Sinar matahari pagi belum terlalu menyengat ketika Ahmad (45), seorang petani dari Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya mulai bergerak di tengah sawahnya. Dengan langkah yang mantap dan tangan yang sudah terbiasa menghadapi lumpur serta rumpun padi, ia menelusuri jalur sempit di antara barisan tanaman yang hijau menghampar. Seperti apa garapannya?
DENY HAMDANI, Kubu
SEKITAR tiga hektar lahan menjadi tanggung jawabnya setiap hari. Di sanalah ia membajak, menanam, merawat, hingga akhirnya memanen. Bukan hanya padi, tetapi juga aneka sayuran dan buah-buahan lokal yang ia tanam secara berdampingan. Sebuah strategi cerdas untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Namun, ada nuansa lain dalam rutinitas Ahmad kali ini. Tanggal 21 Juni akan tiba sebentar lagi yang dirayakan dengan Hari Krida Pertanian, momentum nasional yang tak sekadar angka di kalender. Bagi Ahmad, hari ini adalah pengingat bahwa ia bagian dari perjuangan besar bangsa: menjaga ketahanan pangan.
Jika kita melacak lebih jauh, Hari Krida Pertanian memiliki akar sejarah yang kuat. Ia bermula pada Konferensi Nasional Pertanian ke-2 yang digelar di Bogor tahun 1960. Di sana, para petani, pemimpin daerah, hingga ilmuwan berkumpul untuk mencari solusi atas tantangan pertanian saat itu—modernisasi, produktivitas, hingga distribusi hasil panen.
Dari konferensi itulah, tanggal 21 Juni 1961 ditetapkan sebagai Hari Tani Nasional. Dipilih karena merupakan hari di mana Kementerian Pertanian pertama kali diresmikan pada 1946—masa-masa sulit pasca-kemerdekaan, ketika makanan adalah barang langka.
Baru pada tahun 1972, Presiden Soeharto mencanangkan Hari Tani Nasional sebagai Hari Krida Pertanian. Perubahan istilah ini menegaskan semangat perjuangan dan prestasi para petani dalam membangun ketahanan pangan nasional.
Kembali ke Ahmad. Di bawah langit yang mulai cerah, ia duduk sejenak di tepi saluran irigasi. Wajahnya tampak lelah, tapi senyumnya hangat. Ia tidak pernah ikut upacara atau seminar saat Hari Krida Pertanian diperingati. Namun, bagi dia, makna hari ini sangat nyata.
“Setiap hari kami bekerja untuk memberi makan orang banyak. Jadi, ketika ada hari khusus untuk petani, rasanya seperti diingatkan lagi bahwa apa yang kami lakukan itu penting," kata dia.
Ia pun bercerita tentang masa-masa sulit. Hujan yang tidak menentu, harga pupuk naik turun, serangan hama yang kadang membuat hasil panen jauh dari harapan. “Tapi kalau lihat padi tumbuh subur begini,” ujarnya sambil menunjuk sawahnya. "Rasa capek itu hilang sendiri," sambungnya.
Peringatan Hari Krida Pertanian tentu bukan hanya soal seremonial. Ini adalah saat untuk mengingat dan menghargai kerja keras para petani seperti Ahmad. Mereka adalah garda terdepan dalam memastikan ketahanan pangan, bahkan ketika mereka jarang mendapat apresiasi yang cukup.
“Kalau bukan dari kita, siapa lagi yang akan peduli dengan nasib petani?” kata Ahmad sambil tersenyum getir. Ia berharap suatu hari nanti, anak-anak desa tidak malu menjadi petani. Bahkan, bisa bangga karena profesinya menjadi tulang punggung negara.
Pada akhirnya, Hari Krida Pertanian harus menjadi refleksi bersama. Apakah semua sudah cukup peduli pada nasib petani? Apakah kebijakan pemerintah sudah cukup pro kepada mereka? Dan paling penting, apakah semua, sebagai masyarakat udah menjaga nilai-nilai yang dibawa para petani. Kesabaran, ketekunan, dan kecintaan pada tanah air,
Ahmad kembali berdiri. Langkahnya kembali menuju sawah, tempat ia akan terus berjuang. Di sinilah sebenarnya perayaan Hari Krida Pertanian yang sesungguhnya. Di antara deretan padi, di tangan-tangan yang tak pernah berhenti bekerja, dan di hati para petani yang masih percaya bahwa dari tanah lahirlah harapan. (*)
Editor : Miftahul Khair