Jumbo ada di ”nadi semua orang” karena visual tokoh-tokohnya mudah diidentifikasi oleh penonton, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, serta karakternya natural. Sutradara Ryan Adriandhy tak jadi merilis versi 12 menit lebih panjang.
SHAFA NADIA, Jakarta
PONTIANAK POST - Angka demi angka, data demi data, yang ditorehkan Jumbo itu masih sulit dipercaya sang sutradara, Ryan Adriandhy. Film animasi terlaris Indonesia serta Asia Tenggara, 6,3 juta penonton dan terus bertambah, diedarkan sampai nun ke Eropa.
”Melihat angka-angka itu, data-data itu, dalam waktu kurang dari sebulan rasanya luar biasa banget. Benar-benar di luar prediksi,” kata Ryan, Selasa (22/4).
Itu belum sisi-sisi lain yang mengharukan. Di Purwokerto, Jawa Tengah, misalnya, sebuah sekolah menyewa 47 angkot untuk mengangkut para pelajar ke bioskop menonton kisah Don dkk.
Ada guru yang juga bercerita di platform X bagaimana murid-muridnya menabung di sistem pencatatan digital sederhana yang dia kembangkan agar bisa menonton Jumbo. Dan, betapa bergembiranya semua anak asuhnya ketika impian mereka terwujud: untuk kali pertama bisa ke bioskop, ragu-ragu membeli popcorn yang mahal, lalu tertawa dan menangis bersama di hadapan sang karakter utama yang berkata, ”Meskipun Don suka di-bully, atau satu dunia ini jahat sama Don, asalkan Oma masih ada di sini, Don pasti kuat.”
Sekitar tiga pekan sejak dirilis pada 31 Maret, Jumbo telah, untuk menyitir soundtrack film yang digarap selama lima tahun itu, ”ada di nadi semua orang.” Anak-anak tak habis-habis menceritakannya. Para orang tua bungah karena buah hati mereka mendapat tontonan berkualitas produksi anak negeri.
”Jumbo disukai karena visual tokoh-tokohnya mudah diidentifikasi oleh penonton, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Karakternya natural, tanpa stilisasi visual yang berlebihan. Pendek kata, aspek visualnya rigid dan detailnya relatif tergarap,” kata dosen Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Kukuh Yudha Karnanta kepada Jawa Pos kemarin (23/4).
Yang Penting Bisa Dinikmati
Diperkirakan film yang melibatkan ratusan kreator dari berbagai daerah di Indonesia tersebut bakal bisa menembus 8 juta penonton. Meski Ryan mengaku tidak pernah menargetkan jumlah.
”Yang penting tuh bisa dinikmati, relate sama penonton, dan punya daya tarik luas dari anak-anak sampai dewasa,” ujar komika pemenang sebuah kompetisi stand-up comedy tersebut.
Baca Juga: Antusiasme Klub Tenis Meja Meningkat Pasca Pembatalan Zona Kalimantan di IPL Youth 2025
Karena itu, ketika kemudian rekor demi rekor dicatat film animasi panjang pertamanya itu, Ryan tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya secara gamblang.
”Ada di titik ini aja aku udah terlalu takjub sama perkembangan jumlah penontonnya,” katanya.
Mimpi Masa Kecil
Premis tentang anak kecil yang dirundung dan memiliki teman dari dunia lain sebagaimana tergambar dalam Jumbo tercetus dari dua rekan Ryan, Irfan Ramli dan Adriano Qalbi. Saat proses pengembangan cerita, Jumbo sempat direncanakan jadi sinema laga.
Namun, batal. Keterbatasan ide Irfan dan Adriano dalam mengembangkan cerita menjadi salah satu alasan lamanya proses produksi. Ryan pun akhirnya memutuskan untuk terjun sebagai penulis.
”Secara teknis, produksi film animasi memang memakan waktu lama karena prosesnya pelik,” ujarnya.
Di mata Kukuh, dengan segala pencapaiannya, termasuk diputar di banyak negara, membuktikan Indonesia dapat kompetitif dalam industri film animasi. Secara teknis, kualitas visual Jumbo sudah amat layak.
”Yang diperlukan adalah dukungan untuk menciptakan ekosistem film animasi yang produktif dan berkelanjutan. Misalnya, memperbanyak lomba/festival-festival film animasi, keterampilan riset yang rigid dalam menentukan karakter, cerita, setting, properti, dan lain-lain,” kata dosen yang terpilih menjadi sepuluh penulis terbaik dalam seleksi program Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025 itu.
Di antara riuh kesuksesan Jumbo, salah satu catatan yang paling banyak disampaikan mereka yang sudah menonton adalah adanya elemen supranatural. Arwah gentayangan digambarkan secara eksplisit hadir dan ”hidup” dalam dunia manusia serta dipahami/didekati dengan cara berpikir mistik juga.
Kukuh menilai, memasukkan unsur ”dunia lain” sebenarnya tidak masalah. Asal, yang penting, bagaimana penghadiran dan penyikapan terhadap yang supernatural itu dalam film. ”Apakah dihadirkan untuk disikapi dengan supernatural juga? Ataukah dihadirkan untuk disikapi secara, katakanlah, rasional, yang lebih memantik penonton untuk berpikir logis,” katanya.
Jumbo, sayangnya, belum lepas dari konvensi horor tradisional Indonesia. ”Tak ada gambaran cara pandang lain terhadap yang supranatural itu,” ujarnya.
Janji Special Show
Dalam sebuah siniar, Ryan berjanji akan menggelar stand-up comedy special show atau open mic jika Jumbo tembus 4 juta penonton. Angka itu sudah jauh terlampaui.
Untuk itu, pria kelahiran Jakarta 34 tahun silam tersebut tengah dalam proses mempersiapkan diri. ”Progresnya udah jalan. Beberapa materi udah aku tulis dan akan diuji di beberapa open mic kecil biar kerasa flow dan responsnya,” ungkapnya.
Terkait rencananya merilis Jumbo versi director’s cut dengan penambahan durasi 12 menit, dia membatalkan. ”Sebab, versi sekarang udah hasil kesepakatan bareng dengan produser dan executive producer. Jadi, aku merasa penting buat menghormati keputusan itu,” paparnya. (*/ttg)
Editor : Hanif