Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kisah Zora Konten Kreator asal Ketapang yang tinggal di Turki: Sehari-Hari Komunikasi dengan Bahasa Inggris, Melayu, dan Turki 

Siti Sulbiyah • Sabtu, 19 Juli 2025 | 13:48 WIB
Pasangan beda negara, Zora Fitri asal Ketapang Indonesia dan Tahsin Ozen dari Turki.
Pasangan beda negara, Zora Fitri asal Ketapang Indonesia dan Tahsin Ozen dari Turki.

 

Bagi Zora Fitri (28), Turki menjadi tempat ia menambatkan hati sekaligus membangun lembaran baru kehidupannya. Wanita asal Ketapang, Kalimantan Barat ini dikenal luas sebagai kreator konten yang kerap menghadirkan warna Melayu bersama sang suami, Tahsin Ozen, pria asli Turki. 

SITI SULBIYAH, Pontianak

KEDUANYA kerap disapa Paklong dan Maklong di sosial media. “Aku orang Melayu, jadi makanya aku kasih nama akun aku Maklong dan Paklong,” ujar Zora.

Di Instagram, ia memiliki lebih dari 340 ribu pengikut, sementara akun TikTok-nya, @zorafitri, diikuti oleh 338 ribu orang. Lewat video-video yang kocak, hangat, dan kental nuansa budaya, Zora kerap menghadirkan konten menghibur. 

Sebelum dikenal sebagai selebgram, wanita bernama asli Fitriani adalah seorang mahasiswa jurusan kesehatan di salah satu universitas di Pontianak. Masa mudanya tidaklah mudah.

“Mama dan ayah sudah meninggal sejak aku masih muda, aku menjadi kepala keluarga dan bertanggung jawab untuk adikku,” katanya. Kondisi itu membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

Keinginannya untuk terus belajar membawanya hingga ke Australia, di mana ia sempat mendalami bahasa Inggris. 

Singkat cerita, dunia digital ternyata menjadi panggung sesungguhnya bagi Zora. Di masa-masa awal membuat konten di Instagram, ia sempat dikenal di Ketapang karena konten endorse yang ia buat, dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos dan logat Ketapang.

“Waktu itu pengikutku sekitar 13 ribu. Tapi aku belum benar-benar membuat konten secara konsisten, jadi perlahan-lahan mulai redup.” ujarnya.

Takdir membawa Zora bertemu dengan Tahsin Ozen di Bali, dalam sebuah pertemuan yang tak direncanakan. Dari pertemuan itu, keduanya menjalin komunikasi intens, lalu berlanjut ke pernikahan. 

Adapun yang membuat Zora jatuh hati pada sang suami bukan sekadar penampilan, tapi karakter dan sikap. Sosoknya terlihat serius dan sungguh-sungguh bukan hanya dalam kata-kata tapi juga dalam sikapnya.

“Itu membuat aku merasa dia bukan hanya sekadar pria biasa, tapi seseorang yang benar-benar ingin membangun hubungan yang serius,” katanya.

Setelah menikah, mereka pindah ke Turki. Pada awalnya, Zora sempat merasa hampa. Selama setahun pertama, ia tidak melakukan aktivitas produktif. Padahal, sebagai orang yang terbiasa bekerja dan mandiri, situasi itu membuatnya merasa kehilangan arah. 

Lalu datanglah ide untuk membuat konten. Awalnya seputar edukasi diet dan budaya Turki. Namun lambat laun, ia mulai kembali pada dirinya yang sebenarnya: sosok ceria, spontan, dan penuh canda.

“Aku mulai tampil sebagai diriku sendiri, banyak yang justru merasa terhibur bahkan suamiku pun sangat mendukung dan sering ikut dalam konten. Dari situ semua berkembang sampai sekarang,” tuturnya. 

Zora dan Ozen kerap tampil bersama dalam berbagai konten yang mereka buat. Kebanyakan konten yang mereka buat adalah komedi ringan tentang kehidupan pasangan beda negara. “Kadang juga memperkenalkan makanan khas Indonesia kepada suami,” ujarnya.

Namun lebih dari sekadar hiburan, Zora menyebut bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengedukasi, dan menyebarkan energi positif ke penonton.

Tiga tahun terakhir, Zora menetap di Turki bersama suaminya. Bahasa pun menjadi bagian dari keseharian mereka yang unik. “Kami sehari-hari campur, kadang pakai bahasa Inggris, Melayu, dan Turki,” katanya. Lucunya, Ozen malah lebih lancar bahasa Melayu daripada bahasa Indonesia.

Keluarga Zora, terutama kakak dan adiknya, memberikan dukungan penuh terhadap hubungannya dengan sang suami. Dari pihak keluarga suami pun, ia sempat tinggal bersama ibu mertua selama satu tahun tujuh bulan setelah menikah.

“Itu menjadi masa yang penuh pembelajaran dan proses penyesuaian bagi kami semua,” ujarnya.

Selain berkonten, Zora juga menikmati keseharian di Turki dengan cara yang sederhana seperti menikmati suasana kota, serta berenang saat musim panas. Bersama suaminya, ia juga sering traveling ke beberapa kota di Turki, termasuk berwisata sejarah.

Bagi Zora, perbedaan budaya yang paling mencolok setelah menikah adalah soal makanan. Ia mengaku sempat kesulitan beradaptasi dengan makanan di Turki. Walaupun memang ada beberapa makanan Turki yang disukai, tapi hampir setiap hari tetap masak makanan Indonesia di rumah.

“Bahkan aku pernah menangis karena rindu makan nasi dan masakan Indonesia,” ucapnya. 

Salah satu yang paling ia rindukan adalah makanan khas kampung halaman. Di Turki, tidak ada cencalok, rebung, pekasam, atau ale-ale, semuanya khas Melayu yang sulit ditemukan. 

“Saya bahkan pernah bekal cencalok. Kalau sambal terasi sering bikin stok terasi memang banyak di rumah yang di Turki,” ucapnya. 

Tak hanya itu, ia juga rutin membawa bumbu-bumbu kering dari Indonesia setiap kali pulang, karena menurutnya, bumbu masakan Turki terlalu simpel dan tidak sekompleks bumbu Indonesia yang kaya rempah. *

Editor : Miftahul Khair
#Zora Fitri #kreator konten #Turki #ketapang #suami