Gerakan Semua Orang Pembaharu (Gaharu) dari Ashoka Indonesia mendorongkan kawasan Kampung Yuka Kota Pontianak sebagai hotspot populasi changemaker. Serangkaian pelatihan digelar menjadi langkah sinergi untuk memperkuat kapasitas penggerak, serta mendorong aksi-aksi kolektif agar warga secara aktif mencari solusi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya.
Siti Sulbiyah, Pontianak
Di Kawasan Kampung Yuka, Ashoka bersama Eco Bhinneka Kalimantan Barat, Gemawan, PENA Borneo, Akademi Ide Kalimantan, PPWS, dan PEKKA dan Yayasan Kolase akan menyelenggarakan Pelatihan Penggerak Kampung Yuka untuk memperkuat kapasitas penggerak komunitas, tokoh agama, komunitas orang muda, dan lain sebagainya sebagai motor penggerak perubahan di kawasan.
Ashoka sendiri adalah jejaring kewirausahaan sosial global, menghubungkan sekitar 4.000 fellow di lebih dari 80 negara yang bekerja untuk mewujudkan gagasan mereka mengubah dunia.
Direktur Ashoka Regional Asia Tenggara, Nani Zulminarni, menyebut Pontianak dipilih karena dianggap sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki potensi kuat dalam melahirkan gerakan perubahan sosial.
“Jadi ada perubahan yang sangat besar dalam 10–15 tahun terakhir di Kota Pontianak, terutama dari orang-orang muda. Jadi kita mencari kota-kota yang kita anggap bisa menjadi hotspot dari Indonesia, sebagai contoh Kota Pontianak,” ungkap Nani mengawali Talkshow bertajuk “Gerakan Pembaharu Pontianak: Merajut Aksi Kolektif di Kampung Yuka” yang digelar Rumah Adat Bugis Saoraja Aliri Mpero Pontianak, Selasa (26/8).
Menurutnya, kawasan Yuka dipilih karena sudah lama menjadi lokasi aktivitas pemberdayaan yang dijalankan lembaga-lembaga yang ia dirikan, yakni PEKKA.
"Yuka ini satu kawasan yang cukup kompleks, menantang tapi juga potensial. Kalau berhasil menggerakkan seluruh orang di sini, Yuka bisa menjadi sentra ekonomi, sosial, dan budaya dengan keragaman kultur,” jelasnya.
Nani menjelaskan ada tiga perubahan utama yang diharapkan dari masyarakat Yuka. Pertama, perubahan sikap masyarakat untuk lebih mengedepankan empati. Kedua, kemampuan masyarakat untuk berkolaborasi. Ketiga, kawasan ini lahir inovasi-inovasi sosial, entrepreneurial yang sifatnya memenuhi livelihood dan juga peradaban.
“Jika tiga hal ini terjadi maka dampak ekonominya akan kelihatan,” tambahnya.
Dalam jangka dua tahun, Ashoka menargetkan terbentuknya core team penggerak Yuka yang solid dan terkoneksi dengan berbagai sistem, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, hingga sektor swasta.
"Dua tahun itu waktu yang sangat singkat untuk sebuah perubahan sosial, tapi milestone-nya kita ingin ada tim ini yang solid dan terkoneksi. Karena kalau dalam dua tahun kita gak berhasil ini, itu udah pasti gak berhasil,” kata Nani.
Selama tiga hari pelatihan, yakni 26-28 Agustus 2025, masyarakat Yuka didorong untuk membangun langkah awal melalui pembelajaran dasar kerja tim, pemetaan masalah, hingga penyusunan visi bersama.
“Misalnya, Yuka dikenal sebagai tempat drifting, itu sebetulnya potensi besar kalau dikelola. Di Jepang, Amerika, dan negara besar lainnya drifting itu budaya wisata. Kalau Yuka bisa mengelola ini dan dikaitkan dengan alamnya, saya rasa dahsyat banget,” pungkas Nani.
Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa pengembangan kawasan Yuka harus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi geografis dan potensi masyarakat setempat. Ia menyebut, kunci membangun Yuka sebagai kampung percontohan adalah kolaborasi serta pemberdayaan sesuai kearifan lokal.
