Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Riuh Tawa di Atas Sungai: Pemuda-Pemudi Menyulam Merdeka Lewat Tepuk Bantal

Deny Hamdani • Selasa, 19 Agustus 2025 | 15:49 WIB
Ilustrasi lomba 17 Agustus. (Pexels/Yaomil Akbar)
Ilustrasi lomba 17 Agustus. (Pexels/Yaomil Akbar)

Air sungai kapuas itu berkilau diterpa matahari siang. Suara gemericik air berpadu dengan teriakan penonton yang berkerumun di tepian. Anak-anak menjejal di pinggir parit, ibu-ibu membawa payung sambil tertawa cekikikan, bapak-bapak duduk berjongkok di tepi jembatan kayu belian. Hari itu, sungai bukan lagi sekadar aliran air, ia menjelma menjadi arena tawa, tempat merayakan Agustus dengan cara yang sederhana, tapi penuh jiwa.

DENY HAMDANI, Sungai Raya

DUA batang kayu bulat besar licin dan panjang dibentangkan melintang di atas sungai. Di atasnya, para pemuda-pemudi kampung duduk berhadapan, masing-masing memegang bantal guling yang sudah dibungkus kain warna-warni. Mereka siap bertarung, bukan dengan amarah, tapi dengan gelak tawa. "Siap ya? Satu… dua… tiga!” seru panitia dari tepi sungai.

Sekejap, bantal melayang, menghantam pundak lawan. Kayu bulat bergoyang hebat. Penonton yang memadati pinggir parit bersorak, suara mereka pecah seperti riak air yang ditimpa batu. Dan ketika seorang pemuda akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tercebur, suara tawa menggelegar, menyebar cepat seperti gelombang. “Byuuurrr!”

Air muncrat ke mana-mana, membasahi penonton di barisan depan. Anak-anak kecil melompat kegirangan. “Kena air! Kena air!” teriak Naufal, bocah kelas dua SD, sambil menepuk-nepuk wajahnya yang basah.

Satu per satu peserta bergantian naik ke kayu bulat. Ada yang garang, ada yang masih kikuk. Bahkan gadis-gadis ikut serta. Mereka tertawa kecil sebelum bantal pertama melayang. Ketika salah satunya jatuh ke sungai, ibu-ibu menjerit bersamaan, tapi hanya sedetik sebelum ikut tertawa terbahak. “Kalau cewek yang main, rasanya lebih seru,” kata Siti, sambil mengelap wajahnya yang basah. “Nggak peduli basah, yang penting ikut rame-rame," lanjutnya.

Di antara kerumunan, ada ibu-ibu yang bersorak paling kencang. “Ayo… pukul lagi! Jangan takut jatuh!” teriak Bu Marni, sambil menepuk-nepuk paha karena tak tahan menahan tawa.

Tak jauh dari situ, seorang pedagang bakso keliling sibuk melayani pembeli sambil sesekali ikut menonton. “Wah, saya jadi nggak sempet ngitung uang kembalian. Tapi nggak apa-apa, lihat mereka jatuh saja sudah bikin hati seneng,” kata Slamet, sambil menuang kuah panas ke mangkok.

Anak-anak yang duduk di tepian pun tak mau kalah. “Aku nanti mau coba juga, tapi takut jatuh!” kata Rina, bocah perempuan berusia sembilan tahun, menutup mulutnya dengan tangan tapi matanya tak lepas dari arena.

Kayu bulat besar bergoyang, air beriak, tawa pecah. Sungai yang biasanya sepi berubah menjadi pusat kehidupan. Bau kuah bakso, teriakan pedagang es lilin, suara pekikan dari pengeras suara, bercampur menjadi harmoni Agustus.

Pak Kadus duduk di kursi plastik, menyaksikan semua dengan senyum lebar. “Tepuk bantal ini warisan lama. Anak-anak muda kita butuh ini—butuh tertawa bersama, jatuh bersama, bangkit bersama. Itu semangat merdeka,” katanya dari bibir sungai Kapuas, Desa Arang Limbung.

Raka, pemuda tanggung yang pertama tercebur, kembali naik ke kayu bulat untuk ronde kedua. Kali ini lawannya lebih besar. Pukulan pertama membuat bambu bergoyang, pukulan kedua membuat Raka jatuh lagi. Tapi ia tertawa paling keras. “Nggak kapok! Besok coba lagi!” katanya sambil menyemburkan air dari mulut. Penonton kembali bertepuk tangan, sebagian berteriak memanggil nama Raka, sebagian lagi menggoda, “Raka jagonya nyemplung!”

Dari tawa anak kecil yang menggema, ibu-ibu yang cekikikan, pedagang yang ikut lupa hitung uang, hingga pemuda-pemudi yang rela basah kuyup, semua itu menjelma makna merdeka di pinggir sungai.

Kemerdekaan tak hanya ada di upacara bendera, tak hanya di pidato panjang. Ia hidup di kayu bulat yang bergoyang, di bantal basah yang terayun, di tubuh yang jatuh lalu tertawa lagi.

Di riak air yang berkilau sore itu, merdeka terasa begitu nyata. Sederhana, meriah, penuh rasa. "Kalau tiap tahun ada tepuk bantal, saya nggak akan pernah bosan. Karena di sini kita semua sama, basah, tertawa, merdeka,” kata Raka, sebelum kembali menceburkan diri, kali ini bukan karena kalah, melainkan karena ingin hanyut dalam tawa bersama yang tak pernah habis. (*)

Editor : Miftahul Khair
#hari kemerdekaan #sungai kapuas #lomba #HUT Ke 80 RI