Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP) terus berbenah. Tak hanya soal kualitas pendidikan, tetapi juga fasilitas dan pelayanan. Kampus yang dulunya meminjam tanah, kini mampu mendirikan gedung-gedung perkuliahan yang megah di tanah sendiri.
MARSITA RIANDINI, Pontianak
YAYASAN Widya Dharma Pontianak terbentuk pada 12 November 1983. Agustus 1986, penyelengarakan pendidikan Akademi Sekretaris dan Manajemen dimulai. Kampus pertama saat itu masih meminjam tanah Suster SFIC di Gang Palem. Kemudian mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STMIK). Perguruan tinggi yang berpengalaman lebih dari 40 tahun ini digabung menjadi Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP) pada 26 Agustus 2019.
Amandus Ambot, OFMCap, S.Ag., Lic. Theol.,Wakil Ketua Yayasan Widya Dharma Pontianak mengatakan merger ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, efisiensi operasional, dan daya saing perguruan tinggi. Sekarang UWDP memliki 3 fakultas, yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan Prodi Manajemen dan Prodi Akuntansi. Fakultas Teknologi Informasi dengan Prodi Sistem Informasi, Prodi Teknologi Informasi, dan Prodi Bisnis Digital. Kemudian Fakultas Bahasa dengan Prodi Bahasa Inggris dan Prodi Bahasa Mandarin. Ada juga Program Studi Magister/S2 Manajemen.
Setiap tahunnya, lebih dari seribu mahasiswa yang mendaftar. Jumlah mahasiswa pada semester ganjil tercatat sekitar 4000-an, sedangkan pada semester genap sekitar 3000-an. Jumlahnya berkurang karena ada yang wisuda.
"Saat ini kami masih proses penerimaan mahasiswa baru. Tapi rata-rata setiap tahunnya kami menerima seribu lebih mahasiswa," ungkapnya.
Pastor Ambot bersyukur, UWDP masih terus menunjukkan eksistensinya lebih dari empat dekade. Kampus yang dulunya berdiri di tanah pinjaman, kini mampu berkembang bahkan sekarang memiliki enam gedung.
"Kami bersyukur ternyata dulu meminjam tanah untuk bangun gedung kuliah, bisa berkembang dan sudah memiliki enam gedung," ujarnya.
Bahkan, hari ini Sabtu (26/7) kampus yang beralamat di H.O.S Cokroaminoto ini meresmikan Gedung Leopold Mandic, gedung baru setinggi 10 lantai. Pastor Ambot yang juga sebagai Ketua Panitia mengatakan, lantai 1 dan 2 gedung ini digunakan untuk lahan parkir, lantai 3 untuk kantor, lantai 4 dan 5 digunakan untuk laboratorium. Kemudian untuk lantai 6 hingga 9 dengan total 12 ruangan akan digunakan untuk perkuliahan. "Di lantai 10 itu aula," tambahnya.
Peletakan batu pertama gedung dilakukan Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono pada 10 Maret 2022. Rencananya juga akan diresmikan Wali Kota Pontianak.
"Semoga gedung yang kami bangun selama tiga tahun ini dapat difungsikan untuk berbagai kegiatan kampus, terutama kegiatan perkuliahan," paparnya.
Gedung ini, kata Pastor Ambot, bukan hanya menjadi simbol pertumbuhan fisik
kampus yang bagus, tetapi semangat bersama dalam membangun masa depan pendidikan yang lebih bermutu dan berkualitas.
"Tentu juga harus mampu berdaya saing. Bagaimana pun masyarakat akan menentukan pilihan yang lebih baik," paparnya.
Ia berharap, tak hanya meningkat dari segi fisik, tetapi juga kualitas pendidikan dan layanan. Gedung ini dapat menjadi ruang belajar yang baik dan menjadi tempat berkarya yang inovatif bagi warga kampus dan demi kemajuan bersama.
Ke depan, diharapkan kampus ini terus berkembang menjadi universitas skala internasional. "Itu cita-cita kami. Cita-cita kalau diusahakan bukan mustahil untuk kami kejar," pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair