Fransisca Mening tampak asyik memasukan satu persatu manik-manik ke dalam tali. Rupanya, pengrajin asal Putusibau itu akan menyulapnya menjadi sebuah gelang khas dayak yang indah.
Marsita, Pontianak
PONTIANAK POST - Ini dilakukan Fransisca setiap hari selama berjualan di Festival Naik Dango ke-2 di Pontianak pada 25-30 April 2025. "Sambil menunggu pembeli, saya menyempatkan waktu untuk membuat gelang ini," katanya menunjukkan hasil karyanya, Minggu (27/4).
Membuat satu gelang, Mening biasa menghabiskan waktu satu jam bahkan lebih tergantung tingkat kerumitan gelang yang dibuat dan fokus tidaknya sang pengrajin.
Orang Dayak terkenal dalam penggunaan manik-manik sebagai aksesoris atau kelengkapan adatnya. Meski zaman sudah modern, banyak aksesoris pabrikan yang beredar di pasaran, namun manik-manik masih memiliki tempat dihati masyarakat. Kombinasi warna manik-manik yang memesona, dibentuk dengan kreativitas pengrajinnya membuat aksesoris ini tak pernah absen bertengger di lapak-lapak pameran, terutama pameran budaya. "Masih cukup diminati. Apalagi harganya lebih terjangkau dibanding aksesoris lainnya seperti topi, gelang dari kayu resam, mandau dan lainnya," ungkap pemilik Kerawing Galeri ini.
Saat ini, Mening tengah gencar mempromosikan aksesoris yang terbuat dari manik toho. Toho merupakan merek manik-manik Jepang yang sangat populer karena kualitasnya yang sangat baik dan desainnya yang sangat indah. "Manik-manik toho ini kecil, tapi dia rapat. Tidak ada celah, seperti menempel satu sama lain. Ini anyaman orang tua dululah," katanya.
Mening cukup aktif mempromosikan hasil karyanya dalam di berbagai kesempatan. Dari gawai dayak provinsi hingga kabupaten/kota. Tak jarang ia juga mengikuti berbagai kegiatan lainnya bahkan nasional. "Selain memperkenalkan budaya juga memasarkan produk pengrajin-pengrajin Putusibau," katanya.
Selain manik-manik, aksesoris dari kayu resam juga paling diminati. Bahkan menjadi produk unggulan. Hanya saja berbagai tantangan dihadapi para perajin. Selain bahan baku, juga penurunan daya beli.
"Gelang resam bahan dari hutan bukan kayu. Bahan baku yang dekat sudah habis. Sekarang lebih jauh mencarinya. Memakan waktu dan biaya," ungkap Mening.
Menurut Mening, untuk mencari kayu resam ini harus ke hutan-hutan. Membutuhkan waktu satu hingga dua jam perjalanan. Ada yang bisa dilewati dengan speed, ada juga yang hanya bisa jalan kaki. "Resamnya bukan di tepi jalan, resam dalam hutan pohon tinggi besar. Kualitas lebih bagus dan lebih panjang. Tahan bertahun-tahun. Resam kemudian diolah lagi, dipotong ambil isinya, dibelah diraut baru proses penganyaman," ungkapnya.
Pascacovid melanda, penjualan produk kerajinan ini mengalami penurunan. Sementara harga stand di sejumlah pameran lumayan tinggi. Disinilah para pengrajin harus pandai-pandai berinovasi, membaca situasi, dan meningkatkan promosi agar bisa bertahan. "Kalau untuk saya sendiri mungkin cukup jualan di toko saja. Tapi kan kita memikirkan pengrajin lain, bagaimana barang laku dan tetap bisa produksi," katanya.
Baca Juga: Meluaskan Partisipasi Lewat Pelatihan Basket Pelajar Terbesar Kopi Good Day DBL Camp 2025
Pengalaman di beberapa pameran, lanjut Mening produk yang banyak dilirik masyarakat produk dengan kisaran harga ribuan hingga puluhan ribu. Sementara produk lainnya dengan harga ratusan bahkan jutaan jarang disentuh. Kalau pun ada, hanya sedikit yang laku. "Menyiasatinya ya cari untung yang dapat sedikit pun tidak apa," katanya.
Selain stand pameran, mereka juga harus mengeluarkan biaya transportasi, konsumsi dan penginapan selama pameran. Ia pun berharap ini menjadi perhatian pemerintah agar pengrajin tetap bisa berproduksi. Harapan lainnya ini dapat menjadi pertimbangan bagi penyelenggara acara dalam menetapkan harga stand pameran.
Harapan yang sama juga diungkapkan Theresia Tarabun, Pemilik Yuto Gallery. Ia merasakan penurunan daya beli masyarakat sejak tahun lalu. Jumlah produk yang terjual tidak banyak seperti tahun-tahun sebelumnya. "Ia saya rasakan itu sejak tahun lalu ya," kata wanita yang lebih dari 20 tahun berkecimpung di kerajinan pernak-pernik khas dayak ini.
Theresia juga harus terus berinovasi dan menciptakan ide-ide baru dalam desain produk kerajinannya agar tetap bertahan. Seperti pada kerajinan topi misalnya, ia mendesainnya dengan tulisan Borneo ataupun Kalbar. "Biasanya topi hanya dikelilingi manik-manik, saya buat dengan versi tulisan Borneo dan Kalbar," ungkapnya.
Saat ditemui Pontianak Post, ia juga sedang menyelesaikan pesanan bando menggunakan tenun. "Selain manik-manik juga saya bikin bando dari kain tenun," pungkasnya. (mrd)
Editor : Hanif