Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengintip Desa Adat Sade di Lombok, Kaji Penguatan Desa Wisata Berbasis Budaya

Idil Aqsa Akbary • Selasa, 5 Agustus 2025 | 09:54 WIB
SONGKET : Kepala Disporapar Kalbar, Windy Prihastari, mencoba alat tenun songket tradisional saat mengunjungi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB.
SONGKET : Kepala Disporapar Kalbar, Windy Prihastari, mencoba alat tenun songket tradisional saat mengunjungi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB.

Desa Adat Sade di Rembitan, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu bukti bahwa kearifan lokal tak hanya bisa dipertahankan, tetapi juga memberi kontribusi nyata terhadap ekonomi masyarakat. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak


PONTIANAK POST - Dalam kunjungan kerjanya meninjau kontingen Kalbar di Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII 2025 NTB, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kalimantan Barat (Kalbar), Windy Prihastari menyempatkan waktu untuk meninjau langsung desa yang menjadi ikon budaya Suku Sasak tersebut.

Kunjungan ke tempat tinggal masyarakat adat Suku Sasak itu bukan sekadar agenda formal. Windy menyebut, kunjungannya ke Desa Sade menjadi bagian dari upaya Disporapar Kalbar untuk belajar langsung bagaimana sebuah desa adat mampu bertahan di tengah arus modernisasi, sekaligus tetap produktif secara ekonomi melalui pengelolaan potensi budaya.

“Yang dilakukan masyarakat Desa Sade sangat inspiratif. Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tapi menjadikannya sebagai sumber penghidupan. Ini yang ingin kami dorong juga di Kalbar,” ujar Windy.

Desa Sade memiliki kekhasan tersendiri. Rumah-rumah adatnya dibangun dari anyaman bambu, beratap alang-alang, dan berlantai campuran tanah liat dan kotoran kerbau. Meski terdengar aneh bagi sebagian orang, justru cara tradisional ini dipercaya mampu menjaga suhu rumah tetap sejuk sekaligus mengusir serangga. Arsitektur semacam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, selain tentunya kekayaan budaya yang masih lestari.

Tradisi ‘Merariq’ atau kawin lari, hingga kerajinan tenun songket, adalah warisan yang terus hidup di desa ini. Aktivitas menenun bukan sekadar pekerjaan bagi perempuan Sasak, tapi juga bagian dari jati diri yang diwariskan sejak usia dini. Setiap helai tenun yang dihasilkan adalah cermin ketekunan, dan kearifan lokal yang telah bertahan lintas generasi.

Windy mengatakan, apa yang dilihat di Desa Sade membuka ruang refleksi sekaligus motivasi bahwa Kalbar pun memiliki potensi serupa. “Kita punya banyak desa dengan kekayaan budaya yang unik, dari Kapuas Hulu, Sintang, hingga Bengkayang. Tinggal bagaimana kita bisa mengemas dan mengangkat potensi itu agar memberi dampak bagi ekonomi lokal,” tuturnya.

Disporapar Kalbar, lanjut Windy, terus berupaya memperkuat desa wisata berbasis budaya di Kalbar. Salah satu fokusnya adalah mengintegrasikan potensi budaya, alam, dan produk ekonomi kreatif yang dimiliki desa-desa, agar menjadi ekosistem wisata yang berkelanjutan.

“Belajar dari Desa Sade, kita tidak perlu menjadi seperti mereka. Tapi semangat menjaga budaya, memberdayakan masyarakat, dan menghidupkan ekonomi lokal itulah yang harus kita adopsi,” tegasnya.

Dengan pendekatan yang tepat, ia optimistis desa-desa di Kalbar bisa menjadi wajah baru pariwisata berbasis budaya yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga membanggakan masyarakat lokal.(*)

Editor : Hanif
#Sade #Contoh Sukses Pelindungan Merek Lokal #Jaga Tradisi #desa wisata #suku sasak #ekonomi warga #Windy prihastari #Desa adat #lombok