Di ujung barat Pulau Kalimantan, laut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar). Dari gelombang Samudra Hindia hingga aliran sungai besar yang bermuara ke laut, sumber daya maritim ini telah memberi nafkah bagi ribuan keluarga nelayan selama berabad-abad. Namun, di tengah ancaman pencemaran dan eksploitasi berlebihan, kisah pejuang laut seperti Joni hadir sebagai harapan. Seperti apa ?
DENY HAMDANI, Pontianak
Kalimantan Barat memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 600 kilometer, membentang dari Kabupaten Kayong Utara hingga Kabupaten Sambas yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Wilayah pesisir ini kaya akan ikan, rumput laut, mangrove, hingga potensi wisata bahari seperti pulau-pulau kecil eksotis seperti Pulau Randayan dan Pulau Lemukutan.
Namun, kekayaan itu kini di ambang risiko. Sampah plastik, penangkapan ikan ilegal, abrasi pesisir, pertikaian nelayan beda wilayah di laut dan lainya menjadi tantangan serius. Di beberapa wilayah di Indonesia meski mampu ditekan, terumbu karang rusak akibat bom ikan, sedangkan daerah muara sungai mulai tercemar limbah domestik maupun industri.
“Dulu waktu kecil, air laut masih jernih, ikan banyak. Sekarang, kalau tidak sabar dan teliti, bisa pulang tanpa hasil,” kata Joni, seorang nelayan tradisional di Kubu Raya.
Berbeda dengan banyak nelayan muda yang mulai beralih ke alat tangkap modern, Joni tetap memilih cara tradisional. Ia menggunakan perahu kayu tanpa mesin, jaring selektif, dan tali panjang untuk mancing dasar. Selain itu, ia rutin membersihkan jalur sungai dan pesisir dari sampah plastik sebelum melaut.
“Kita harus hormat sama laut. Dia bisa kasih rezeki, tapi juga bisa murka. Makanya saya selalu ajarkan ke anak-anak di desa supaya tidak buang sampah sembarangan,” ujar Joni.
Yang unik dari Kalimantan Barat adalah kekayaan budaya maritimnya. Masyarakat suku Melayu dan Dayak di pesisir memiliki ritual laut, lagu-lagu tradisional, hingga perahu-perahu ukir yang sarat makna spiritual. Sayangnya, generasi muda kini mulai meninggalkan tradisi tersebut. "Anak-anak lebih tertarik kerja di kota. Padahal, laut kita ini menyimpan banyak cerita. Cerita tentang nenek moyang yang hidup harmonis dengan alam,” tutur Joni.
Dan hampir setiap pagi, Joni tidak hanya membawa jaring untuk menangkap ikan, tetapi juga kantong plastik besar untuk mengumpulkan sampah yang ditemukannya di laut dan sungai.
Dengan perahu kayu sederhana peninggalan ayahnya, ia menyusuri aliran sungai hingga muara, membersihkan rerimbunan tanaman air yang tercemar plastik, sekaligus memastikan hasil tangkapannya tidak merusak ekosistem.
Untuk menjaga warisan itu, ia bersama komunitas lokal lama mencatat dan mendokumentasikan cerita-cerita lisan para nelayan tua. Mereka biasanya di waktu sengang mengajak anak-anak berusia pelajar belajar langsung ke lapangan, naik perahu, melihat proses menangkap ikan secara tradisional, hingga membersihkan laut, muara laut dan sungai serta pantai.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memang dalam beberapa tahun terakhir mulai gencar melakukan rehabilitasi mangrove, pengawasan penangkapan ikan ilegal, serta pengembangan ekowisata pesisir.
Namun, upaya itu tidak cukup jika tidak didukung oleh partisipasi masyarakat. “Kami percaya, perubahan dimulai dari hal-hal kecil. Seperti membersihkan satu sudut pantai, atau menolak membeli ikan dari penangkapan ilegal,” ucap Joni.
Ia juga berharap, momentum Hari Kelautan Nasional kali ini menjadi awal kesadaran baru bahwa laut Kalbar bukan hanya aset ekonomi, tapi juga bagian dari identitas dan harga diri bangsa.
“Laut kita sedang sakit. Tapi belum terlambat untuk menyembuhkannya. Mari kita rawat bersama, sebelum semua hilang,” pesan Joni.
Sekecil apa pun langkahmu, apakah itu memilah sampah, memilih ikan hasil tangkapan ramah lingkungan, atau sekadar tidak membuang sampah ke sungai—itu semua adalah bentuk cinta kepada laut Indonesia, khususnya laut di Kalimantan Barat.
Pesan Penting Hari Kelautan Nasional
Hari Kelautan Nasional diperingati setiap 2 Juli sebagai momen penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi dan pentingnya laut Indonesia. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan laut yang luar biasa, sekaligus tanggung jawab besar untuk menjaganya. Lantas, bagaimana asal usul Hari Kelautan Nasional, apa tujuannya, dan bagaimana cara masyarakat bisa ikut merayakannya?
Peringatan ini memiliki akar sejarah yang kuat dalam kesadaran akan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan wilayah laut yang sangat luas dan kekayaan maritim yang melimpah. Secara luas, penetapan tanggal 2 Juli sebagai Hari Kelautan Nasional sering kali dikaitkan dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1972.
Banyak sumber, termasuk beberapa situs pemerintah daerah seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo dan Radio Republik Indonesia (RRI), menyebutkan bahwa penetapan ini dilakukan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1972. Peringatan pertama disebut-sebut telah dilaksanakan pada 2 Juli 1972. Tujuan utama penetapan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya laut, menjaga kelestariannya, dan memanfaatkan potensi maritim secara berkelanjutan.
Tujuan Peringatan Hari Laut
Peringatan Hari Kelautan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sumber daya laut dan ekosistem pesisir, Mendorong pengelolaan laut secara berkelanjutan, termasuk perlindungan terhadap terumbu karang, mangrove, dan biota laut lainnya.
Di sisi lain juga berperan menguatkan peran masyarakat pesisir dan nelayan dalam pembangunan nasional. Menumbuhkan kembali budaya maritim Indonesia yang mulai tergerus modernisasi, mendorong inovasi di sektor kelautan, baik dalam teknologi tangkap, akuakultur, hingga bioteknologi laut.
Cara Merayakan Hari Kelautan Nasional
Peringatan Hari Kelautan Nasional biasanya diisi dengan berbagai kegiatan, baik yang bersifat edukatif, sosial, maupun kampanye lingkungan. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk ikut memperingatinya.
Misalnya aksi bersih-bersih pantai dan laut, yang kerap dilakukan oleh komunitas lingkungan dan pelajar, webinar atau diskusi publik tentang isu-isu kemaritiman, seperti sampah laut, perubahan iklim, dan hak-hak nelayan, kegiatan edukasi untuk anak-anak, seperti lomba mewarnai, menulis, atau membuat karya seni bertema laut, kampanye di media sosial, dengan menyebarkan pesan-pesan ajakan untuk mencintai dan menjaga laut dan kunjungan ke institusi kelautan, seperti museum bahari, pusat riset kelautan, atau taman laut nasional. (**)
Editor : Miftahul Khair