Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dari Karung Sobek ke Lagu Kemerdekaan: Cerita Fathur di Bulan Merah Putih

Deny Hamdani • Minggu, 17 Agustus 2025 | 18:31 WIB

 

Perayaan Balap Karung 17 Agustusan di Desa Arang Limbung.
Perayaan Balap Karung 17 Agustusan di Desa Arang Limbung.

Langit Agustus itu biru, seakan sedang ikut berbahagia. Di sebuah lapangan tanah di ujung komplek Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, kain merah putih berkibar kencang, menyapa siapa saja yang datang. Di sanalah riuh tawa pecah, bukan dari panggung megah atau gedung perayaan, melainkan dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak yang larut dalam lomba tujuh belasan.

DENY HAMDANI, SUNGAI RAYA

Bendera merah putih itu berkibar di ujung tiang kayu dicat putih, tinggi, gagah, sekaligus sederhana. Angin sore membelai kainnya, membawa harum tanah kering dan sedikit debu yang beterbangan dari lapangan desa. Di bawahnya, puluhan orang riuh rendah, berdesakan di sekitar garis kapur putih yang memisahkan arena lomba. Anak-anak berlarian, ibu-ibu menenteng botol minuman dan kipas tangan, bapak-bapak sesekali berteriak memberi semangat.

Di tengah keramaian itu, seorang bocah kecil berkulit sawo matang menunggu gilirannya. Fathur, siswa kelas lima SDN 07 Arang Limbung. Tubuhnya ringkih, kaosnya sudah basah oleh keringat, tapi matanya berbinar. Setiap lomba yang dipanggil panitia, ia ingin ikut. Bukan karena hadiah,sebungkus mi instan, sabun mandi, buku sekolah, kadang payung lipat, melainkan karena baginya lomba tujuh belasan adalah pesta paling meriah yang bisa ia jamah.

Ketika tali tambang yang tebal digelar, Fathur ikut masuk ke barisan bocah-bocah seumurannya. Tangannya yang kecil meraba serat kasar tambang itu, menahan perih ketika digenggam. “Satu… dua… tiga!” teriak panitia, dan tubuh-tubuh mungil itu langsung menegang, menarik sekuat tenaga. Tanah kering teraduk, debu membumbung, sorak sorai orang dewasa pecah seperti gelombang pasang.

Fathur sempat terjengkang, pantatnya berdebam ke tanah. Tapi ia bangkit lagi, tak peduli celananya kotor. “Ayo, tarik, tarik!” teriaknya dengan napas putus-putus. Dan saat timnya akhirnya jatuh serempak ke belakang, kalah telak, Fathur justru tertawa paling keras. Kekalahan itu bukan akhir—karena masih ada lomba berikutnya menunggu.

Guli dan Botol Kaca

Arena guli lebih hening, meski tetap tegang. Botol-botol kaca berderet rapi, mulutnya kecil, menunggu bola kelereng mungil dijatuhkan. Fathur jongkok, menahan guli dengan jari yang gemetar. Ia menggigit bibirnya, menahan degup jantung yang terasa lebih kencang dari genderang bedug.

Ketika guli akhirnya jatuh masuk dengan suara “pluk”, seolah bumi ikut bergemuruh. Orang-orang bersorak, beberapa menepuk punggungnya, dan wajah Fathur merekah dengan senyum lebar. Hadiahnya hanya sebungkus permen, tapi ia menggenggamnya seakan baru memenangkan emas olimpiade.

Domino dan Suara Bapak

Sore menjelang, para bapak duduk di tikar panjang di sudut lapangan. Mereka bermain domino, tertawa renyah, sambil sesekali melirik ke arena lomba lain. Di antara mereka ada Ayah Fathur, ketua panitia pelaksana. “Kamu tadi hebat,” katanya tanpa menoleh, tangannya sibuk menata kartu. Fathur hanya tersenyum, lalu duduk bersila, menyaksikan kartu-kartu dibanting dengan suara “plek” yang khas.

Suasana itu sederhana, tapi bagi Fathur, ada rasa aman yang tumbuh. Bahwa merdeka berarti bisa duduk di sebelah ayah, menonton tawa warga, dan tahu bahwa tak ada yang lebih penting dari kebersamaan.

Malam Karaoke dan Lagu Kemerdekaan

Ketika malam tiba, panggung besi mulai ramai. Bohlam putih berjenis LED bergoyang ditiup angin, pengeras suara berderit, dan mikrofon tua berganti tangan. Satu per satu warga naik menyanyi. Ada yang fals, ada yang lantang, ada pula yang malu-malu. Tapi setiap suara disambut tepuk tangan.

Fathur duduk di paling depan, menatap panggung dengan mata berbinar. Lagu kemerdekaan menggema, kadang tercekat, kadang lantang, tapi selalu penuh rasa. Ia ikut bernyanyi pelan, tanpa mikrofon, hanya dengan suara serak seorang anak kecil. Nyanyiannya tenggelam di antara ratusan suara lain, tapi bagi dirinya, itu adalah cara kecil untuk ikut menyapa kemerdekaan.

Besoknya, matahari pagi kembali menyinari lapangan. Lomba balap karung dimulai. Fathur masuk ke dalam karung goni, kainnya gatal dan kaku. Ia melompat, terhuyung, lalu jatuh. Lututnya tergores tanah, tapi ia bangkit lagi. Satu kali jatuh, dua kali bangun. Sampai garis akhir tercapai, meski ia tidak jadi pemenang. “Yang penting sampai,” katanya sambil menyeringai.

Dari tarik tambang yang penuh debu, guli yang jatuh ke botol, suara domino, karaoke sumbang, hingga balap karung yang membuat lutut lecet, semua itu adalah mozaik merdeka di mata seorang bocah kecil. Fathur mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan soal siapa juara, siapa kalah, atau seberapa besar panggungnya. Merdeka adalah tawa yang dibagi ramai-ramai, keringat yang jatuh ke tanah, dan rasa kebersamaan yang tak pernah lekang.

Dan di senyum polos Fathur, anak kelas lima SD itu, kita melihat wajah Indonesia: sederhana, riang, penuh harap, dan selalu percaya bahwa merdeka berarti tidak menyerah.(den)

Editor : Hanif
#merah putih #Berkibar #bendera #17 agustus #lomba tujuh belasan #HUT Ke 80 RI