“Kita harus bisa hidup mengikuti alam, bukan alam mengikuti kita. Kalau ingin mengembangkan Yuka, potensinya adalah mengajak masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan keterampilan dan menambah pendapatan keluarga,” ujarnya.
Pemerintah Kota Pontianak menurutnya siap berkolaborasi melalui program infrastruktur, air bersih, hingga pemberdayaan ekonomi. Edi menyebut, persoalan legalitas tanah masih menjadi kendala di kawasan Yuka. Meski begitu, ia memastikan pemerintah terus berupaya mencari solusi agar warga memiliki kepastian hukum atas lahan yang ditempati.
Selain itu, Pemkot Pontianak tengah menyiapkan program pengelolaan air limbah, pengembangan kampung kreatif berbasis kearifan lokal, hingga membuka destinasi wisata baru di sekitar kawasan waterfront Yuka.
“Kuncinya adalah kolaborasi. Masyarakat harus diberdayakan sesuai potensi lokalnya, apakah itu melaut, bertani, atau kerajinan. Pemerintah akan memfasilitasi sehingga kampung bisa menjadi destinasi inspiratif,” tambahnya.
Ketua Panitia, Octavia Shinta Aryani, menegaskan bahwa pelatihan bagi penggerak kawasan Yuka lahir dari kebutuhan menjawab tantangan zaman yang serba cepat.
“Pertanyaannya bagaimana menciptakan ekosistem yang dapat memampukan setiap orang agar dapat beradaptasi bahkan bisa berinisiatif melakukan perubahan positif agar kehidupan manusia dan alam dapat terus terjaga,” ujarnya.
Menurut Octavia, Ashoka Indonesia mendorong lahirnya Gerakan Semua Orang Pembaharu (Everyone a Changemaker) melalui Kawasan Gaharu sebagai “hotspot” populasi penggerak perubahan dari berbagai latar belakang.
Pelatihan ini diikuti 25 warga Yuka, termasuk ketua RT, RW, perempuan penggerak, pemuda, hingga pelajar, serta 13 orang dari komunitas penggerak yang akan mendampingi masyarakat secara berkelanjutan.
"Kami sudah melakukan survei awal, dan di Kampung Yuka harapan itu sangat besar karena masyarakatnya masih mau bergotong royong. Itulah kekuatan kami, karena tidak bisa bekerja sendiri, tapi bersama-sama,” kata Octavia.
Rina Kusuma, Manager Ashoka Family Changemaker, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas warga Yuka sekaligus menguatkan jejaring penggerak.
“Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas warga Yuka beserta teman-teman jejaring penggerak yang akan berkolaborasi mendorong perubahan di Yuka ini bisa menjadi lebih baik, lebih hijau, dan warganya lebih aktif terlibat menata kawasan,” kata Rina.
Sesi orientasi diawali dengan pembagian pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta. Selanjutnya tes lanjutan akan dilakukan di akhir kegiatan guna melihat sejauh mana perkembangan pengetahuan dan sikap mereka.
Menurut Rina, pendekatan yang dipakai Ashoka bukan sekadar memberikan keterampilan baru, tetapi menyentuh hati peserta melalui refleksi pengalaman masa lalu.
“Kalau kita gak sentuh hatinya itu pasti akan sulit. Tapi kalau dia tersentuh hatinya, itu akan membawa nuansa berbeda. Kami percaya setiap orang punya pengalaman hidup yang menyimpan nilai kekuatan, meski sering terlupakan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pelatihan ini lebih menekankan pada pembangunan antusiasme dan keterhubungan antarwarga."Investasinya bukan pada keterampilan atau ilmu baru, tapi bagaimana membangun antusiasme dan keterhubungan di kelompok,” tambah Rina.
Rina mengaku optimis dengan semangat kolaborator lokal yang turut mendampingi warga dalam pelatihan ini.
"Support system para penggeraknya di sini udah keren-keren banget. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga mau menemani warga lokal. Tinggal bagaimana warganya sendiri menumbuhkan kekuatan dari dalam,” pungkasnya.**
Editor : Hanif