Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengungkapkan duka mendalam atas wafatnya mantan Perdana Menteri Malaysia ke-5, Tun Abdullah bin Ahmad Badawi.
RAMSES TOBING, Pontianak
UNGKAPAN belasungkawa itu disampaikan secara langsung saat menghadiri pembukaan Buku Takziah di Konsulat Malaysia, Jalan Perdana, Pontianak, pada Kamis (17/4/2025).
“Atas nama Pemerintah Provinsi dan masyarakat Kalimantan Barat, saya menyampaikan belasungkawa yang sebesar-besarnya. Semoga almarhum Tun Abdullah diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta diampuni segala dosanya,” tutur Norsan dengan nada penuh empati.
Ia juga menyampaikan simpati kepada seluruh warga Malaysia atas kepergian salah satu tokoh penting dalam sejarah kepemimpinan negeri jiran. Sosok yang dikenal dengan panggilan akrab “Pak Lah” itu menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia dari 2003 hingga 2009 dan dikenal luas karena dedikasinya dalam pengembangan sumber daya manusia, yang membuatnya dijuluki Bapak Pembangunan Modal Insan.
Selain menyampaikan duka cita, Norsan memanfaatkan kunjungannya ke Konsulat Malaysia untuk membahas upaya meningkatkan konektivitas antarnegara. Salah satu topik penting yang disorot adalah rencana pembukaan kembali jalur penerbangan internasional dari Pontianak menuju Kuching, Sarawak.
“Kami sedang mengupayakan agar Bandara Supadio kembali berstatus internasional. Kami sudah berkomunikasi dengan Konsulat Malaysia, Pemerintah Sarawak, hingga Gubernur Datuk Abang Juhari. Mereka sangat terbuka terhadap rencana ini,” ungkapnya.
Gubernur Kalbar juga menyebut bahwa dukungan dari Malaysia sudah kuat. Saat ini, yang dibutuhkan adalah tindak lanjut dan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan RI agar rute tersebut mendapat izin resmi.
Tak hanya Kuching, Norsan juga berharap penerbangan Pontianak–Kuala Lumpur bisa diaktifkan kembali dalam waktu dekat oleh maskapai yang tersedia.
“Ini bukan sekadar soal penerbangan. Ini adalah tentang membuka akses masyarakat, memperkuat kerja sama, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Kalbar. Karena itu, pembukaan kembali jalur internasional menjadi salah satu prioritas utama kami,” tegasnya.
Walau belum menentukan waktu pasti, ia memastikan bahwa upaya ini akan terus dikawal demi terwujudnya hubungan yang lebih erat antara Kalimantan Barat dan Malaysia. (*)
Editor : Miftahul Khair