Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jelajah Rasa di Senja Ramadan 1446 Hijriah: Semangat Berburu Takjil di Kubu Raya

A'an • Selasa, 4 Maret 2025 | 13:31 WIB
Sehabis sholat ashar di Masjid Al Fatwa Sungai Raya, Kubu Raya, para ibu-ibu dan bapak-bapak sedang berburu aneka panganan kuliner yang menyajikan hamper 100 menu berbeda untuk berbuka puasa.
Sehabis sholat ashar di Masjid Al Fatwa Sungai Raya, Kubu Raya, para ibu-ibu dan bapak-bapak sedang berburu aneka panganan kuliner yang menyajikan hamper 100 menu berbeda untuk berbuka puasa.

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, jalan-jalan besar di Kabupaten Kubu Raya menjelma menjadi pusat keriuhan. Di bulan Ramadan 1446 Hijriah ini, tradisi "berburu takjil" tak hanya sekadar ritual berbuka puasa, melainkan jadi simbol kebersamaan dan keberagaman masyarakat multietnis di daerah ini. Dari pedagang kaki lima dadakan, warung-warung kue biasa hingga kedai legendaris, semua bersiap memanjakan para pemburu kuliner yang ingin menyempurnakan hidangan berbuka puasa 1446 Hijriah. Seperti apa para pemburu takjil datang ?

 

DENY HAMDANI, KUBU RAYA

 

TIGA hari terakhir, kawasan seperti jalan Adisucipto Sungai Raya, Ayani, hingga gang-gang kecil seperti Parit Bugis dan jalan kecil ramai dipadati warga yang berburu takjil. Aroma harum soto banjar, bubur pedas khas Melayu, hingga martabak telur berbaur dengan suara tawa anak-anak yang menunjuk aneka jajanan warna-warni.

Aneka kue seperti klepon, dadar gulung, kue cucur, lepat pisang, lepat ubi, bolu, nagasari, aneka gorengan, aneka kurma dan lain-lain terpampang di lapak-lapak dadakan. Tak ketinggalan aneka minuman segar seperti es campur, es buah, sirup markisa menjadi buruan utama untuk melepas dahaga.

"Saya sengaja datang dari Pontianak ke sini (Pinggir Jalan Parit Bugis) demi mencicipi kue klepon dan dadar gulung Bu Ira ini. Rasanya autentik, beda dari yang lain," kata Rina, seorang pelajar yang terlihat antre di salah satu gerobak legendaris.

Sementara itu, di sudut lain, pedagang aneka gorengan, Pak Joko, mengaku pendapatannya naik hampir 70-100 persen lebih selama bulan Ramadhan ini. "Ini rezeki bulan puasa. Saya buka dari pukul 3 sore sampai magrib, selalu habis terjual," katanya sambil tersenyum.

Kabupaten Kubu Raya, Kecamatan Sungai Raya dengan populasi masyarakat Melayu, Dayak, Bugis, Tionghoa, Jawa dan lainnya menawarkan aneka kekayaan kuliner yang harmonis. Di warung-warung temporer, masih ketupat kandangan khas Melayu bersanding dengan lontong sayur. Sementara di kedai Tionghoa Muslim, aneka kue tradisional, bakso, mie ayam dan lainnya masih menjadi menu favorit.

Bagi Ardiansyah, tokoh pemuda setempat, tradisi berburu takjil adalah cara menjaga tali silaturahmi. "Disini, kami (pemuda-pemudi) bertemu. Tak hanya mencari makanan, tapi juga bertemu saudara, tetangga, bahkan berkenalan dengan para pemburu takjil lainnya seperti yang ngetrend sekarang yakni nonis," ujarnya.

Ramadan tahun ini juga diwarnai gerakan sosial. Di depan Masjid Al fatwa misalnya, puluhan anak muda tergabung dalam komunitas "Sedekah Takjil" membagikan paket berbuka secara gratis. "Kami ingin memastikan tak ada yang berbuka dengan air putih saja. Semua berhak merasakan manisnya Ramadan," kata Akbar, koordinator aksi pada hari Minggu kemarin.

Tak hanya itu, sejumlah UMKM juga berlomba berinovasi. Kue-kue tradisional seperti lopis, wajik, bolu dan lainnya dikemas modern dengan topping coklat atau keju, menarik minat generasi muda. Ini hanya Sebagian kecil keragaman selama Ramadhan 1446 Hijriah.

Nah, bagi warga Kubu Raya sendiri, Ramadhan 1446 Hijriah bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga membuka ruang kebahagiaan bersama. Tradisi berburu takjil telah menjadi napas ekonomi bagi pedagang kecil dan wadah melestarikan kuliner nusantara. Hanya saja seiring adzan magrib berkumandang, semua perbedaan menyatu dalam syukur: satu kota, seribu rasa, satu tujuan.(**)

Editor : A'an
#ramadan #Takjil