Bertemu teman baru dari berbagai penjuru Indonesia menjadi salah satu keuntungan mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Seperti yang saya alami ketika mengikuti UKW bersama LPDS yang bekerja sama dengan PT Pegadaian di Kota Surabaya, 6-8 Mei 2025. Salah satu teman yang menarik perhatian saya adalah Stefanus Yoseph Johannis, redaktur dari media VictoryNews Kupang, yang punya perjalanan karier unik di dunia jurnalistik.
IDIL AQSA AKBARY, Surabaya
SAYA menjadi salah satu peserta dari luar Pulau Jawa yang mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Kota Surabaya. Untuk sampai ke Kota Pahlawan, dari Kota Pontianak, saya harus menempuh perjalanan udara selama satu jam 30 menit. Dari bandara Internasional Juanda, kemudian perlu waktu sekitar 30 menit lagi untuk sampai ke hotel yang juga lokasi kegiatan.
UKW yang digelar oleh Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) bersama PT Pegadaian itu, diikuti puluhan peserta dari berbagai media di Indonesia. Selain dari pulau Jawa, Madura, dan Kalimantan, ada pula dari Sulawesi serta Nusa Tenggara.
Tiba di hotel, teman sekamar saya sudah datang lebih dulu. Stefanus Yoseph Johannis atau yang akrab disapa Bang Stefi, menjadi teman satu kamar saya di Hotel Dafam Pacific Caesar Surabaya. Panitia memang memberi jatah satu kamar untuk dua orang. Kami dipasangkan karena sama-sama mengikuti UKW untuk jenjang madya.
Tiba di depan kamar, ia yang membukakan pintu. Senyumnya lebar, menyambut saya dengan dialek khas timur. “Ayo masuk, baru sampai ya,” ucap Bang Stefi mempersilahkan saya masuk ke kamar twin bed di lantai sembilan itu.
Meski lebih senior, ayah tiga anak berusia 52 tahun itu menunjukkan sikap luwes dan mudah akrab. Sejak hari pertama bertemu, kami ngobrol banyak hal. Dari cerita pekerjaan, sampai kehidupan. Dan salah satu hal menarik yang saya dapatkan adalah cerita hidup Bang Stefi yang penuh perjuangan.
Lahir di Kota Kupang, 19 November 1972, perjalanan pendidikan Stefanus Yoseph Johannis dimulai dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Menempuh pendidikan dasar hingga menengah di daerah tersebut, ia kemudian melanjutkan kuliah ke Jakarta di Sekolah Tinggi Perikanan pada 1991-1995.
Karena lulus berstatus D3, Stefi memilih melanjutkan kuliah di jurusan MIPA di UPN Surabaya, agar bisa bergelar S1. Kebetulan di jurusan MIPA juga ada program studi perikanan. Di tengah perkuliahannya, ia juga sempat bekerja di pabrik kerupuk di Sidoarjo. Karena sibuk bekerja, kuliahnya pun tak selesai.
Lalu pada 1998, Stefi pulang ke Kupang dan melamar pekerjaan di PT Nelayan Abadi, sebuah perusahaan ikan yang akhirnya mengarahkannya ke dunia jurnalistik. Ia dialihkan ke unit usaha baru perusahaan itu, sebuah koran cetak bernama NTT Express.
"Saya melamar ke perusahaan itu karena saya kan bidangnya memang di perikanan, tapi kebetulan perusahaan itu baru buka usaha baru, buat koran. Saya malah disuruh bekerja di koran itu, NTT Express, di sana saya mulai belajar jurnalistik dari nol," kenangnya.
Di koran tersebut, ia mulai meliput berita-berita olahraga. Itu memang pilihannya sendiri, yang kebetulan disetujui oleh pimpinan. “Saya meliput di desk olahraga. Karena suka gaya santai, pakai kaus saja, celana pendek, ya saya ajukan ke sana (meliput olahraga). Syukur akhirnya disetujui,” kenangnya.
Sebagai wartawan olahraga di daerah, pengalaman Stefi cukup luas. Event besar pertamanya adalah Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2000 di Surabaya. Tempat dimana ia pernah merantau untuk kuliah, dan bekerja. Liputan event nasional itu ternyata justru menjadi batu loncatan. Sekembalinya ke Kupang, ia langsung diangkat menjadi asisten redaktur. "Ya, namanya di daerah, kalau menonjol sedikit, langsung dinaikkan," ujarnya berseloroh.
Karier jurnalistiknya pun terus berkembang, tidak hanya di NTT Express yang kemudian berganti nama menjadi Harian Kota Kursor, tetapi juga di beberapa media lain. Hingga akhirnya ia bergabung dengan VictoryNews Kupang, tempat ia bekerja hingga saat ini. Selama bertahun-tahun, ia telah meliput berbagai PON, mulai dari tahun 2000, 2004, 2008, hingga yang terbaru PON Aceh-Medan pada 2024 lalu.
Selain karier, Stefi juga berbagi kisah tentang keluarganya. Menikah pada 1997, ia memiliki tiga anak yang kini sudah dewasa. Anak pertamanya bekerja di salah satu bank di NTT, anak kedua di Australia, bekerja di LSM yang mengurus anak yatim dan lansia, sementara anak ketiganya masih kuliah di Gunadarma, Jakarta.
Meski mengaku tak bisa memberikan harta yang banyak untuk keluarganya, Stefi sangat menekankan pentingnya pendidikan. Karena itu, ia ingin semua anaknya sekolah setinggi mungkin. Dan untuk mencapai itu menurutnya tak cukup jika hanya bersekolah di daerah. “Yang paling penting adalah pendidikan yang baik. Saya tidak ingin anak-anak saya mengalami hal yang sama seperti saya, yang hanya lulus D4, dan S1 di NTT. Karena dengan pendidikan yang baik (di luar daerah), kehidupan mereka akan lebih baik,” ujarnya.
Empat hari mengikuti UKW, Bang Stefi berbagi banyak cerita, tentang dunia jurnalistik di Kupang. Tentang masa kecilnya yang nomaden, karena ayahnya seorang polisi. Kemudian filosofi hidupnya yang sederhana, yaitu membangun pertemanan tanpa batas. "Seribu teman tidak cukup, satu musuh terlalu banyak. Jadi pertemanan harus terus diperluas," ujarnya.
Kini UKW telah usai, kami berdua dinyatakan kompeten menyandang gelar wartawan madya. Tapi kenangan tentang pertemanan baru, dan semangat belajar yang Bang Stefi tebarkan di ruang pelatihan itu, akan terus dikenang. Seperti pena yang ia genggam, tak pernah lelah menulis asa. Bang Stefi pun kembali ke Kupang, dengan harapan, tiga tahun lagi, ia bisa mengikuti ujian naik jenjang ke wartawan utama.**
Editor : Miftahul Khair