Di balik layar pembuatan sebuah video berdurasi lima menit, ada cerita tentang kejar-kejaran waktu. Ide yang beradu, hingga ego yang ditekan demi menjaga harmoni. Begitulah pengalaman tim yang ikut ajang QRIS Jelajah Indonesia (QJI) 2025.
PONTIANAK POST - Ajang ini mempertemukan 21 peserta dari tujuh tim. Selama beberapa hari, mereka menjalani misi di tiga daerah: Pontianak, Singkawang, dan Sambas. Setiap titik bukan sekadar lokasi wisata, melainkan panggung edukasi tentang pembayaran digital: dari QRIS, BI-FAST, Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah hingga literasi perlindungan konsumen.
Di Pontianak, peserta ditantang menyelesaikan misi di Tugu Digulis, Keraton Kadriah, dan Rumah Radakng. Pada misi ini, peserta mengedukasi masyarakat tentang QRIS dengan mengisi kuisioner. Misi ini berjalan di hari pertama tanggal 19 Agustus 2025.
Satu hari, para peserta menjalankan tiga misi. Format permainan ini membuat pesan-pesan edukasi tersampaikan dengan cara yang ringan. Setiap pos dilengkapi dengan “clue” yang harus dipecahkan peserta sebelum melangkah ke tantangan berikutnya.
Esok harinya, 20-21 Agustus 2025, para peserta melanjutkan misi empat. Misi dituntaskan di Kota Singkawang. Di misi ini peserta juga mengedukasi masyarakat tentang perlindungan konsumen melalui kuosioner yang sudah disiapkan pertanyaan. Masing-masing tim, minimal mendapatkan 10 orang untuk mengisi kuisioner.
Sebagai tanda sudah selesainya misi ini, peserta mengupload video dengan latar Vihara Sui Kheu Thai Pak Kung. Misi terakhir, berlanjut ke PLBN Aruk, Sambas, 22 Agustus 2025. Di misi ini peserta mengedukasi masyarakat tentang Cinta Bangga Paham Rupiah. Sama halnya dengan setiap misi, para peserta juga mesti mengupload video jika misi sudah tuntas dilakukan.
Salah satu peserta mengungkapkan tantangan terberat ada di misi 1-3. Tantangannya pada waktu. Peserta diminta menyelesaikan video dengan durasi maksimal lima menit. “Sehari bisa tiga misi, bayangkan harus edit enam video dalam waktu singkat,” kata Putra (22), Mahasiswa Fisip Universitas Tanjungpura (Untan).
Putra tergabung dalam tim dengan nama Sora. Nama tim yang diadaptasi dari film sore. Tim ini membangun konsep penjelajah dari masa depan, seperti film sore. Namun Sora juga akronim dari peserta yang tergabung. Selain Putra, ada Juan, dan Sonia.
Menurut Sonia setiap video yang dihasilkan oleh timnya, bagian dari cerita ber-episode. Alurnya disusun agar video saling terhubung, bukan sekadar potongan vlog. "Kami memilih konsep video ber-episode agar setiap misi saling terhubung," kata Sonia (21), Mahasiswa FKIP Untan.
Lain halnya dengan Juan. Bagi Mahasiswa Fakultas Teknik Industri ini ajang ini tidak hanya soal keseruan tetapi banyak pengalaman yang diperoleh. Dirinya menyadari betapa pentingnya membuka wawasan masyarakat agar lebih melek digital. Ternyata, bertransaksi bisa dilakukan dengan cara yang sangat mudah, apalagi hampir semua orang kini sudah memiliki telepon genggam.
Tak berhenti di situ, pengalaman di lapangan juga memberikan ruang untuk menyampaikan pesan lain. Mulai dari perlindungan konsumen hingga kampanye Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Semua itu disampaikan lewat interaksi langsung dengan warga di lokasi misi.
Sedangkan Sonia malah menemukan hal-hal baru di tempat-tempat yang jauh dari pusat kota. Sebagai contoh, di perbatasan Aruk, masyarakat ternyata cukup paham soal QRIS. Sebaliknya, di Pontianak—tepatnya saat kegiatan edukasi di Tugu Digulis—masih banyak warga yang keliru dalam menyebut istilah tersebut.
Lantas bagaimana dengan misi? Menurut Putra, kerjasama tim menjadi kunci penting dalam perjalanan para peserta. Setiap ide tak pernah langsung dijalankan begitu saja, melainkan melalui brainstorming dan diskusi. Mereka terbiasa menyatukan gagasan masing-masing, meski sering kali harus berhadapan dengan jalan buntu. “Dibilang buntu, pasti ada titik buntu,” ujar Putra.
Namun kebuntuan itu tidak membuat langkah mereka berhenti. Dari tiga kepala, selalu lahir lebih dari satu rencana. Ada plan A, ada pula plan B. Jika satu ide tidak bisa masuk, mereka membuka ruang untuk menilai ulang. Setiap anggota ditanya apakah setuju atau tidak, lalu penentuan akhirnya diambil dengan suara terbanyak.
Namun di luar teknis, suasana lapangan memberi warna tersendiri. Panas terik membuat mood mudah turun, suara bising kendaraan kadang merusak rekaman. Kondisi itu sedikit banyak berpengaruh pada fokus peserta.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat Doni Septadijaya, menyebutkan bahwa para peserta akan menjalankan berbagai misi di Pontianak, Singkawang, dan Sambas.
“Masing-masing tim beranggotakan tiga orang, sehingga total ada 21 peserta yang siap turun langsung mengedukasi masyarakat tentang transaksi digital,” ujar Doni.
Kota Pontianak, lokasi kegiatan dipusatkan di Tugu Digulis, Keraton Kadriah, dan Rumah Radakng. Sementara itu, di Singkawang, peserta akan menjalankan misi di Vihara Sui Kheu Thai Pak Kung, dan di Sambas kegiatan berlangsung di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk.
QJI 2025 mengusung tema “Jelajahi Budaya Indonesia, Makin Praktis Pakai QRIS” dan dikemas dalam bentuk kompetisi. Setiap tim ditantang menyelesaikan misi yang mencakup kampanye penggunaan QRIS, promosi budaya lokal, hingga pembuatan konten kreatif di media sosial. Selain QRIS, lomba ini juga mengampanyekan BI-FAST, Kartu Kredit Indonesia (KKI), Elektronifikasi, Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah, hingga program keamanan dan ketahanan siber (KKS). Rangkaian kegiatan akan dibuka pada 16 Agustus 2025 di Kantor Perwakilan BI Kalbar, dan kompetisi berlangsung pada 19–23 Agustus 2025.
Doni menjelaskan bahwa pemilihan lokasi ini bertujuan agar masyarakat semakin melihat bahwa budaya bukan hanya diwariskan secara simbolis, tetapi juga bisa diberdayakan sebagai kekuatan ekonomi baru melalui digitalisasi pembayaran.
“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa transaksi digital bukan hanya praktis dan aman, tetapi juga bisa berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya lokal,” terang Doni. (mse)
Editor : Hanif