Suara azan magrib mengalun lembut di antara deretan koleksi senjata kuno dan Al-Qur’an bertinta emas, menandai buka puasa bersama (bukber) yang istimewa di Museum Khazanah Melayu milik Haji Subhan Nur, tokoh Melayu Sambas dan Kalimantan Barat. Di tengah gemerlap lampu sorot yang menyinari artefak berusia ratusan tahun, kami (jurnalis, anggota komisi II, staf sekretariat dan para ajudan pribadi duduk lesehan menghadapi hidangan khas Melayu. Ada udang galah A, ikan asam pedas, ayam kampung masak kecap, rendang daging sapi, dan menu khas lain seperti kurma azwa, salad, buah, dan panganan kue melayu. Tak hanya sekadar santap berbuka, malam itu juga diwarnai dengan sholat Tarawih berjamaah yang khusyuk di pelataran museum, menyatukan spiritualitas dan kekayaan budaya dalam satu ruang.
DENY HAMDANI, Sambas
"Ini adalah cara kami merawat warisan sambil merajut silaturahmi," ucap Haji Subhan Nur, sang pemilik museum, dengan senyum ramah.
Pria yang Pak Haji Subhan ini menjelaskan, kegiatan bukber dan Tarawih bersama di museumnya sebenarnya dadakan aja. Tetapi telah menjadi tradisi saat musim Ramadhan datang. "Di sini, kita bukan hanya menjaga tubuh dengan berpuasa, tapi juga memberi "makan" jiwa dengan sejarah dan seni Islam Nusantara," tambah Ketua Majlis Adat Budaya Melayu (MABM) Sambas ini.
Terletak di kompleks rumah Haji Subhan, Museum Khazanah Melayu ini menyimpan lebih dari sekadar benda antik. Koleksinya mencerminkan napak tilas peradaban Melayu-Islam di Nusantara. Di antara yang paling mencolok adalah Al-Qur’an tulisan tangan karya ulama dari Ketapang dan Madura, serta mushaf bertinta emas cetakan Madinah dari Madinah, Arab Saudi.
“Al-Qur’an ini bukan hanya bacaan, tapi saksi perjuangan para ulama menyebarkan ilmu,” ujarnya sambil menunjukkan halaman-halaman yang masih terjaga keemasannya.
Tak kalah memikat adalah koleksi senjata dari berbagai era: pedang Inggris peninggalan kolonial Belanda, keris Bugis berukir ayat suci, hingga mandau Suku Dayak yang masih tajam. “Senjata-senjata ini pernah menjadi alat perjuangan. Kini mereka "beristirahat" sebagai pengingat akan keberanian leluhur,” papar Haji Subhan.
Menurutnya, meski ukuran museum tak sebesar milik pemerintah, kelengkapan koleksi budaya Melayu disini tak tertandingi. “Jika Hasanah (kekayaan budaya) yang dibandingkan, kami juaranya,” katanya bangga.
Wisatawan Mancanegara Pun Terpukau
Kekhasan museum ini tak hanya menarik pengunjung lokal. Turis dari Brunei dan Malaysia sering singgah untuk menelusuri jejak kesultanan Melayu yang terhubung dengan sejarah mereka. “Mereka bilang, koleksi di sini seperti potongan puzzle yang melengkapi sejarah Asia Tenggara,” cerita Haji Subhan. Bahkan, sebagian wisatawan rela datang berulang kali untuk mendalami detail ukiran pada keris atau pola kaligrafi di Al-Qur’an kuno.
Bukber Sambil Menyelami Sejarah
Momen buka puasa kemarin menjadi lebih bermakna ketika usai menyantap hidangan, para tamu sempat berkeliling sebentar ke museum. Dengan sabar, Haji Subhan menjelaskan asal-usul setiap koleksi, dari tombak suku Tagi Sonil hingga badik yang pernah menjadi pusaka kerajaan Bugis. “Ini seperti buka puasa dua kali: perut kenyang, hati pun puas dengan cerita-cerita heroik,” kata Edo, staf sekwan DPRD Kalbar.
Sholat Tarawih yang digelar setelahnya semakin mengukuhkan nuansa sakral. Suara imam bergema di antara dinding museum, seakan mengundang roh para leluhur untuk turut bersujud. “Sholat di sini terasa berbeda. Kita seperti diapit oleh sejarah dan iman,” tambah Sudarsono, kepala pimpinan rombongan Sekretariat DPRD Kalbar
Museum Gratis Terbuka Untuk Semua
Subhan menegaskan bahwa museumnya terbuka untuk umum tanpa biaya. "Syaratnya hanya satu: beri tahu kami sebelumnya. Kami bukan institusi formal, tapi rumah ini selalu siap menyambut siapa pun yang ingin belajar," ujarnya.
Pengunjung cukup menghubungi keluarga besar Haji Subhan di rumah sebelah museum, dan pintu sejarah pun akan dibuka lebar. Dan di tengah gempuran modernitas, Museum Khazanah Melayu Haji Subhan Nur tetap tegak sebagai oase yang merawat identitas.
Bagi yang ingin berkunjung, silakan menghubungi keluarga Haji Subhan Nur di Jalan Kesultanan Sambas, Kalimantan Barat. Museum buka setiap hari dengan perjanjian.(**)
Editor : A'an