha dengan 170 ribu petani binaan yang tersebar di 24 provinsi. Dia menambahkan kegiatan tersebut untuk menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto terkait percepatan swasembada diharapkan dapat tercapai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. (*)
Editor : A'an