Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Di Balik Tragedi Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya: Musibah yang Mengungkap Boroknya Manifes

Hanif PP • Minggu, 6 Juli 2025 | 10:41 WIB
PENCARIAN: Kapal Tim SAR yang terlibat dalam pencarian korban hilang tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, kemarin.
PENCARIAN: Kapal Tim SAR yang terlibat dalam pencarian korban hilang tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, kemarin.

Dari tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, terungkap bahwa baik korban meninggal maupun yang selamat dan telah terevakuasi, sejumlah di antaranya tidak masuk manifes. Ada pula korban yang nama dan alamatnya tak sesuai KTP.

BASIR, Jembrana-FREDY RIZKI, Banyuwangi


PONTIANK POST - Rani Komala Sari dan sang putra Fahmi Rashyid awalnya lega ketika melihat manifes penumpang KMP Tunu Pratama Jaya di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali. Sebab, nama Putri Permatasari, sang calon menantu, tidak ada di sana.

Namun, ibunda Putri dari Banyuwangi, Jawa Timur, menelpon Rani dan meyakinkan dia kalau travel yang dinaiki sang anak ada di dalam kapal yang tenggelam di Selat Bali pada Rabu (2/7) tengah malam itu. Putri menaiki travel itu dari kampung asalnya di Rogojampi, Banyuwangi, untuk mengambil dokumen pelengkap sebagai syarat pernikahannya dengan Rashyid di KUA Jimbaran, Badung.

“Saya juga menghubungi pemilik travel di Banyuwangi dan dia memastikan juga bahwa penumpang travel atas nama Putri merupakan penumpang perempuan satu-satunya,” katanya.

Putri bukan satu-satunya nama korban yang hilang dari manifes. Musibah di Selat Bali ini seperti membuka kembali borok lama: betapa masih kacaunya pendataan penumpang transportasi laut, dalam kasus ini di kedua sisi Selat Bali: Gilimanuk, Jembrana, Bali; dan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.

Data resmi menyebut ada 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan di kapal nahas tersebut. Tapi, bahkan dari enam korban meninggal yang sudah ditemukan sampai dengan, kemarin, hanya Eko Sastriyo yang terdaftar dalam manifes. Begitu juga mereka yang selamat dan telah dievakuasi, banyak yang tidak masuk daftar resmi.

Telah lama kekacauan manifes ini disuarakan, tapi masih saja terjadi. Pada Mei lalu misalnya, Kapolres Jembrana AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati menyorotinya dalam sebuah rapat koordinasi. “Kami harapkan semua pihak dapat bersinergi dan bertindak tegas terhadap data manifes yang tidak valid, agar potensi gangguan dapat diminimalisir,” ujarnya.

Senada, Ketua DPC Gapasdap (Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan) Banyuwangi Nurjatim mengatakan, ada kemungkinan terdapat sejumlah penumpang yang tidak tercatat dalam manifes, terutama mereka yang berada di dalam kendaraan travel.

“Saya kerap menyampaikan, masalah ini kepada pihak ASDP, semua penumpang harus terdata,” katanya Kamis (2/7) lalu.

Yang kerap terjadi selama ini, bus atau travel tidak melaporkan semua penumpang mereka agar cepat prosesnya. Ini dikarenakan, untuk penumpang semua jenis kendaraan, tiket dihitung berdasarkan golongan apa kendaraan yang dipakai, bukan per penumpang. Tiket per penumpang hanya dikenakan kepada mereka yang tidak membawa kendaraan.

Sopir atau kondektur bus seharusnya menyerahkan KTP semua penumpang dan penjual tiket seharusnya mencatat semuanya. Tapi, dari pantauan di lapangan selama ini, itu tidak dilakukan.

 

Tak Sesuai KTP

Hanya beberapa nama penumpang bus yang disetorkan, itu pun kadang bukan nama lengkap sesuai KTP. Itulah yang kemudian dicatat si penjual tiket tanpa dihitung ulang. Dan, petugas ASDP juga hanya mengecek tiket, bukan jumlah penumpang.

Bukan hanya penulisan nama yang kerap tidak sesuai KTP, alamat pun demikian. Kasus Dewa Gede Yadnya Putra, 48, contohnya.

“Di daftar penumpang ada namanya, tapi tidak ditulis lengkap,” kata Ni Luh Sri Devi Mariani, 25, menantu sopir truk pengangkut pakan ternak asal Gianyar, saat ditemui di Pelabuhan Gilimanuk, kemarin.

Di manifes hanya ditulis Dewa Gede asal Pasuruan, Jawa Timur. Karena sempat berkomunikasi sebelum kapal tenggelam, keluarga pun meyakini kalau Dewa ada di kapal tersebut. Apalagi hanya ada satu nama Dewa Gede di manifes, meskipun tidak ditulis lengkap dan asal juga ditulis dari Pasuruan.

Manajer Usaha ASDP Pelabuhan Gilimanuk Ryan Dewangga mengatakan, pihaknya belum bisa menyampaikan keterangan mengenai peristiwa tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, termasuk mengenai manifes penumpang kapal. “Kami tidak bisa memberi keterangan, konfirmasi berita satu pintu di Cabang Ketapang,” terangnya.

 

Polisi Menyelidiki

Di Ketapang, apa yang dialami Yatini mempertegas sinyal kekacauan manifes. Suaminya, Fauzey bin Awang yang berasal dari Malaysia, ada di dalam kapal nahas itu, tapi namanya tidak ada di dalam manifes.

Keyakinan Yatini dipicu karena travel yang dinaiki sang suami terdata di manifes. Pelat nomornya masih dia ingat betul karena suaminya dijemput di kampung halaman Yatini di Banyuwangi.

Menyikapi pemicu di Selat Bali ini, Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Jawa Timur sudah memeriksa tiga saksi. “Untuk nakhoda dan mualim, semua belum ditemukan,” kata Dirpolairud Polda Jawa Timur Kombespol Arman Asmar Syarifudin.

Dalam proses penyelidikan, lanjut Arman, pihaknya akan melakukan verifikasi data manifes, rekaman CCTV, dan video terkait insiden tersebut. “Untuk manifes nanti mungkin bisa mengarah ke operator dan ASDP, tentang kesesuaian data manifes dengan kondisi riil di lapangan. Untuk angkanya belum bisa memastikan,” katanya.

Sementara itu, di hari ketiga pencarian korban kapal tenggelam di Selat Bali, Sabtu (5/7), tim SAR gabungan tidak menemukan adanya korban di permukaan air. Sampai saat ini, jumlah korban ditemukan selamat 30 orang, enam orang ditemukan meninggal, dan 29 orang korban lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian. (ant/aif/ttg)

Editor : Hanif
#KMP Tunu Pratama Jaya #operasi SAR #basarnas #manifes #kapal tenggelam